
Hanum mengalihkan pandangannya ke arah Alex, yang sedang menatapnya penuh dengan emosi. Baru kali ini ia melihat Alex semarah itu, biasanya hanya tatapan tak peduli dan dingin yang ia terima. Namun kali ini, sorot matanya mampu membuat Hanum ingin lari sejauh-jauhnya.
"Cu-cuman mau kasih ini," ucap Hanum terbata, dengan suara yang semakin lama semakin lirih.
"Sudah berapa kali aku bilang padamu, jangan panggil aku mas. Aku bukan siapa-siapamu," ucap Alex dengan penuh penekanan di setiap suku katanya.
"Jangan kamu kira, hanya karena status bisa merubah segalanya. Seharusnya kamu tau diri, sudah untung aku tidak menendangmu keluar dari rumah ... sekarang pergi dari sini!" tambahnya lagi. Alex memang tidak berteriak, tapi kalimat dan tatapannya yang setajam silet dapat merobek jantung Hanum.
Walaupun Alex bersuara pelan, otomatis mereka yang ada di ruangan pasti sudah mendengar karena ruangan yang tadi berdengung, seketika hening saat bos mereka berbicara.
Para jajaran sekretaris direksi termasuk Cimoy, kembali berbisik. Apalagi yang mereka bicarakan kalau bukan dirinya. Malah beberapa, ada yang mengarahkan ponselnya ke arah Hanum. Sudah dipastikan dalam waktu singkat, video dan kabar dirinya yang menyedihkan akan tersiar di semua grup kantor.
"Aku bilang keluar dan pergi dari sini!" Alex kembali menekankan dengan tajam. Matanya sudah tidak memandang Hanum lagi, tapi masih terlihat kilatan kemarahan di sana.
Hanum beringsut mundur tanpa berkata apapun. Ia menguatkan dirinya untuk bisa sampai ke pintu lobby, sebelum terlanjur pingsan.
Ternyata benar dugaannya, berita tentang dirinya dalam waktu sekejap sudah tersebar di hampir semua telinga karyawan kantor. Entah apa yang mereka gosipkan. Saat ia berjalan melintasi koridor ruangan, melewati barisan meja dan berpapasan dengan beberapa karyawan. Semuanya berbisik, tertawa juga menatapnya dengan rasa kasihan dan menghina.
Hanum menarik nafas lega saat sudah berada di halaman kantor. Udara di dalam kantor Alex tadi, sungguh menyesakan dadanya. Hanum segera memesan ojek online setelah itu, ia berencana langsung keluar dari rumah Alex dan melupakan semua impiannya.
Saat menunggu ojek online yang ia pesan, Hanum melirik ke arah safety mirror yang ada di sudut gerbang masuk kantor Alex. (cermin cembung besar yang biasa diletakan di tikungan jalan)
Ia memandangi pantulan dirinya di cermin besar itu. Bentuk tubuh yang tergolong besar, rambut yang kering dan mengembang, wajah yang berminyak dan subur oleh jerawat. Sungguh sangat tidak menarik.
Ia ingat penampilan para sekretaris direksi yang berkumpul di ruangan Alex tadi, seketika rasa rendah diri menyergapnya. Mengapa ia bisa baru sadar sekarang, kalau dirinya sama sekali tidak pantas menjadi pendamping seorang Alexander Putra. Jangankan menjadi seorang pendamping, hanya berdiri di sisi Alex pun ia tidak pantas.
Hanum mengusap pipinya yang berjerawat, terasa kasar dan tidak rata. Bajunya pun sama sekali tidak serasi, ia selalu asal ambil saja dari lemari tanpa melihat kecocokan warna dan model.
Aku sudah memalukan Alex.
Hanum memutuskan untuk melepas penat sebentar di Mall yang dekat dengan kantor Alex.
Ia malas pulang ke rumah Alex, lalu bertemu dengan kedua orang tua Alex juga adiknya yang sangat pedas mulutnya.
Walau tidak memegang uang yang bisa dibelanjakan, lumayanlah mencuci mata dan mengkhayal dapat membeli barang yang dipajang di Mall.
__ADS_1
"Permisi, Mba. Kami ada promo untuk produk baru yang baru launching hari ini. Mungkin Mbanya mau coba?" seorang sales wanita yang cantik mendekatinya.
