
Hanum membesarkan matanya mendengar gombalan receh yang keluar dari mulut suaminya. Ingin rasanya ia terbahak, tapi bibirnya ia rapatkan agar suara tawanya tidak lancang keluar.
Walaupun begitu, wajahnya tetap memerah menahan malu. Bagaimana tidak meskipun pria yang berada di hadapannya ini menjengkelkan, tetapi tak bisa dipungkiri masih ada rasa kagum dan cinta di hatinya.
Tanpa Hanum tahu, Alex yang berjalan membelakangi Hanum dengan membawa cangkir di tangannya juga memerah wajahnya. Seumur hidup baru dua kali ini, ia melontarkan rayuan pada wanita dan semuanya itu untuk istrinya.
Pertama saat ia mengatakan tak bisa jauh dari Hanum, ini memang spontan karena memang kenyataannya dialah yang ingin Hanum ada dalam jarak pandangnya selalu. Kedua saat ia mengatakan jika tak butuh gula karena Hanum jauh lebih manis, kalau ini memang murni gombalan semata.
Saat Hanum keluar dari kamar untuk membuat teh hangat, Alex membuka ponsel lalu mencari di halaman pencarian gugel kata-kata rayuan maut yang bikin wanita luluh. Alex merasa puas, saat melihat raut wajah Hanum yang memerah dan salah tingkah.
Perlahan Alex menaruh cangkir kosongnya di atas nakas, lalu duduk di atas ranjang dengan tubuh setengah bersandar.
Sedangkan Hanum masih berdiri membelakangi suaminya, sambil menyesap teh hangatnya secara perlahan.
"Ga baik minum sambil berdiri. Sini duduk," panggil Alex seraya menepuk ranjang di sisinya.
Malam ini Alex mempunyai niat, harus dirinya yang memegang peranan dan menguasai keadaan.
"Sudah habis," sahut Hanum, lalu ikut meletakan cangkirnya di atas nakas.
Alex masih menunggu dan menatapnya dari atas ranjang. Perlahan Hanum naik dan ikut duduk bersandar seperti suaminya. Beberapa saat mereka hanya terdiam.
"Num," panggil Alex pelan.
"Hmmm?"
"Ee ... kita ... emm ... kamu mau ...." Alex bingung merangkai kata untuk mengajak istrinya mendaki gunung melewati lembah.
"Mau apa?" tanya Hanum bingung.
"Yang dulu ... yang itu," ujar Alex tak jelas.
"Yang mana?" Hanum semakin bingung.
Alex semakin kesal, karena istrinya tidak peka dan tidak kunjung mengerti bahasa isyaratnya.
Jika dulu pertama kali mereka melakukan hal itu karena Alex sedang merasa sangat emosi bercampur hasrat yang tinggi, sehingga ia tidak peduli jika harus menyakiti Hanum. Namun sekarang ia tidak ingin memakai kekerasan lagi, karena ternyata jauh lebih menyenangkan ronde kedua saat Hanum memimpin pertandingan. Dan ia menginginkan hal itu terulang lagi, tapi mengapa istrinya ini seolah mendadak jadi dingin dan bodoh.
Alex melirik Hanum yang masih tetap menatapnya penuh tanda tanya.
"Sudahlah," ucapnya kesal. Alex lalu merebahkan tubuhnya membelakangi Hanum. Matanya ia pejamkan rapat-rapat, agar segera terlelap dan melupakan hasratnya yang sedang tinggi.
Hanum semkin bingung dengan tingkah laku Alex yang cepat berubah-rubah. Tadi dengan ringannya Alex meggoda dirinya, lalu menggombalinya sekarang sudah marah dengan alasan yang tidak jelas.
Hanum memilih merebahkan tubuhnya membelakangi suaminya dan ikut memejamkan mata.
__ADS_1
...❤...
Pagi harinya Hanum sudah tidak ada di sampingnya. Ranjangnya pun sudah dingin, tanda jika istrinya itu sudah terbangun sejak tadi.
Alex masuk ke dalam kamar mandi masih dengan perasaan jengkel yang ia bawa semalam. Saat ia selesai mandi, bibirnya tersungging senyuman lebar melihat kemeja dan celana panjangnya untuk ke kantor, sudah siap dan rapi di atas ranjang begitu juga dengan dasinya. Semuanya sangat serasi.
Perasaan Alex membuncah seketika. Semangatnya untuk berangkat ke kantor sangat menggebu-gebu.
