
Jonathan menajamkan penglihatannya di setiap angkot atau ojek online yang ia lewati. Mencari-cari sosok gadis yang selalu mengganggu pikirannya itu. Sekali lagi ia merutuki kebodohannya, bagaimana ia selalu lupa menanyakan di mana Jamilah tinggal sekarang. Nada panggilan yang diabaikan oleh Jamilah membuat Jonathan semakin frustasi.
Sementara itu di sebuah angkutan umum, Jamilah duduk meringkuk di belakang sopir menggunakan jaket dengan kepala tertutup. Tangannya memegang ponsel yang terus bergetar. Ia masih belum punya tenaga dan jawaban untuk menghadapi Jonathan.
Mengapa keraguan selalu timbul di saat selangkah ke arah jenjang yang lebih serius. Ia ingin tapi juga tak ingin. Masih banyak pertanyaan di benaknya yang belum terjawab. Mengapa anak bos besar itu menyukainya dan memilihnya menjadi istri? Mengapa Jonathan tidak memilih salah satu dari sekian banyak gadis yang ada di dekatnya?, mengapa pula tidak dengan Stella yang sudah jelas mencintainya.
Jamilah hanya takut cinta Jonathan hanya semu dan sementara saja. Di saat menemukan yang jauh lebih menarik, Jonathan akan segera berpaling.
Tak menemukan Jamilah di antara kendaraan yang melintas, Jonathan yang sudah kelelahan memutar kemudinya ke rumah William. Ia butuh teman sebaya yang dapat diajak bertukar pikiran dan perasaan.
"Tumben kemari, Jo?" sapa Mama sambung William.
"Lagi kangen sama William," ujar Jonathan asal.
"Diih! Males banget dikangenin sejenis," umpat William.
"Gimana kabar keponakan barumu, Tante belum sempat jenguk di rumah sakit."
"Sehat. Aku juga baru sekali lihat setelah lahir. Sebentar lagi juga pulang ke rumah kok."
"Ya udah, kalian naik aja ke kamar. Kalau lapar langsung turun aja," ujar Mama William.
Sampai di kamar Jonathan langsung membanting tubuhnya di atas ranjang milik William yang luas.
"Bangun, mandi!" William melempar sebuah handuk tepat di wajah Jonathan.
"Nanti dululah." Bukannya berdiri, Jonathan malah mengambil guling dan memeluknya erat.
"Pantes kalau ditinggal cewek, kamunya susah diatur." William menarik paksa guling dalam pelukan Jonathan.
"Siapa yang bilang aku ditinggal cewek?" Jonathan spontan langsung bangkit dan duduk tegak di atas ranjang.
"Wajahmu yang bilang. Sebelum masuk rumah, kamu sudah ngaca belum?"
Jonathan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar William, lalu mengamati wajahnya di cermin. Mata sembab, merah dan berkantong serta wajah kusut dan rambut acak-acakan, hanya dengan sekali lihat orang sudah dapat menyimpulkan kalau ia sedang mengalami permasalahan yang berat.
Jonathan keluar dari kamar mandi lalu mengambil handuk yang dilemparkan William ke atas ranjang.
"Wil, pinjem baju," pinta Jonathan memelas sebelum ia masuk kembali ke dalam kamar mandi. William mendengus kesal saat melihat penampilan Jonathan yang kusut dan kotor.
"Baju tidur aja, tidak untuk pakaian dalam." William menyerahkan sepasang baju tidur miliknya.
"Ini aja cukup, ga perlu dalaman," ujar Jonathan sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi. William yang mendengar itu bergidik langsung melemparkan sebuah pakaian dalam yang masih baru ke arah Jonathan.
__ADS_1
"Kali ini siapa?" tanya William setelah Jonathan selesai mandi.
"Siapa?" tanya Jonathan balik.
"Yang bikin kamu cengeng seperti ini? Terakhir kali kamu lari dari rumah, nginep di sini gara-gara dimarahin Papa kamu karena ga mau masuk jurusan Bisnis Management, sekarang apa lagi? Dijodohkan seperti Alex?" William tersenyum mengejek.
"Wil, menurut kamu apakah aku orang yang tidak bisa berkomitment dalam sebuah hubungan?"
"Ow, soal wanita? 'kan kamu pakarnya?"