"E-enggak, Mba," tolak Hanum. Ia berjalan menjauh saat SPG itu akan mengoleskan sesuatu pada tangannya. Bukan ia tidak percaya dengan khasiat produk baru itu, tapi ia takut jika diminta untuk membayar.
"Ga pa-pa, Mba dicoba aja dulu, gratis kok," ucap SPG cantik itu. Mendengar kata gratis, langkah Hanum terhenti. Jiwa wanita mana yang tidak goyah, saat mendengar kata gratis dan diskon di Mall?
"Mmm, boleh coba dulu?" tanya Hanum sedikit gengsi.
"Boleh. Ini paket cream perawatan wajah khusus untuk kulit berminyak dan berjerawat, cocok sekali untuk Mbanya."
"Berapa harganya?" tanya Hanum masih dalam mode gengsi.
"Kami ada promo launching sekarang, Mba. Sepaket harganya jadi 2.500.000 sudah lengkap semuanya, murah kan," sahut SPG itu dengan semangat.
Senyum Hanum langsung lenyap dari wajahnya. Bahkan paket perawatan wajah itu, harganya jauh lebih mahal dari pada biaya kosnya.
"Bagus ya, makasih infonya ya, Mba. Nanti kapan-kapan saya coba," ucap Hanum lalu dengan cepat melesat pergi dari hadapan SPG cantik itu.
Saat baru beberapa langkah menjauh dari booth pameran, ada panggilan yang sepertinya ditujukan pada dirinya.
"Mbaa ... mbaa, tunggu sebentar!"
"Bukan itu," SPG itu terkekeh geli, "Bos saya mau ketemu, Mba." SPG itu menunjuk seorang wanita cantik dan anggun yang berdiri menatap mereka dari jauh.
"Saya??" SPG itu mangangguk dan menggiring Hanum mendekati bosnya.
"Maaf mengganggu waktunya, saya Caroline pemilik brand kosmetik Kamu Cantik." Wanita anggun itu mengulurkan tangan pada Hanum.
"Hanum," ucapnya singkat.
"Mba Hanum, mungkin sudah tahu jika kami baru saja meluncurkan paket perawatan kecantikan, untuk jenis kulit yang sesuai dengan kulit wajah Mba Hanum sekarang."
"Kalau Mba Hanum tidak keberatan, saya ingin meminta Mba sebagai contoh modelnya?"
"Saya??" Hanum tidak mengerti bagaimana wajah seperti dia menjadi model dari produk kecantikan.
__ADS_1
"Iya benar. Kami ingin membuktikan bahwa produk kami ini benar terbukti khasiatnya. Jadi, kami ingin Mba Hanum memakai produk kami ini secara rutin, dan melaporkan kepada kami perubahannya tiap hari."
"Pakai produknya? ... tapi saya ...."
"Kami beri gratis semua rangkaian produknya. Kami juga bekerjasama dengan dokter klinik kecantikan, untuk konsultasi masalah kulit. Mba Hanum ga perlu khawatir, produk kami terjamin aman, dan kami pasti akan memantau tiap perkembangan dari Mba Hanum." Hanum hanya terdiam mendengar penjelasan dari wanita anggun di hadapannya itu.
"Itu juga kalo Mba Hanum mau dan tidak keberatan. Saya ga memak---"
"Saya mau! ... eh, gratis kan, Mba?" tanya Hanum meyakinkan.
"Iya gratis termasuk konsultasi dokter kulit, dan satu lagi Mba sebagai model before after kami, Mba Hanum kami bayar."
"Saya sudah dikasih gratis terus dibayar juga??" Mata Hanum terbelalak. Mimpi apa ia semalam, baru saja mendapat kesialan dalam sekejap berganti kebahagiaan.
"Iya benar. Mari, Mba isi formulir dan surat perjanjiannya dulu." Hanum membaca sekilas, tidak ada point yang merugikannya. Hanya wajahnya mungkin akan terpasang di iklan produk mereka.
"Ini rangkaian produknya, kami akan memantau perkembangan tiap harinya." Caroline menyerahkan paper bag ukuran besar.
"Ini beneran??" tanya Hanum masih belum percaya.
"Benar, Mba. Terima kasih sudah mau menjadi model kami. Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik kedepannya." Caroline kembali mengulurkan tangannya dan Hanum menyambutnya dengan bahagia.
...❤❤...
Ingatkan lagi ya 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
__ADS_1
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