CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Ranjang yang menjerit


__ADS_3

"Di sini? Ga mau ah!"


"Ga apa-apa, sepi kok."


"Justru sepi aku malu, nanti kedengeran mama sama papa."


"Emang kita mau seribut apa sih sampai kedengeran kamar sebelah?"


Jonathan terus menggoda istrinya. Sejak Jamilah keluar kamar mandi dengan gulungan handuk di kepalanya, radar Jonathan langsung bekerja. Ia terus merapat sembari memberi kode menggunakan kerlingan matanya.


Ini baru malam pertama mereka tidur menginap di rumah peristirahatan keluarga Alex dan Jonathan. Rumah di desa tidak seberapa besar dibanding rumah utama di kota dan jarak kamar cukup berdekatan. Belum lagi suasana sunyi hanya suara katak dan serangga di luar kamar, yang saling bersahutan membuat Jamilah enggan menuruti permintaan suaminya.


Lain halnya dengan Jonathan, setelah menunggu satu minggu yang baginya serasa seabad, tugasnya sebagai suami yang terus tertunda harus terlaksana apapun yang terjadi malam ini. Suasana senyap dan dingin sangat mendukung hasratnya yang telah ia tahan sejak malam pertama pernikahannya.


"Sabar sampai kita kembali ke Jakarta ya," rayu Jamilah.


"Kamu minta aku bersabar lagi? Sudah lebih dari dua minggu, Milah. Aku ga mau tunggu lebih lama lagi. Sekarang ya." Jonathan menarik tali piyama Jamilah yang melingkar di perutnya.


Jamilah membiarkan suaminya itu berbuat semaunya. Ia berusaha menahan suara dan pergerakannga karena kamar yang mereka tempati berdempetan dengan kamar kakaknya. Sedangkan kamar mama dan papa ada di seberang kamar mereka.


Kriieeettt ....


"Siapa itu yang keluar?" bisik Jamilah.


"Ga tau, biarin aja mungkin Hanum mau buat susu untuk Sarayu," ujar Jonathan tak acuh. Ia tidak mau ada sesuatu hal pun menggagalkan keinginannya malam ini.


Blaamm ....


"Itu siapa?" bisik Jamilah lagi sembari menahan tangan Jonathan yang sudah hampir membuka penutup dadanya.


"Tadi 'kan Hanum keluar kamar, pasti itu baru masuk kamar lagi."


"Pak Jo----"


"Mas Jo," protes Jonathan mengangkat kepalanya yang semula terbenam di ceruk leher Jamilah.


"I-iya Mas Jo ... pelan ya," pinta Jamilah.


"Hmmm." Jonathan tak menanggapi serius, ia sedang asyik menikmati sajiannya.


Klontang ...


"Apa itu?" Jamilah terlonjak kaget. Ia berdiri dari ranjang dan mengambil piyamanya yang tersampir di senderan kursi.

__ADS_1


"Biar aja, mungkin tikus," sergah Jonathan mulai kesal. Ia menarik tangan istrinya agar kembali rebah di bawahnya.


"Nanti duluuu, kalau maling gimana?" Jamilah bersikeras. Ia kembali berdiri meski Jonathan sempat berhasil menariknya hingga terjatuh di atas ranjang.


"Milah, di sini itu jauh lebih aman dari kota. Aku kecil sampai remaja tinggal di sini, satu pun maling ga ada yang berani injak halaman rumah Papa."


"Mmmm." Jamilah menurut ketika suaminya menarik tangannya dan memagut bibirnya dengan paksa.


Pyaaarrr ....


"Tuh 'kan, pasti ada sesuatu deh di luar." Jamilah menahan kepala Jonathan yang sudah mulai merambah daerah perutnya.


"Arrgghh! Pasti Hanum!" Jonathan menggeram kesal. Ia berdiri dan menggunakan kembali celana dan kaosnya. Dengan langkah lebar ia keluar kamar dan menuju ke arah sumber suara.


"Mama ... kenapa, Ma?" Langkah Jonathan melambat melihat mamanya di tengah lampu dapur yang temaram, sedang memunguti pecahan gelas.


"Belum tidur? Mama ini tadi mau buat teh jahe karena di sini dingin banget, tapi airnya kepanasan tangan mama ga kuat, pecah deh."


"Hati-hati dong, Ma." Jonathan membantu mamanya mengambil serpihan gelas yang bertebaran sembari melirik gemas pintu kamar Alex dan Hanum yang tertutup rapat.


'Bisa-bisanya mereka ga bangun. Apa ga dengar suara sekeras ini?'


"Udah, kamu masuk aja. Kasihan istrimu sendirian." Mama mendorong punggung Jonathan ke arah kamarnya.


"Itu Mama, mau buat teh jahe gelasnya pecah," jelas Jonathan pasa istrinya. Tak perlu menunggu reaksi dari istrinya, Jonathan langsung menyerang tanpa memberi kesempatan Jamilah untuk menolaknya lagi.


