
Hanum merasa lelah dengan apa yang terjadi di hidupnya beberapa bulan terakhir ini. Tiap harinya penuh dengan ketegangan dan persaingan. Ia merasa sudah kehilangan jati dirinya, demi menarik perhatian orang lain yang belum tentu melihatnya.
Rasa kesepian itu mengingatkannya pada rumah panti dimana Ibu asuh dan adik-adik panti menerima dirinya apa adanya.
Hanum menarik nafasnya berat lalu menghembuskannya lepas. Ia mengambil ponselnya lalu mencari nomer Ibu Anita, orang tua asuhnya di panti.
Berulang kali ia menekan nomer Ibu asuhnya, tapi selalu terhubung pada layanan kotak suara. Hanum membuka pesan singkat berwarna hijau. Ia semakin bingung saat melihat pesannya pada Ibu Anita yang ia kirim tiga hari yang lalu sama sekali belum terbaca.
Seminggu yang lalu ia mengirim bukti transfer hasil dari pekerjaannya sebagai model produk perawatan kulit. Ibu Anita mengucapkan terima kasih juga mendoakannya dan menanyakan kapan ia pulang.
"Sudah sampai, Mba." Suara sopir taxi online yang ditumpanginya membuyarkan lamunannya.
"Ah, iya. Terima kasih, Pak," ucap Hanum seraya menyerahkan selembar uang berwarna merah.
"Kembaliannya, Mba?" tanya sopir taxi online itu saat Hanum sudah turun dari mobil.
"Ga usah, untuk Bapak aja," ucap Hanum.
Pendapatan Hanum selama menjadi model perawatan kulit hampir setara gaji Manager di kantor Alex, padahal produk tersebut belum resmi dipasarkan.
Hanum memberikan lebih dari separuh penghasilannya pada Ibu Anita untuk keperluan adik-adik pantinya. Sisanya ia gunakan untuk membeli baju, sepatu dan make up guna menunjang kebutuhannya sebagai model yang sedang naik daun. Mbok Jum dan Tini yang selalu membantunya dan menjadi teman paling dekat selama berada di rumah Alex, diam-diam selalu ia berikan bonus tanpa sepengetahuan keluarga Alex.
"Ada masalah, Num?" tanya Caroline yang dari tadi terus memperhatikan dirinya.
"Ibu saya di kampung susah dihubungi. Saya kirim pesan tiga hari yang lalu ga dibaca," keluh Hanum. Matanya tak lepas dari layar ponselnya.
"Kamu mau pulang ke kampungmu?" tawar Caroline.
"Apa boleh?" Hanum memandang Caroline penuh harap. Ia mengerti bahwa jadwalnya satu bulan kedepan sangat padat.
"Boleh, orang tua harus diutamakan. Kamu juga jadi ga tenang kerjanya kalo kepikiran terus."
"Iya, ga biasanya seperti ini."
"Kapan mau pulang? besok?" Hanum mengangguk, "Oke kalau begitu. Semua jadwal kita tunda dulu, tapi jangan lama-lama ya, Num. Grand launching kita sebentar lagi."
...❤...
Berulang kali Hanum melirik Alex yang tampak duduk tenang berhadapan dengan berkas di atas meja kerjanya. Ia ingin meminta ijin pulang ke kampung halaman, tapi bingung bagaimana cara untuk menyampaikan pada suaminya.
Alasan apa yang ia katakan, karena yang Alex dan keluarganya tahu ia adalah seorang anak yatim piatu dan sudah tidak punya sanak saudara satu pun. Memang benar adanya, tapi ia belum memberitahu jika dirinya adalah, salah satu anak panti milik dari Papa Alex. Ia hanya tidak mau jika perbuatannya yang memalukan, berdampak pada keluarganya di panti asuhan.
"Mau ngomong apa?" tanya Alex tiba-tiba. Kepalanya masih tertuju pada lembaran berkas di atas meja. Hanum menelan salivanya, ia merasa suaminya ini punya seribu mata yang bisa mengawasi sekitarnya tanpa harus memandang orangnya.
__ADS_1
Hanum berjalan mendekati meja kerja Alex dan berdiri di depannya, "Anu, aku boleh ga keluar kota?" tanyanya hati-hati.
Alex mengangkat kepalanya, keningnya sedikit berkerut, "Urusan apa, sama siapa, berapa lama?" Alex memberondongnya dengan rangkaian pertanyaan.
"Mmm, pulang kampung, sendirian ... mungkin tiga hari." Hanum menggigit bibirnya resah menanti jawaban Alex.
