
Potongan Bab ke 4
Maura teringat dengan pembicaraan singkat mereka semalam, ia merasa kalau ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu.
"Dia pasti ada masalah. Kasihan Harvey pasti sekarang merasa tertekan dan sendirian."
Maura memutuskan mendatangi apartement Harvey yang tak jauh dari kampus mereka. Apartement sederhana yang digunakan Harvey jika banyak menghabiskan waktu di kampus.
Setengah berlari, Maura sampai di apartement yang rencananya akan mereka tinggali setelah menikah nanti. Bukan hal sulit bagi Maura untuk dapat masuk ke dalam apartment yang sehari-harinya ia habiskan bersama kekasihnya.
Pintu berkode itu langsung terbuka begitu Maura menekan lima angka yang ia hafal di luar kepala. Langkahnya terhenti saat kakinya terhantuk sepasang sepatu wanita dan itu bukan miliknya.
"Harvey," panggil Maura lirih hampir tidak terdengar. Kakinya terus maju dengan langkah menyeret. Meski ruangan apartment itu masih gelap gulita tanpa penerangan, Maura hafal tiap sudutnya.
Tangannya menggapai pegangan pintu kamar Harvey dengan gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangannya, ketika bersentuhan dengan dinginnya pegangan pintu.
__ADS_1
Tepat saat itu pintu kamar terbuka, "Maura?" seru Harvey terkejut. Maura tak kalah terkejut lagi, ia mendapati kekasihnya bertelanjang dada dan tubuh bagian bawah yang tertutup oleh pakaian dalam saja.
"Siapa Harveeeyy?" Suara di dalam kamar memanggil dengan suara sengau.
"Si---"
"Ssstt." Belum tuntas pertanyaan Maura, tangan kekasihnya menutup mulutnya, "Bukan siapa-siapa, tidurlah lagi aku ambilkan minum untukmu," seru Harvey pada seseorang di dalam sana.
Tangan Harvey tetap membekap mulut Maura seraya menggiring gadis itu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dekat dapur. Ia tidak mempedulikan mata Maura yang bertanya-tanya siapa dan apa yang terjadi di dalam kamar tadi.
"Kamu kenapa kemari? Kenapa tidak tunggu kabar dariku?" ucap Harvey dengan lirih namun tegas.
"Ssttt, jangan keras-keras. Tunggu aku jelaskan, jangan temui aku dulu untuk sementara waktu. Biar aku yang datang padamu." Sebelah tangan Harvey menutup mulut Maura, sebelah lagi menahan kepalan tangan kekasihnya agar tak memukul dadanya lagi.
"Kenapa tidak sekarang? Aku butuh penjelasan sekarang!" Maura menjerit dengan suara tertahan.
__ADS_1
"Tolong mengerti aku, Sayang. Percaya padaku, cintaku hanya untukmu." Harvey mencoba merayu Maura.
"A-apa yang terjadi pada kalian semalam?" Maura baru menyadari kalau Harvey hanya menggunakan pakaian dalam.
"Ti-tidak ada apa-apa. Sungguh! Kamu harus percaya, kita akan menikah bukan?" Harvey menangkup pipi Maura.
"Ta----"
Ucapan Maura terputus oleh bibir Harvey yang memagut bibirnya dengan panjang dan dalam. Ciuman pertama baginya, karena selama ini Harvey hanya berani sebatas mengecup bibirnya.
"Sekarang pulanglah. Jangan temui dan dekati aku, kalau bukan aku yang datang padamu." Harvey tak membiarkan Maura bertanya lebih lanjut, pria itu menggiring Maura keluar dari apartement lalu mengunci pintunya dari dalam.
Seperti orang bodoh, Maura berdiri di depan pintu kamar apartment Harvey. Ia memegang bibirnya yang baru kali itu merasakan sentuhan lelaki secara intim. Ia merasa ada yang beda dari Harvey, ada hasrat asing dalam ciuman tadi.
...❤️...
__ADS_1
Yang belum mampir, yuuk sudah sampai bab 24 🙏🥰