Namun bagi Jonathan semua itu tidaklah penting dan bukan sesuatu hal yang dapat menggagalkan rencananya yang sudah ia susun sejak dua minggu yang lalu.


Senyum kepuasan tercetak jelas di bibir Jonathan. Pukul tiga pagi semuanya sudah tuntas dan entah berapa gelombang yang sudah mereka lakukan.


"Kenapa?" tanya Jonathan ketika melihat wajah istrinya yang kecut.


"Besok pasti malu cuci spreinya. Kenapa tadi ga ganti dulu pakai sprei warna gelap?" sungut Jamilah sembari menggosok-gosok sprei tepat di noda merah yang tercetak di sana.


"Ga usah di cuci, buang aja," ujar Jonathan santai.


"Ngaco aja!"


"Jangan marah-marah dong, ini malam istimewa kita loh." Jonathan tak memepedulikan kemarahan istrinya, hatinya sedang riang gembira sekarang. Ia tetap menahan Jamilah dalam pelukannya. Keduanya akhirnya tertidur hingga menjelang pagi.


"Pagiiii." Jonathan keluar dari kamar dan menyapa anggota keluarganya dengan ceria.


Papa dan Mama sedang duduk di ruang tamu menikmati udara yang masih bersih dengan pintu terbuka lebar. Hanum sedang menyusui Sarayu dengan di dampingi oleh Alex di sebelahnya. Tak ada yang membalas sapaan pagi Jonathan, semua hanya tersenyum tipis dan saling bertukar pandang.

__ADS_1


"Istriku mana, Ma?" tanya Jonathan. Sejak ia membuka mata, ia tidak menemukan Jamilah di sampingnya. Sprei yang bernoda merah itu entah bagaimana sudah tercabut dari ranjang sementara ia masih tertidur diatasnya.


"Jamilah sedang membersihkan bekas pertempuran semalam," sahut Hanum yang menjawab. Mulutnya sejak tadi sudah gatal untuk mengomentari adik iparnya itu.


"Apaan sih."


"Coba lihat di belakang dapur, dia lagi mencoba menghilangkan bukti pembantaianmu semalam," lanjut Hanum. Alex menutup bibir istrinya yang tak mau berhenti mengolok adiknya.


"Mama sudah bilang direndam aja dulu cucinya nanti, tapi sepertinya dia malu ngumpul di sini. Coba kamu lihat Jamilah dulu di dapur," ujar Mama menengahi keduanya.


Sepeninggal Jonathan ke dapur, keempat anggota keluarga itu tak bisa menahan tawa mereka lagi. Jamilah yang berada di dapur semakin menundukan kepalanya mendengar percakapan di ruang tamu.


"Kok jongkok di sini, ayo ke ruang tamu."


"Gak mau, malu aku tuh dari tadi digodain terus." Kedatangan Jonathan menjadikan tempat pelampiasan kekesalan Jamilah.


"Gak apa-apa, wajar itu. Dulu Kak Alex dan Hanum juga digodain. Kamu 'kan sudah tahu keluargaku itu suka bercanda, yuk." Jonathan menggandeng tangan istrinya dan menuntunnya ke arah depan.


"Nah, ini mereka. Jo, nanti siang kamu sama Jamilah ke toko meubel yang di ujung jalan ya," ujar Papa ketika keduanya baru saja bergabung di ruang tamu.


"Mau beli apa, Pa?"


"Ganti ranjangmu, jangan pakai yang lama. Pilih yang kokoh dan tidak bersuara kalau bergerak diatasnya. Papa takut kalian cidera kalau tiba-tiba ambrol ranjang lamamu itu."


"Ah, ga perlu masih bagus itu," sahut Jonathan yang masih belum menyadari arah pembicaraan Papanya.


"Kalau masih bagus, ga mungkin ranjang kalian itu menjerit semalam."


Sontak wajah keduanya merah padam. Jamilah menyalurkan rasa malunya melalui jari tangannya yang mencubit pinggang suaminya.


...❤️🤍...


Detik-detik menuju tamat nih, biar ga jenuh ya. Maaf MP nya Jo dan Milah biasa aja, aku ga bakat nulis yang +++ 🙏🤧


Sambil menunggu up selanjutnya kalian wajib mampir nih di novel temanku ini. Ceritanya dijamin bagus banget 👌


Blurb :


Setelah sama-sama merasakan sakit hati yang paling dalam, Bima dan Renata menata hati mereka, sampai akhirnya, Renata dan Bima kembali menemukan kebahagiaan bersama pasangannya masing-masing.


Namun, takdir ternyata kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.


Lalu, akankah takdir kembali berpihak pada mereka setelah mereka berdua sama-sama merasa kehilangan?

__ADS_1


Yuk, kepoin kisah Bima dan Renata. Seperti biasanya, jangan lupa sedia tisu, karena cerita ini banyak mengandung bawang.



__ADS_2