CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Kekasih Bayangan


__ADS_3

flash back


Raditya memperhatikan dari ujung ranjang pasien. Sekelebat rasa iri hinggap di hatinya. Seumur hidup ia tidak pernah merasa dicintai begitu dalam oleh seorang wanita. Rasa kecewa pada sebuah hubungan, dicampur dengan kesibukannya bekerja, membuatnya tidak punya waktu untuk mengenal lebih dekat dengan seorang wanita.


Sosok Stella sedikit membuatnya berpaling dari kesibukan dunia. Sempat dekat dengan gadis itu, membuat jiwa mudanya kembali bangkit, tapi untuk menjalin hubungan serius jelas masih jauh karena ia dapat melihat besarnya cinta saat Stella menyebut nama Jonathan di setiap percakapannya.


Hari itu saat mengetahui Stella merupakan korban pelecehan seksual, hatinya sebagai seorang kakak merasa geram. Di dukung oleh profesionalisme-nya bekerja, dalam waktu singkat ia dapat meringkus pelaku.


Namun ia kecolongan untuk kedua kalinya. Istri dari pelaku membawa anaknya yang masih kecil datang ke rumah Stella, dan menangis histeris di sana meminta agar tuntutan atas suaminya dicabut membuat Stella kembali mengalami serangan jantung.


"Om ... om." Tangan Stella menggapai Raditya yang masih berdiri di tempatnya setelah Jonathan keluar untuk membeli minuman yang ia inginkan.


"Kenapa Stella?" Raditya mendekat dan menggenggam tangan gadis itu.


"Buku ... buku ungu ... tolong ...." Dengan susah payah Stella mengucapkan kalimatnya. Raditya memandang bingung ke arah orangtua Stella yang masih berada di sana. Mama Stella hanya mampu menganggukan kepala dan berusaha menahan tangisan yang keluar dari mulutnya.


Hanya itu kalimat terakhir yang ia dengar dari Stella. Miris hati Raditya, di saat terakhirnya pun yang ia ingat adalah Jonathan. Setelah itu di detik-detik terakhirnya, Stella sempat memberikan seulas senyum kepadanya dan kedua orangtuanya lalu yang terdengar hanyalah bunyi mesin yang panjang.


flash back selesai


"La ... aku sudah dapat minuman kesukaanmu." Jonathan berjalan mendekat dan berbisik lirih di sisi ranjang Stella. Kedua orangtua Stella masih menangis berpelukan, sementara petugas medis menyelesaikan pekerjaan mereka.


"Laaa ...." Tangan Jonathan bergetar saat menarik kain putih yang menutupi wajah sahabatnya. Air mata yang ia tahan, akhirnya tumpah saat melihat wajah pucat Stella yang sudah tak bernyawa.


"Dia sepertinya ga mau kamu lihat saat dia pergi." Raditya merangkul bahu Jonathan dan membiarkan anak bungsu Pak Beni itu menangis di dadanya.


"Aku memang pria brengsek, Om!" Jonathan meraung di dalam pelukan Raditya.


Pemakaman Stella dilakukan secepatnya dengan dihadiri oleh keluarga besar Jonathan dan teman-teman terdekatnya.


Kepergian Stella selamanya juga sampai di telinga Jamilah. Ada rasa lega di hatinya karena sudah tidak bersikap egois di saat terakhir Stella. Diam-diam Jamilah sering pergi ke pemakaman Stella dan melihat Jonathan ada di sana, menangis tersedu-sedu semakin membuat jarak antara dirinya dan pria itu.


Sementara itu, Mama Stella telah memberikan amanahnya berupa buku diary milik putrinya kepada Raditya. Pria usia menjelang 30 tahun itu, membuka satu demi satu lembaran yang berisi curahan hati dari Stella. Sebagian besar di sana bercerita tentang Jonathan.


"Sibuk?" Raditya duduk di depan meja kerja Jonathan.

__ADS_1


"Biasa, Om," sahut Jonathan sedikit menyunggingkan senyuman lalu kembali menghadap ke layar laptopnya. Satu minggu sudah Stella pergi untuk selamanya, pemuda itu tampak dengan sengaja menenggelamkan diri dalam kesibukannya.


Raditya mengetuk-ketuk meja kerja Jonathan menggunakan jarinya. Di tangan satunya ia menggenggam buku diary milik Stella. Ada rasa ragu memberikan buku itu, karena Stella juga tidak memberikan pesan apapun terkait buku itu.


