CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Masih bertahan


__ADS_3

"Boleh lihat buku menunya?" Jonathan menengadahkan tangannya saat Jamilah masih melongo menatapnya.


"Panggil pelayan lain, Mas!" Pria mesum itu tidak terima dihalangi Jonathan.


"Maaf Pak. Kalau Bapak mau pesan makan silahkan, tapi kalau Bapak cari wanita penghibur Bapak salah tempat," ujar Jonathan sembari menunjuk beberapa kamera pengawas di sudut ruangan.


Pria mesum itu mendadak pias raut wajahnya lalu dengan menunduk ia langsung berjalan keluar restoran dengan langkah cepat. Jonathan menarik kursi dan duduk di tempat kosong menggantikan pria mesum tadi.


"Pak Jo mau apa kesini?"


"Mau makanlah," sahut Jonathan menyembunyikan kegugupannya.


"Ow, silahkan mau pesan apa, Pak." Jamilah menaruh buku menu di atas meja, "Mmm, terima kasih tadi sudah dibantu," ucap Jamilah pelan.


"Mmm." Jonathan hanya bergumam tak acuh. Ia sibuk membolak-balikan buku menu yang isinya tidak menggugah seleranya.


"Rib eye steak sama orange juice." Jonathan menunjuk menu secara acak.


"Baik, ditunggu Pak."


Mata Jonathan tidak lepas dari semua gerak gerik Jamilah. Berada di dalam restoran rupanya jauh lebih baik dan puas mengamati gadis susunya dari jarak dekat.


Jonathan sedikit kecewa saat yang mengantar pesanannya bukan Jamilah. Ia berusaha menghabiskan steak pesanannya dan akan memesan lagi.


"Milah," panggilnya, saat gadis itu baru saja membersihkan meja di sebelahnya.


"Ada yang bisa dibantu, Pak?"


Bibir Jonathan mengkerut saat Jamilah mengucapkan kalimat formal kepadanya.

__ADS_1


"Mau pesan."


Jonathan sengaja berlama-lama memilih menu, selain agar Jamilah terus berada di dekatnya ia juga sebenarnya sudah sangat kenyang.


"French fries aja, sama ice lemon tea."


Dari tempatnya duduk, Jonathan memperhatikan interaksi Jamilah dengan rekan-rekannya. Gadis itu tampak bahagia dan nyaman. Namun saat seorang pria dari belakang restoran datang dan berbicara pada Jamilah dengan sorot mata berbeda, Jonathan seketika memasang sikap waspada.


"Siapa?" tanyanya saat Jamilah mengantar pesanannya.


"Siapa?" Jamilah balik bertanya. Jonathan mengarahkan pandangannya ke arah pria berkemeja hitam di belakang mesin kasir.


"Pak Reno, Manager restoran ini," ucap Jamilah sembari tersenyum.


"Dia yang buat kamu nyaman kerja di sini?" Nada suara Jonathan mulai terdengar tidak bersahabat.


"Ga juga. Semua teman-teman di sini baik-baik."


"Selamat menikmati, permisi." Jamilah memilih menghindari perdebatan tak berujung dengan mantan atasannya.


Jonathan masih bertahan di tempatnya sampai restoran sepi pengunjung dan hampir tutup.


"Bapak ga pulang?" Jamilah kembali mengantar pesanan Jonathan untuk kesekian kalinya.


"Kamu ga suka saya di sini? jangan khawatir saya bayar kok." Jamilah menarik nafasnya kesal. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat kerja barunya.


"Kamu kenal? dia dari tadi ngelihatin kamu terus, Mil," Pak Reno berbisik di dekat Jamilah.


"Bos saya dulu, Pak."

__ADS_1


"Ow, kamu ada buat salah mungkin. Kok dia lihat kamu sudah kayak mau makan orang."


"Ga ada kok, Pak. Saya dulu keluarnya baik-baik."


Jamilah tidak menyadari Jonathan memperhatikan dirinya yang sedang saling berbisik dengan Manager restorannya.


"Syukurlah kalo gitu, tapi bagus juga dia ordernya banyak sekali. Kamu datangkan rejeki di sini." Pak Reno tersenyum manis, Jamilah pun membalas dengan tawa kecil.


"Milah!" suara Jonathan memanggil dari tempat duduknya. Semuanya menoleh terkejut, untunglah saat itu restoran sudah sepi, hanya beberapa orang menyelesaikan makannya.


Jamilah berlari kecil menghampiri Jonathan, ia takut jika mantan atasannya itu bertingkah yang aneh-aneh, "Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau pesan lagi."


"Tapi restorannya sudah mau tutup, Pak."


Jonathan melirik jam tangannya, rupanya ia sudah empat jam lebih di dalam restoran dan sudah menghabiskan banyak pesanan. Perutnya langsung terasa mual melihat deretan piring dan gelas kosong di atas meja.


"Mmm, jam berapa kamu pulang?"


"Satu jam setelah restoran tutup."


"Jam 11?" Jamilah mengangguk ragu. Di pikirannya sudah terlintas sebuah dugaan.


"Saya tunggu."


"Ada perlu apa ya, Pak?"


"Harus ada perlu ya saya tunggu kamu pulang?"

__ADS_1


Jamilah mengerutkan kening, ia sudah bisa menduga arah pertanyaan Jonathan. Namun sepertinya agak sulit menolak di bawah tatapan rekan kerjanya yang ingin tahu.


...❤🤍...


__ADS_2