"Kenapa mendadak?"
Hanum menarik nafas panjang, "Sepertinya ibu saya sakit."
"Bukannya kamu yatim piatu?" Alex memicingkan matanya.
"Iya benar. Maksud saya ibu panti," ucap Hanum pelan.
"Panti asuhan Nirmala?" tebak Alex.
Hanya ada satu panti asuhan di daerah kampung halaman Hanum dan itu milik keluarga Alex. Alex sendiri sebelumnya sudah mengenali Hanum, gadis yang mengacau pertandingan basketnya saat di SMU. Namun ia tidak menyangka jika Hanum adalah salah satu anak panti asuhan milik ayahnya.
Hanum mengangguk pelan. Sudah tidak ada gunanya lagi ia berbohong, apa yang terjadi nanti biarlah terjadi.
"Kenapa kamu ga pernah cerita?" Alex berdiri dari duduknya.
"Aku pikir ga ada pentingnya." Hanum mengangkat bahunya.
"Maaf," sahut Hanum cepat.
"Ada apa dengan Ibu Anita?"
"Aku juga ga tau, dari siang di telpon ga nyambung, pesan ga dibaca sudah tiga hari," keluh Hanum, hatinya terasa sedikit ringan setelah terbuka pada suaminya, "Aku khawatir." Hanum mulai terisak.
"Ga ada orang lain di sana yang bisa kamu hubungi?" Hanum menggeleng pelan.
Di rumah pantinya hanya Ibu Anita yang memegang ponsel. Sedangkan Hanum dulu terlalu cuek dengan tetangga sekitar.
"Besok pagi kita berangkat," ujar Alex.
"Aku bisa berangkat sendiri, Mas Alex ga perlu repot ikut nanti ganggu kerjaan."
"Kalo kamu pergi sendiri, tambah bikin aku repot," sergah Alex seraya naik ke atas ranjang.
Hanum mengikuti langkah suaminya dan naik di sisi ranjang sebelahnya. Alex memiringkan tubuhnya, ia menatap Hanum dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Kenapa?" tanya Hanum tersipu.
__ADS_1
"Seingat aku di rumah panti ada anak yang usianya ga jauh beda dari Jonathan, apa itu kamu?"
Hanum menggeleng bingung, karena ia benar tidak yakin dengan pertanyaan Alex.
"Saat aku kelas enam SD, Mama memberikan semua buku komik milikku ke panti asuhan. Bilangnya ada anak perempuan yang saat itu baru masuk SD, merengek pada Ibu Anita untuk dibelikan buku bacaan."
"Saat itu panti hanya ada satu anak yang baru masuk SD, yang lainnya masih balita. Aku sempat ikut sekali mengantar satu kotak buku bacaan milikku, karena aku juga sempat menolak melepaskan koleksi kesayanganku. Jonathan pun tidak aku perbolehkan menyentuh buku-buku itu, tapi saat aku melihat anak perempuan kecil itu melompat-lompat gembira melihat apa yang aku bawa, akhirnya aku ikhlaskan semua milikku menjadi miliknya."
Hanum membesarkan matanya, "Kotak besar yang ada tulisan Ale, isinya Komik dragon ball?" Alex mengangguk, "Doremon?" Alex kembali mengangguk, "Sinchan, Asterix, Donal Bebek?" Alex mengangguk dan tertawa kecil.
"Iya, jadi anak kecil bener itu kamu?" tanya Alex.
"He ... eh," sahut Hanum tersenyum malu, "Jadi itu semua punya Mas Alex?" Hanum sama sekali tidak menyangka ternyata buku bacaan yang selalu menemaninya sepanjang malam, adalah milik pria yang selalu ia dambakan. Rupanya bukunya lebih dulu menemani dan dipeluknya dibanding pemilik sesungguhnya.
"Iya, masih ada bukunya?"
"Masiiih. Aku tinggal di kamar, masih dalam kotak yang sama," ucap Hanum bangga.
"Anak kecil itu dulu senang banget sampe aku dicium berulang kali," ujar Alex dengan senyum yang menyiratkan sesuatu.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Maaf ya beberapa hari kedepan mungkin lebih lambat update, karena ada acara di luar kota selain itu bagi waktu dengan update cerita yang lainnya, tapi aku selalu usahakan min. 1hari 1 bab 🙏
Yang punya FB yuk ikuti halaman / Page FB : Novel online Aveeii. tapi belum ada isinya sih 🤭😁
__ADS_1