CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Mama oh Mama


__ADS_3

"Bapak keringetan terus loh," ucap Hanum seraya mengusap keringat yang menetes di pelipis Alex menggunakan ujung jarinya.


"Ga, aku ga apa-apa," sahut Alex seraya sedikit menjauhkan tubuhnya dari Hanum. Ia sedikit terkejut saat jari Hanum menyentuh kulitnya.


Sesampainya di rumah, Alex dengan cepat menepikan mobilnya tepat di depan rumah, tanpa berniat memarkirkan kendaraannya dengan rapi. Setelah itu ia langsung melesat masuk ke dalam rumah.


"Den Alex kenapa, Non?" tanya petugas keamanan melongo keheranan, setelah menangkap kunci mobil yang dilempar Alex.


"Nda tau, kayaknya lagi sakit," sahut Hanum


Sambil berjalan masuk ke dalam rumah, Hanum berulang kali mengetuk-ketuk layar ponselnya, berharap ponsel kesayangannya itu kembali menyala.


"Kak Alex kenapa, Akak ipar?" tanya Jonathan yang sedang duduk di ruang tamu.


"Nda tau, kayaknya lagi sakit," ulang Hanum. Ia masih berkonsentrasi dengan ponselnya. Seakan kelangsungan hidup ponselnya, jauh lebih penting dari pada keadaan suaminya.


"Kenapa ponselnya?" tanya Jonathan lagi.


"Ga mau nyala," sahut Hanum sedih. Ia baru mengangkat kepalanya melihat ke arah Jonathan, saat ditanya tentang keadaan ponselnya.


"Coba lihat." Jonathan mengulurkan tangan meminta ponsel dari tangan Hanum, "Gilaak, ini ponsel apa artefak?" Jonathan terkejut dan tidak bisa menahan gelak tawanya.


"Kalo cuman mau hina ga usah aja!" Hanum berusaha merebut ponselnya.


"Sori, sorii. Mana charger-nya?" pinta Jonathan, masih menyisakan tawanya.


"Nah, nyala kan. Habis batrai mungkin, ato dia sudah lelah." Jonathan menghela nafas lega saat ponsel Hanum kembali hidup setelah di isi daya, "Kenapa ga minta ganti ponsel baru sih? Kakak aku tuh duitnya banyak, masak istri CEO ponselnya menyedihkan retak di sana sini," lanjut Jonathan, tepat saat Alex keluar dari kamar mandi.


"Aku bukan siapa-siapa kakak kamu, betewe makasih ya," sahut Hanum lalu langsung berjalan masuk diiringi tatapan Alex sampai ia sudah tidak terlihat lagi.


"Lex kamu kenapa?" tanya Mama Alex saat melihat putranya duduk meringkuk memegangi perutnya.


"Perutku perih, mungkin belum sempet makan siang langsung minum kopi," keluh Alex masih dengan guliran keringat di sekujur tubuhnya.


"Astagaaa, kamu kan ga biasa minum kopi, Lex. Belum makan siang lagi jam segini? kok bisa? bukannya tadi Hanum bawakan kamu makan siang??" sembur Mama Alex khas ibu-ibu yang panik.


Alex malas menanggapi ocehan Mamanya, ia hanya mengibas-kibaskan tangannya meminta Mamanya untuk menjauh.


Merasa tidak puas, Mama Alex pergi ke kamar belakang tempat Hanum tidur.


"Num, Alex kenapa itu. Dia belum makan siang lo, Num. Kok bisa, kamu kan yang bawa makanannya ke kantor tadi?" berondong Mama Alex, begitu Hanum membuka pintu kamarnya.


Hanum menepuk keningnya, ia baru teringat jika suaminya itu belum sempat makan siang sampai sore ini.


"Makanannya di tinggal di kantor, Bu. Tadi sudah saya bilang, Pak Alex ga usah anter saya ke pemotretan, malah pake nungguin segala." Kening Mama Alex berkerut mendengar anak mantunya ini memanggil suaminya dengan sebutan Bapak. Ia ingin bertanya, tapi urung karena mengingat putranya sedang kesakitan di ruang tengah.


"Kamu bawain makan dulu gih, sama buatin teh hangat," saran Mama Alex.


Hanum mengikuti saran Mama mertuanya, ia membuat teh hangat dan membawakan sepiring nasi beserta lauknya ke ruang tengah.

__ADS_1


"Pak, makan dulu habis itu minum obat." Alex melirik sebal saat panggilan yang menjengkelkan itu kembali terdengar. Namun ia tetap menerima piring dari tangan Hanum karena perutnya sudah semakin menjerit.


