CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Sakit sekali disini, Om


__ADS_3

Sementara itu sejak berita kehilangan Stella, belum ada yang tahu jika Stella dirawat di sebuah klinik kecil dalam keadaan trauma berat. Hampir genap dua hari Stella tidak sadarkan diri, dan begitu terbangun ia hanya dapat menangis tanpa bisa menjelaskan pada perawat dan dokter asal usul dirinya.


Pihak klinik sudah melaporkan Stella ke kepolisian, sebagai orang hilang yang mengalami pelecehan seksual di hari kedua setelah Stella sadar dan belum bisa memberikan keterangan.


Laporan berita acara yang terbuka di atas meja dengan foto Stella yang terbaring di rumah sakit, membuat Raditya segera melesat ke alamat tempat Stella dirawat.


Raditya memutuskan memeriksa sendiri apakah benar wanita yang terbaring di ranjang klinik, adalah Stella yang ia kenal sebelum ia mengabarkan kepada orang terdekat.


"Wanita itu ditemukan warga dalam keadaan setengah telanjang di jalan buntu. Kondisinya saat ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri, dengan luka lebam di leher dan rahang bawah. Hasil visum ada indikasi pelecehan seksual tapi tidak sampai pemerkosaan. Saat ini korban masih dalam keadaan shock berat dan juga dalam pengobatan gangguan jantung." Mata Raditya terus melihat ke dalam ruang perawatan melalui celah pintu yang terbuka sedikit sementara petugas polisi daerah tempat Stella ditemukan, menjelaskan dengan rinci.


"Gangguan jantung?" Raditya menoleh ke arah bawahannya dengan kening terlipat.


"Benar, Pak. Begitu yang saya dapat infonya dari dokter yang bertanggungjawab," ucap petugas polisi itu tegas.


"Baiklah terima kasih." Raditya menganggukan kepala lalu berbalik dan akan masuk ke dalam ruang perawatan Stella.


Dengan sangat hati-hati Raditya membuka pintu ruang rawat agar tidak menimbulkan suara yang mengagetkan. Stella terbaring lurus dengan kepala menghadap ke langit-langit. Matanya terlihat kosong dan hampa dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Stella," panggil Raditya lembut. Gadis itu tidak bergeming. Seakan tidak terganggu dengan kehadiran seseorang di samping ranjangnya.


"Stella," panggil Raditya sekali lagi. Tangannya menyentuh lembut telapak tangan Stella yang ditusuk jarum infus.


Dengan gerakan terpatah Stella menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Matanya yang semula kosong tampak mulai menyadari seseorang yang ia kenal ada di sampingnya.


"O-om ... polisi?" tanya Stella lemah. Raditya tak mampu menjawab, ia hanya menganggukkan kepala.


Andaikan wanita yang terbaring itu orang yang tidak dikenalnya, pasti ia akan menjalankan tugasnya dengan profesional. Hatinya trenyuh melihat raut wajah dan mata yang selalu berbinar ceria sekarang redup seolah hilang harapan untuk hidup.


"Om bawa pistol?" tanya Stella lagi. Raditya hanya merespon dengan kerutan di keningnya.

__ADS_1


"Tembak aku, Om ... aku pingin mati." Stella berkata lirih. Sebulir air mata jatuh di sudut matanya.


"Stella ... kamu akan baik-baik saja, percaya sama saya. Om akan bawa kamu ke rumah sakit di pusat kota dan bertemu dengan keluargamu, oke?" Raditya berkata dengan sangat pelan bukan sebagai petugas polisi tapi sebagai seorang sahabat.


"Sakiiit, Om," rintih Stella.


"Mana yang sakit, Stella?"


"Di siniii ... sakiiiitttt." Stella meremas baju di bagian dadanya.


"Sabar ya sebentar lagi Om bawa kamu ke tempat yang peralatannya lebih lengkap," ujar Raditya. Stella menggeleng karena Raditya salah mengartikan maksudnya.


Raditya tidak mau menunggu lama, ia segera menemui bagian administrasi dan meminta pelayanan ambulans untuk membawa Stella ke rumah sakit terbesar di kota.