"Saya hanya ingin memberikan ini. Kamu jauh lebih berhak menyimpannya." Raditya menggeser buku kecil itu di meja Jonathan.


"Apa ini?"


"Bacalah sendiri. Aku kembali ke kantor dulu." Raditya segera pergi dari sana. Ia memberikan waktu dan ruang untuk Jonathan membaca isi hati Stella.


Dari halaman pertama Jonathan sudah mengenali tulisan Stella, karena buku tugas saat masih sekolah pun sebagian besar hasil tulisan tangan gadis itu. Stella menuangkan kisah bersamanya sedetail mungkin, walau hanya cerita sederhana. Jonathan terpaku saat membaca beberapa lembaran terakhir.


Dia ada tapi jauh. Dia dekat tapi tak tergapai. Sampai kapan aku harus menunggunya melihatku sebagai wanita secara utuh.


Aku jauh lebih dulu mengenalnya tapi dia lebih memilih wanita itu. Awalnya aku tidak mengerti, apa yang dia lihat dari wanita itu.


Cantik, aku juga cantik. Bahkan aku punya semua yang wanita itu tak punya


Aku harus memaksa senyumku walau rasanya perih, saat matanya berbinar waktu bercerita tentang gadis itu.


Dia ada di sampingku hampir tiap hari, tapi hati dan pikirannya ada di wanita itu. Aku tahu itu.


Apakah dia tahu kalau aku takut kehilangannya?


Aku merasa sepi, takut dia pergi semakin jauh


Apa aku salah?


Ternyata aku memang salah, pantas Tuhan menghukumku seberat ini


Jonathan menutup buku ungu itu. Ia tak sanggup lagi membaca lebih lanjut. Ia tahu tapi pura-pura tak tahu dengan perasaan Stella. Bukan hanya sekali Stella menunjukkan ingin hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Ia pun sudah menolak tapi hanya di bibir saja, kenyataannya dialah yang tidak ingin Stella pergi dari sisinya.


Sahabatnya itulah yang selalu menjadi tempat bersandar saat ia jenuh dengan wanita di sekelilingnya, saat ia marah karena dibanding-bandingkan dengan Alex oleh orangtuanya. Namun hatinya tetap tidak bisa memberi rasa yang lebih dari sekedar sahabat untuk Stella.


Jonathan merasa menjadi penjahat, ia menahan Stella tapi tidak ingin di miliki. Di saat ia menemukan Jamilah, dengan kejamnya ia mendepak gadis itu jauh dari kehidupannya.

__ADS_1


"A-aku yang salaahh ... aaakuu yang salaahh ... harusnya Tuhan menghukum akuuu ... bukan kamu!" Jonathan menangis pilu di atas mejanya. Buku ungu milik Stella basah oleh air matanya.


Hanum yang tadinya akan menyampaikan pesan dari suaminya untuk mengajak Jonathan makan siang, mundur selangkah lagi saat mendengar adik iparnya menangis.


"Sudah? mana Jo?" tanya Alex saat melihat Hanum kembali seorang diri.


"Dia lagi sibuk sepertinya."


"Ya udah, kita makan berdua aja yuk." Alex menggamit pinggang istrinya.


"Pak, ada Pak Suroso di bawah." Baru satu langkah keluar dari ruangannya, Cimoy menghadangnya.


"Aduuhh, kenapa orang itu baru datang jam segini? Num, kita makan siang sama kolegaku ya."


"Iiih, malas ah. Aku jadi pajangan nanti ga ngerti yang kalian obrolkan. Aku makan sendiri aja."


"Kamu pesan aja makan di ruanganku."


"Ga mau. Aku mau makan di luar."


"Sendiri? ga boleh, kandunganmu sudah besar bahaya kalau jalan sendiri," ucap Alex tegas.


"Kalau diantar sama Pak Komar juga ga boleh?" Hanum menggelayut di lengan Alex dan memandang suaminya dengan tatapan puppy eye andalannya.


"Ya udah, tapi jangan lama-lama." Alex mengusap rambut dan mencubit hidung pesek Hanum.


"Yeeiii, makasih ayang." Hanum membalas dengan kecupan mesra di pipi suaminya. Cimoy yang gerah melihat percakapan mesra keduanya hanya bisa mendecih iri.


...❤️🤍...


Puppy eye tuh apa sih thor? kurang lebih seperti ini, tingkah cewek kalau ada maunya. Kamu bisa coba sama pasanganmu 😁



__ADS_1


Aku bawa cerita bagus punya teman. mampir di sana yaa



__ADS_2