Sementara itu di dapur, Mama Alex berbisik pada Mbok Jum, "Mbok, jadi ya rencana semula," ujarnya seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Yakin, Nya?" tanya Mbok Jum khawatir.


"Yakiiin, saya yang tanggung jawab."


flash back siang tadi


"Mbok, barangnya Hanum dikeluarkan dari kamar ya," perintah Mama Alex.


"Loh, kenapa, Nya?"


"Pindahin ke kamar Alex, maksudnya."


"Oh, ya ... ya." Mbok Jum mengangguk-angguk walaupun masih merasa bingung.


"Terus ini Mbok, mmm ... biasanya Alex kalo mau tidur minta teh panas kan?"


"Iya."


"Kasihkan ini ya di dalam minumannya." Mama Alex menyerahkan sebungkus plastik klip berisi serbuk putih.


"Ini apa, Nya?" tanya Mbok Jum curiga.


"Obat apa? Mbok ga mau, ah. Kalo ini narkoba gimana, nanti saya yang ditangkap polisi." Mbok Jum menaruh plastik klip itu di atas meja dengan rasa ngeri.


"Bukan narkoba, Mbok. Ini tuh ...." Mama Alex berbisik di telinga Mbok Jum.


Seketika mata Mbok Jum terbelalak, "Mosok harus pake ini sih, Nyaaa."


"Habis kalo mau nunggu mereka kumpul, saya bisa keriput duluan Mbok. Lagian sekarang Hanum sepertinya sudah nyerah sama Alex," keluh Mama Alex.


"Nyonya sudah suka sama Non Hanum?"


"Kalo dibanding ponakan temen Bapak saya sih saya jauh lebih suka Hanum, Mbok. Anaknya tulus, apa adanya. Saya kesal sama dia hanya gara-gara caranya yang lancang masuk ruangan Alex terus ganti berkas, tapi dengan seperti itu saya jadi yakin kalo Hanum benar-benar mencintai anak saya."


Mbok Jum tersenyum mendengar penjelasan Mama Alex, "Syukurlah, kalau Nyonya sudah bisa melihat sesuatu yang lebih dari Non Hanum."


flash back selesai


Setelah memberikan makan dan teh hangat pada Alex, Hanum kembali ke kamarnya. Namun ia sangat terkejut saat melihat Mbok Jum dan Tini sedang membereskan semua barangnya.


"Loh, Mbok barangku mau diapain?" tanya Hanum panik.


"Kamarnya mau dipake, Non," ujar Mbok Jum tanpa mau menatap mata Hanum.


"Dipake sama siapa?"

__ADS_1


"Pe-pembantu baru," sahut Mbok Jum seraya menghindari tatapan Hanum. Sementara Tini pura-pura tidak mendengar percakapan mereka berdua.


"Jadi aku tidur sama Mbok Jum lagi nih?" tanya Hanum lesu.


"Maaf, Non. Tini seminggu ini mungkin tidur sama Mbok karena ... suaminya ke luar kota, dia takut tidur sendirian. Ya kan Tin? ... Tini!" panggil Mbok Jum sambil mencubit pinggang Tini.


"Aah, iya Non. Maaf, saya takut kalo di rumah sendirian," sahut Tini menegaskan.


"Terus aku gimana, Mbok?" Hanum semakin lesu.


"Non kan ada suami, ya tidurnya di kamar sama suaminya," ujar Mbok Jum dengan sedikit rasa bersalah.


"Ga mau ah, Mbok. Takuuutt, aku ikut tidur bertiga boleh ga?" tanya Hanum penuh harap. Mbok Jum dan Tini saling berpandangan bingung mau menjawab apa.


"Ada apa, Mbok?" tanya Mama Alex tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.


"Non Hanum bingung mau tidur di mana, Nya." Mbok Jum memberi kode dengan matanya.


"Kenapa bingung, Num? Tempat tidurnya Alex kan luas," ucap Mama Alex santai. Hanum tidak menjawab apalagi membantah. Ia hanya menggelengkan kepalanya, tanda keberatan dengan usulan mama mertuanya.


"Ada apa?" Hanum terkejut saat Alex muncul dari balik tubuh Mamanya. Rupanya ia sudah selesai makan dan berniat membawa piring serta gelasnya ke dapur.


...❤❤...


Alex, Hanum beserta keluarga besar Pak Beni mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


Semoga cerita di novel ini tidak ada yang mengganggu ibadah teman-teman ya🙏


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Promosi antar teman lewat dulu ya, silahkan mampir.


__ADS_1


__ADS_2