
Serempak seisi mobil menoleh ke arah Jonathan.
"Kenapa? di sini makanannya enak kok," ujar Raditya sembari bersiap turun.
"Aku kurang suka sama menu rawonnya, dagingnya masih mentah," ujar Jonathan dengan ekspresi jijik.
"Memangnya di sini jual rawon aja, ayo turun aku sudah laper," sahut William sambil membuka pintu dan langsung turun dari mobil.
"Wil ... Wil!" Jonathan berteriak dari dalam mobil, tapi kawannya itu terus berjalan masuk ke dalam restoran bersama Raditya dan Maura.
"Ayo, Jo 'dah haus nih," Stella kembali merengek.
"Ngerepotin terus!" sergah Jonathan lalu langsung pergi menyusul William masuk ke dalam restoran. Stella menyusul Jonathan berjalan dengan kepala tertunduk.
"Kamu mau pesan apa, La?" tanya Raditya saat ia menyusul duduk di sebelah Jonathan. Stella sedikit terhibur dengan adanya Raditya ditengah sikap tak acuhnya Jonathan bersaudara. Ia merasa masih ada yang peduli dengannya.
"Jo, kamu mau makan apa? Buruan milih gantian sama Stella," ujar William yang sudah lemas menahan lapar.
"Udah belum milihnya, Jo?" tanya Stella tak sabar. Jonathan tak menghiraukan suara-suara di sekitarnya, ia masih mengangkat buku menu menutupi seluruh wajahnya.
"Barengan aja, kelamaan kamu." Stella bergeser lebih mendekat ke arah Jonathan dan menyelipkan kepalanya di antara buku menu dan kepala Jonathan.
"Dih, sok mesra banget," sergah Maura sinis. Tepat saat itu Jamilah melintas di sisi barisan kursi mereka.
"Milah?? Kamu Jamilah 'kan, kamu kerja di sini?" Suara William yang menyapa Jamilah membuat jantung Jonathan seakan berhenti.
"Aku ayam bakar aja deh sama es jeruk," ucap Stella, "Kamu apa, Jo? Ditungguin tuh, kamu paling lama milihnya." Stella menunjuk ke arah pelayan yang sudah jenuh menunggu di pinggir meja.
Sementara itu Jamilah berusaha melihat wajah di balik buku menu sembari menimpali pertanyaan-pertanyaan William.
"Ada tambahan lagi?" tanya pelayan yang melayani meja mereka tak sabar.
"Sebentar, Mas kurang satu. Buruan, Jo," ujar Raditya.
"Nasi goreng seafood sama es teh," ucap Jonathan masih dengan wajah tertutup buku menu.
__ADS_1
"Astaga udah paling lama milihnya nasi goreng," celetuk Maura.
"Eh, kamu yang datang ke rumah Jonathan kapan hari 'kan?" Perhatian Stella teralih pada Jamilah dan William yang masih asyik berbincang.
"Kamu kenal juga, La?" tanya William.
"Ga. Pernah ketemu aja di pesta pernikahan Kak Alex sama di rumah Pak Beni," sahut Stella malas.
"Jo ... hei, Jo!" panggil William pada Jonathan yang masih saja berpura-pura membaca buku menu.
"Yang, tadi 'kan sudah pesan nasi goreng kok masih mau milih lagi." Stella mulai berulah memanas-manasi Jamilah.
"Eh, kenapa?" Jonathan terpaksa meletakkan buku menu ke atas meja dan mendongakan kepalanya menatap William yang sedang bersama Jamilah, "Loh, kamu masuk malam, Milah?" tanya Jonathan berbasa-basi.
Jonathan belum menyadari panggilan sayang yang diucapkan Stella, tapi tidak dengan Jamilah. Meskipun sedang berbincang dengan William, sudut mata dan telinganya masih dapat mengawasi gerak-gerik Jonathan sejak awal kedatangannya.
"Iya, masuk malam," sahut Jamilah pelan. Hatinya sedikit kecewa, ia merasa Jonathan malu mengakui mengenalnya di hadapan teman-temannya. Belum lagi panggilan mesra Stella pada Jonathan yang tidak diingkari oleh pria itu.
"Ow, kamu sudah tahu kalau Jamilah kerja di sini?" tanya William. Jonathan mengangguk kikuk dengan senyum yang kaku.