Raditya terus menemani Stella saat berada di dalam ambulans. Berkali-kali Raditya mengingatkan Stella agar tidak banyak bicara dan menangis, karena kondisi gadis itu terlihat semakin lemah.


Begitu sampai di rumah sakit, Stella langsung ditangani dengan layanan nomer satu. Kondisi fisik yang semakin menurun, membuat Stella harus segera mendapatkan perawatan intensif. Tubuhnya di pasang peralatan bantu pernapasan dengan alat rekam jantung yang menempel di dadanya dan terhubung langsung ke layar monitor.


"Pasien mempunyai riwayat gangguan jantung dan kondisinya sedang turun," jelas perawat yang keluar untuk mengambil alat.


Saat masih di klinik, Raditya sudah menghubungi Jonathan agar segera memberi kabar ke keluarga Stella. Saat ini ia sedang menanti kedatangan keluarga Stella dan Jonathan.


Dari jauh Raditya bisa melihat Jonathan berlari sangat cepat membelah pengunjung yang berjalan santai. Sementara di belakangnya sepasang suami istri yang lanjut usia tampak berpegangan tangan juga berusaha berjalan dengan cepat.


"Stella di mana, Om? kondisinya gimana, Om? Dia baik-baik saja 'kan?" Belum sampai tepat di depan Raditya, Jonathan sudah melontarkan pertanyaan beruntun. Raditya belum mau menjawab ia masih menunggu kedua orang tua Stella berjalan mendekat. Begitu semuanya berdiri di sekelilingnya dengan wajah penuh harap, barulah Raditya menejelaskan secara rinci kondisi mental dan fisik Stella.


Kedua orang tua Stella langsung menghambur ke dalam ruang perawatan begitu diijinkan masuk. Jonathan masih mematung dan tertunduk di depan Raditya.


"Kamu ga mau masuk sekalian?" tanya Raditya.

__ADS_1


"Stella hampir di perkosa ... gara-gara aku, Om," ucap Jontahan lirih.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, semua sudah takdir kamu ga sepenuhnya salah, yang penting Stella sudah ketemu dalam keadaan selamat. Dia hanya perlu mendapatkan perawatan ekstra karena punya gangguan jantung dan sepertinya kejadian itu berdampak pada kondisi kesehatannya," tutur Raditya sembari merangkul pundak Jonathan yang tampak layu.


"Harusnya aku tunggu dia sampai selesai, Om." Jonathan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia tidak sampai hati melihat langsung kondisi sahabatnya. Apalagi mengingat beberapa pertemuan terakhir mereka, ia kerap kali menyakiti hati gadis itu.


"Sudaaahh, jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Kamu harus kuat di depan dia."


"Aku ga bisa ketemu dia, a-aku takut." Jonathan menjatuhkan diri dan berjongkok di lantai.


"Jo ... Stella mau ketemu kamu." Belum sempat Raditya menjawab, Papa Stella muncul dari dalam dengan suara datar dan dingin. Jonathan melihat ke arah Raditya seolah meminta pertimbangan.


"Temui dia, dia butuh kamu." Raditya menganggukkan kepala, tangannya menepuk-nepuk bahu Jonathan memberi kekuatan.


...❤️🤍...


Aku bawa cerita bagus lagi



My Sexy Bodyguard I love you


DIA MENOLAK DAN TERUS MENOLAK TAPI PADA AKHIRNYA IA TAK MAMPU MENOLAK PESONA BODYGUARD PRIBADINYA


Seorang gadis bernama Cinta yang berasal dari keluarga yang kaya, mandiri, pintar dan baik hati.


Pada suatu ketika saat orang tuanya hendak tinggal di luar negeri untuk waktu yang agak lama memutuskan untuk memberi anak tunggal seorang bodyguard pribadi.


Cinta menolak dan terus menolak merasa mampu dan tidak membutuhkan seorang bodyguard.

__ADS_1


Tetapi takdir berkata lain akhirnya ia jatuh cinta dan bertekuk lutut pada pesona bodyguardnya


Ikuti kisahnya bagaimana pesona seorang bodyguard bisa mengalahkan beberapa cowok cowok tajir dan ganteng lainnya. bahkan menundukan kedua orang tua Cinta


__ADS_2