"Selamat pagi Pa, Ma, hai Jo!" sapa Alex ceria.
Ketiga orang yang sudah terlebih dulu duduk di sekitar meja makan, ternganga melihat senyuman di wajah pria paling dingin di rumah itu.
"Pagi juga Alex." Hanya Mamanya yang menjawab sapaan Alex, sedangkan yang lain masih belum tersadar dari rasa terkejutnya.
"Tiba-tiba banyak bunga bermekaran di sini," ujar Jonathan seolah menerawang, "Habis dapat jatah semalam ya?" bisik Jonathan.
Wajah Alex kembali suram saat diingatkan kegagalannya semalam. Baru di layani menyiapkan baju saja sebegitu bahagianya, bagaimana jika dirinya mendapat layanan full service dari istrinya?
Mata Alex mencari-cari sosok Hanum di dapur tapi ia tidak menemukannya, yang tampak hanyalah Mbok Jum dan Tini yang sejak tadi mundar-mandir dari dapur ke ruang makan.
"Cari ayanknya ya?" goda Jonathan. Alex melirik kesal sekaligus malu pada adiknya yang cerewet itu, "Ayanknya lagi jogging, beeuuhh sexy abiiiss. Pakai hot pants, baju you can see anything warna merah," lanjut Jonathan berapi-api tak lupa ia memeragakan pakaian yang dikenakan Hanum.
Mendengar penjelasan adiknya tentang baju yang dipakai istrinya, membuat Alex menghentikan sarapannya. Ia langsung melangkahkan kaki lebar-lebar ke luar rumah mencari Hanum.
"Lucu kalo sudah bucin, kayak anak sekolah." Jonathan tertawa lepas saat kakaknya sudah jauh dari ruang makan.
Langkah Alex melambat saat melihat Hanum sedang berbincang santai, dengan para tetangga yang mengelilingi bakul sayur.
"Eeh, Mas Alex tumben keluar rumah. Cari istrinya yaaa," goda Bu Erna, tetangga paling centil di sekitar rumah mereka.
"Kapan resepsinya, Mas Alex tau-tau sudah ada istri aja," celetuk Bu Odah, cctv perumahan mereka.
"Saya kira sudah isi duluan, ternyata belum," tambah Bu Laila, si penyebar gosip panas.
Alex hanya tersenyum tipis pada ketiga tetangga yang sedang menanti jawabannya. Ia merasa lega melihat pakaian yang dikenakan oleh istrinya sangat jauh berbeda dari yang digambarkan oleh Jonathan. Hanum masih memakai baju kebangsaan ibu-ibu saat di rumah.
"Belanja apa?" tanya Alex pada Hanum yang salah tingkah di hadapan ibu-ibu tetangga.
"Buat bekal makan siang, Mas Alex," sahut Hanum pelan, seraya mengangkat kantung plastik berisi bahan makanan.
"Ciiieee, yang sudah punya istri minta di bawakan bekal," celetuk Bu Odah.
"Iiiihh, bikin ngiri Mba Hanum. Suamiku sukanya jajan di luar, ga mau dibawakan bekal," keluh Bu Erna yang langsung ditanggapi seruan setuju ibu-ibu lainnya.
"Ibu-ibu saya permisi masuk duluan ya," pamit Hanum sopan.
__ADS_1
"Iyaa, Num masuk aja. Belanja depan rumah aja sampe dijemput suami," sindir Bu Erna.
"Ga usah di dengerin," hibur Alex.
"Mas Alex juga ngapain pake nyusul segala," protes Hanum.
"Aku ga nyusulin kamu kok. Aku tadi cuman ... nunggu kurir tapi belum datang," kelit Alex gugup.
"Kamu sudah mandi belum?" tanya Alex lagi.
"Belum. Ini mo masak buat kirim bekal nanti siang."
"Ya udah, masak sekalian buat dua porsi. Aku tunggu kamu sampe selesai. Kamu ikut aku ke kantor."
"Lagi??"
"Iya, kenapa?"
"Mau ngapain? dari pada aku bengong di kantor, mending aku di rumah bersih-bersih."
"Bersih-bersih itu urusan Mbok Jum sama Tini, kamu jangan ambil kerjaan mereka."
"Ya udah." Hanum mengangguk pasrah walaupun kesal.
"Ee, terima kasih tadi sudah di siapkan bajunya ... aku suka," ucap Alex pelan, dengan wajah memerah Alex masuk ke dalam rumah mendahului Hanum.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
__ADS_1