Begitu Jamilah pergi menjauh, Jonathan baru sadar kalau ia dan Stella duduknya sangat berdekatan. Tangan Stella pun melingkar pada lengannya.
"Apa-apaan sih kamu!" Jonathan melepaskan tangan Stella secara kasar.
"Apaan? aku salah apa?" Stella sedikit shock dengan reaksi Jonathan. Ia tidak menyangka Jonathan semarah itu, karena dari tadi pria itu tidak menolak saat ia bergelayut di tangan Jonathan.
Selama ia mengenal Jonathan sejak dari bangku sekolah, merangkul, bergelayut di lengan, bersandar di punggung saat mengendarai motor sudah sering ia lakukan walaupun status mereka hanya sebatas teman akrab. Jonathan pun tidak pernah keberatan, meskipun sejak dulu Jonathan kerap kali didekati oleh para gadis cantik. Lalu mengapa sekarang berubah sejak kenal gadis pelayan restoran itu?
"Ga usah dekat-dekat aku lagi, dasar pengganggu!" sembur Jonathan. Ia meluapkan semua kekesalannya pada Stella.
Maura dan William tercengang melihat kemarahan Jonathan. Meskipun mereka tidak terlalu suka dengan Stella, tapi tidak tega juga melihat saudara mereka memperlakukan wanita sekasar itu.
"Kak, jangan gitu ah," tegur Maura. Ia menaruh iba pada Stella yang pias menahan malu dan tangis bersamaan.
"Bodo! bikin kesal aja."
__ADS_1
"Jo, kamu ingat 'kan pembicaraan kita waktu lalu?" William berusaha mengingatkan Jonathan agar bersikap sedikit lembut pada Stella.
"Aahhh!" Jonathan mengibaskan tangannya malas mendengarkan ucapan William.
Ia sedang kesal pada William yang berbicara akrab dengan Jamilah dan sempat bertukar nomer ponsel. Ia juga kesal pada Stella yang seenaknya menempelkan dada pada lengannya. Ia sempat menangkap raut wajah Jamilah yang berubah sendu saat Stella bersandar pada pundaknya, dan ia tidak suka itu.
"Stella, kamu duduk di sini aja." Raditya menggeser duduknya memberi ruang pada Stella untuk duduk di sampingnya.
Ia kasihan pada gadis itu yang diam kaku tak bergerak setelah Jonathan kembali menghardiknya. Stella tidak menolak, ia bangkit berdiri lalu duduk di sebelah Raditya.
Jonathan tidak mempedulikan situasi sekitarnya. Matanya tertuju pada pintu karyawan berharap Jamilah keluar dari sana dan membawa pesanan meja mereka. Namun harapannya sirna saat pelayan lain yang datang.
"Minum dulu, dari tadi belum minum sama sekali 'kan?" Raditya menyodorkan gelas berisi es jeruk milik Stella, saat gadis itu akan menyendokan nasi ke dalam mulutnya.
Kemarahan dan suramnya raut wajah Jonathan, membuat keempat orang lainnya yang duduk di sekitarnya enggan berbicara saat makan. Mereka makan dalam hening dan hanya fokus pada isi piring masing-masing.
"Kamu minum apa?" tanya Raditya saat melihat Stella dengan gerakan cepat menelan pil berwarna merah ke dalam mulutnya setelah selesai makan.
...❤️🤍...
Bawa cerita bagus untuk kamu
Ketiganya memiliki nasib yang sama.tidak tau asal usulnya, tak tau dimana keluarga berada. apa mereka anak haram yang tak di inginkan?
Mereka gadis yang memiliki inisial yang sama 'K', Kania Reskyta Utami, Keysa Refilita Putri dan Kirana Resky Natasya mereka bertemu saat kecil, sampai sekarang ketiganya menjadi sepasang sahabat yang tak bisa di pisahkan.
Hanya tinggal di sebuah kontrak petak kecil? Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka menjalaninya dengan suka cita. ketiganya banting tulang bekerja sana sini untuk melanjutkannya pendidikan ke universitas yang mereka inginkan.
Tetapi di suatu kejadian, mereka bertemu dengan Pria kaya yang angkuh dengan kepribadian yang berbeda beda. mereka terikat dalam suatu perjanjian.
Bagaimana nasib mereka kedepannya?
Apa TRIPLE'K bisa bersabar dengan kepribadian menyebalkan mereka yang membuatnya naik darah?
__ADS_1