CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Rumah lama


__ADS_3

Hanum mengangguk pelan, perlahan ia mendorong dada Alex agar pelukannya sedikit meregang.


"Ini sudah senja, kita menginap dulu gimana?"


"Pulang aja, di sini kan ga ada penginapan?" ujar Hanum seraya menyusut air matanya.


"Aku kan ada rumah di sini. Ada yang jaga juga, jadi bersih. Sekalian kita tanya-tanya orang di daerah sini, siapa tau mereka tahu sesuatu." Alex menjalankan kendaraannya ke arah rumah lama orang tuanya, tanpa menunggu persetujuan dari Hanum. Ia memilih tidak pulang ke kota dulu, dalam kondisi Hanum yang sedang emosi dan kalut.


Alex menepikan kendaraannya pada sebuah rumah tanpa pagar yang berhalaman luas, "Ayo masuk," Alex memberikan kode pada Hanum yang masih berdiri di depan pintu dengan anggukan kepalanya, karena kedua tangannya penuh dengan tas dan satu kantong plastik berisi dua bungkus nasi goreng.


Hanum mengedarkan pandangannya, rumah keluarga Alex yang berada di kampung ini sangat terawat dan bersih. Bukan tipe rumah modern seperti yang sekarang di kota, tapi lebih bernuansa tradisional. Kursi dari kayu, dengan hiasan dinding penuh dengan ukiran.


Di sudut rumah bagian belakang ada sebuah taman yang masih tertata rapi, dan banyak pohon dengan daun kehijauan serta suara gemericik dari air kolam yang terus mengalir.


"Niki kuncine, Mas. Yen ono perlu, Mas'e panggil aja. Kulo ning omah mburi," ujar Pak Sarwono, orang yang dipercaya merawat rumah keluarga Alex.


"Matur suwun, Pak De," sahut Alex dengan sedikit membungkukan badan.


Hanum tersenyum melihat interaksi suaminya dengan penjaga rumah yang usianya sudah lebih dari setengah abad.


"Senang di sini?" tanya Alex seraya melingkarkan tangannya di perut Hanum dari arah belakang.

__ADS_1


"Se-senang," ucap Hanum gugup. Ia sempat terkesiap saat Alex melakukan hal itu, karena ia tadi sedang asyik menikmati kebun belakang yang teduh.


"Mau mandi atau makan dulu?" tanya Alex setengah berbisik.


"Makan dulu aja, nanti nasi gorengnya dingin," ujar Hanum seraya melonggarkan belitan tangan Alex.


"Mau makan disini?" tawar Alex. Hanum memperhatikan sekitarnya, lalu ia mengangguk.


Sepertinya akan menyenangkan rasanya jika makan di teras belakang, sambil ditemani suara gemericik air dari kolam dan aroma tanah yang basah sehabis hujan.


"Tunggu di sini ya," perintah Alex. Tak berapa lama pria itu kembali dengan dua bungkus nasi goreng, lalu kembali lagi ke dalam rumah mengambil dua gelas teh hangat.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Alex curiga.


"Kenapa? ga suka?"


"Suka, sukaaa." Hanum mengembangkan senyumnya.


"Kenapa lagi?" tanya Alex lagi saat menangkap Hanum sedang menatapnya dengan sorot mata sendu.


Nasi di piring Alex sudah habis sedangkan di piring Hanum lebih dari setengah porsi masih ada di sana, tanda wanita itu sedang tidak menikmati makan malamnya.

__ADS_1


"Ga enak?" tanya Alex.


"Enak, enak," sahut Hanum cepat, lalu segera menyuapkan satu sendok besar ke dalam mulutnya.


Alex memperhatikan sikap dan raut wajah istrinya, ia merasa ada yang disembunyikan oleh Hanum.


"Kenapa ga habis?" tanya Alex saat Hanum menghentikan makannya padahal belum ada 10 sendok masuk ke dalam mulutnya.


"Kenyang," sahut Hanum.


"Ga baik buang-buang makanan, sini aku yang habisin." Alex menarik piring Hanum.


"Jangan, itu bekas aku." Hanum menahan piringnya.


"Kenapa kalo bekas kamu?" Alex kembali menarik piring Hanum.


"Kotor ...." Hanum terdiam saat melihat suaminya tanpa ragu menyuapkan nasi goreng bekasnya ke dalam mulut dengan sendok yang dipakainya.


...❤❤...


Review dari NT lama guys, maklum akhir bulan suasana liburan juga. Semoga bab ini up sesuai jadwal.

__ADS_1


Lanjut malam lagi yaa


__ADS_2