"Aku ini tanya, Wil!" Jonathan mulai kesal.
"Serius nih kayaknya." William mengambil posisi duduk menghadap Jonathan yang tengah berbaring di ranjang.
"Aku tadi lamar Jamilah, dia ga jawab tapi juga ga nolak. Kenapa ya?"
"Ow, Jamilah." William terkekeh, tapi segera menutup mulutnya kembali sebelum bantal yang dipegang Jonathan melayang ke wajahnya, "Bagus itu," tambahnya.
"Bagus dari mana?"
"Belum ditolak 'kan. Jadi masih bisa dilanjutkan perjuanganmu."
"Gimana? Dia sepertinya sudah ga mau ketemu aku." Mata Jonathan menerawang ke langit-langit kamar.
"Kamu diusir?"
"Hmm, ada sesuatu Jo. Wanita itu seperti kamus yang dijilid dari terbitan pertama sampai yang terbaru. Jadi butuh waktu, kesabaran, perasaan dan logika untuk memahami mereka."
"Ga jelas kamu itu." Jonathan menggerutu sambil memutar tubuhnya memunggungi William.
"Nah gini ini, kamu yang biasanya deket sama cewek ga pernah pakai hati. Sekalinya pakai hati, bingung ga bisa baca perasaan dan apa yang mereka mau," lanjut William.
"Menurutmu Jamilah maunya apa?" tantang Jonathan.
"Diperjuangkan. Wanita itu mau dikejar, merasa dicintai, merasa diingini," tegas William.
"Aku sudah lamar kok, itu 'kan bukti aku memperjuangkan dia. Lalu aku harus bagaimana lagi?"
"Entahlah, Jo. Aku aja masih jomlo, pikir sendiri ajalah. Bikin laper masalahmu." William berdiri dan berjalan ke arah ruang makan. Jonathan mengikuti kawannya turun ke lantai bawah.
"Duh, kesayangan kakak tahu aja ada yang masih belum makan." William melontarkan pujian pada adik bungsunya yang sedang menggoreng ayam di dapur.
"Ga usah basa basi, minta sekalian digorengkan? Berapa?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Dua sama Kak Jo."
"Request bagian dada ya, Naya," rayu Jonathan.
Selama duduk bertiga menikmati makan yang terlalu malam, Jonathan dan William melanjutkan pembicaraan yang terputus di kamar tadi.
"Kualat," timpal Kanaya setelah ikut mencuri dengar keluhan Jonathan.
"Tega kamu, nanti lihat kalau kamu sudah ngerasain bucin sama cowok tapi diabaikan. Baru tahu rasa, bisa nangis tujuh hari tujuh malam," gerutu Jonathan. Kanaya hanya tertawa geli melihat Jonathan yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri menggerutu kesal.
Tiba-tiba Jonathan menyeringai lebar menatap Kanaya.
"Apaan? Serem banget." Kananya memandang Jonathan curiga.
"Tolongin Kak Jo ya."
"Ngapain?"
"Jangan nambah masalah, Jo." William memperingati Jonathan.
"Buat mancing aja, Wil."
"Terserah kamu, reaksinya hanya ada dua. Jamilah semakin menjauh atau cemburu dan semakin dekat denganmu."
"Manas-manasi cewek kak Jo? Ga mau ah, nanti jambak, di cakar harga diriku bisa hilang."
"Beda. Ini ceweknya beda dari yang lain." Jonathan terus mencoba membujuk Kanaya yang masih duduk di bangku kuliah.
"Merchandise BTS," tawar Jonathan saat melihat Kanaya menggeleng.
"Bebas pilih," lanjut Jonathan ketika Kanaya masih tidak bergeming.
"Original," tambah Jonathan pasrah.
"Deal, Merchandise BTS bebas pilih dan original. Kak Willi jadi saksi." Kananya menyodorkan telapak tangannya.
"Kakak adik, sama-sama pemeras!" umpat Jonathan sembari meraih tangan Kanaya dengan malas.
Kanaya dan William saling melirik penuh arti lalu keduanya saling memberikan high five (tos).
...❤️🤍...
Jonathan harus dibikin susah dulu, karena cinta itu tidak selamanya indah 🙏😁
__ADS_1
Mampir ke karya temanku ya