CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Bau Badan


__ADS_3

Sampai di rumah kediaman keluarga Alex, Hanum menyelinap cepat melalui pintu belakang.


Masih jam empat sore, Alex sudah dipastikan belum ada di rumah. Terdengar ada suara orang berbicara dari ruang keluarga, sepertinya orang tua Alex sedang berbincang.


Hanum berjalan mengendap-endap masuk terus menuju kamar Mbok Jum.


"Hayoo mau ngapain!!"


"Aaaaa ... monyet, monyeett." Hanum menjerit kaget. Ia menoleh kebelakang, dilihatnya Jonathan melotot ke arahnya.


"Siapa yang kamu bilang monyet?" seru Jonathan kesal.


"Bukan sapa-sapa, cuman kaget aja tadi," ucap Hanum pelan.


"Ada apa ini, ribut terus!" Mama Alex datang menghampiri, diikuti Papa Alex di belakangnya.


"Kenapa datang lagi? saya pikir kamu sudah pergi jauh, ga kembali lagi. Apa ada barang yang ketinggalan?" tanya Papa Alex tanpa perasaan.


"Saya masih di sini, ga kemana-mana," sahut Hanum. Saat di perjalanan tadi, ia memutuskan untuk mencoba kembali menaklukan hati suaminya.


Ia merasa jika pernikahannya dengan Alex, adalah sebuah takdir dan harus diperjuangkan. Apalagi tadi ia mendapat kesempatan untuk memperbaiki penampilan secara cuma-cuma. Bukankah itu suatu pertanda perjuangannya masih belum berakhir?


Kedua orang tua Alex terdiam dan saling berpandangan mendengar jawaban Hanum.


"Saya permisi dulu." Hanum sedikit membungkukan badannya dan berjalan melewati kedua orang tua Alex.


"Empph, bau apa ini?" Mama Alex menutup hidungnya saat Hanum berjalan melewatinya.


"Iya, keringatmu bau banget, Num!" Jonathan menambahi.


"Jorok!" seru Papa Alex lalu langsung pergi menjauh dengan raut wajah jijik.


"Maaf, tadi bisnya penuh jadi berdiri dempet-dempetan," ucap Hanum seraya mencium kedua ketiaknya. Menurutnya aroma tubuhnya sama aja seperti biasanya.


Mama Alex hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Jonathan bertindak lebih ekstrim, ia menyemprotkan pewangi ke seluruh sudut ruangan, terutama jalur yang Hanum lewati.


Hanum masuk ke dalam dapur dan langsung menegak segelas air dingin. Lebih baik ia dicaci dan dihina langsung di depan hidungnya, dari pada melihat orang saling berbisik dan menatapnya dengan hina.


"Kenapa, kok sedih lagi. Mana kotak makannya, Num. Ga kamu bawa pulang lagi?" tanya Mbok Jum.


Wajah Hanum semakin suram saat Mbok Jum mengingatkan tentang bekal makan yang dibawanya untuk Alex tadi siang.


"Ga pa-pa kotaknya ditinggal di sana, yang penting dimakan sama Den Alex," ucap Mbok Jum maklum. Hanum hanya menyengir, ia sendiri tidak yakin Alex mau menyentuh kotak makan yang dibawanya.


"Mbok, badan saya bau ya?" tanya Hanum sedih.


"Belum mandi ya pasti bau, sana mandi dulu."


Hanum masuk ke dalam kamar dengan lunglai. Sejak resmi menikah dengan Alex, energinya seakan terkuras habis tiap hari. Bukan karena percintaan panas, tapi karena hinaan yang ia terima.


Saat ia keluar dari kamar setelah mengambil pakaian ganti, Mbok Jum masih terlihat sibuk di depan kompor.

__ADS_1


"Sebentar," Mbok Jum berjalan mendahuluinya dengan membawa panci kecil saat ia akan masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa itu Mbok?" tanyanya saat melihat Mbok Jum menuangkan isi dari panci kecil itu ke dalam ember.


"Nanti tiap mau mandi rebus daun sirih dulu, terus airnya dipake mandi seperti itu," tunjuk Mbok Jum ke dalam ember.


"Buat apa?"


"Hilangin bau badan. Sudah mandi cepet, keburu suamimu pulang."


Di dalam kamar mandi Hanum mencium kembali ketiaknya.


Berarti bener badanku bau, mungkin Mbok Jum ga enak mau bilang. batin Hanum sedih.


"Di minum." Mbok Jum menunjuk segelas air berwarna kekuningan, saat Hanum melewati dapur setelah ia menyelesaikan ritual mandinya.


"Ini apa?" Hanum mengernyitkan hidung saat mencium aroma dari cairan di dalam gelas itu.


"Udah minum aja, biar badannya seger." Hanum menjepit hidungnya dan langsung meneguk cairan berwarna kuning itu.


"Enak ternyata. Kunyit asem ya, Mbok?" Mbok Jum mengangguk kecil masih fokus dengan masakannya.


"Makasih ya, Mbok. Kalo ga ada Mbok Jum, mungkin aku sudah lari dari rumah ini."


"Ga baik lari dari rumah, wong ada suaminya."


"Hehehe, ya. Aku bantu apa nih, Mbok?"


"Ga usah, dandan yang cantik aja. Den Alex sebentar lagi pulang." Gerakan tangannya mengusir Hanum keluar dari dapur.


"Widiiih, sepaket yang di etalase cuman dapet beberapa biji aja harganya 2,5jt. Segini banyak harganya berapa ya?"


Hanum memotret wajahnya tampak samping kanan, kiri dan dari arah depan, sesuai yang diminta Caroline lalu mengirimkannya lewat pesan singkat.


Dengan hati-hati ia mulai mengaplikasikan semua rangkaian perawatan wajah sesuai dengan petunjuknya.


"Semoga ada hasilnya pake ini. Pingin glowing juga kayak Andinnya mas Aldebaran," ucap Hanum, seraya mengoles cream di wajahnya.


"Mbok, ini kotak makannya." Hanum segera mendekat ke pintu kamar lalu menempelkan telinganya di daun pintu, saat mendengar suara Alex di dapur.


"Habis, den. Enak ya?" Jantung Hanum berdebar halus saat menunggu jawaban Alex, tapi jawaban yang ditunggunya tidak terdengar lagi.


Hanum membuka pintu kamar sedikit, ia mengintip memastikan jika suaminya sudah tidak berada di dapur.


"Mbok, tadi Alex bilang apa tentang masakanku?" tanya Hanum penasaran.


"Enak katanya."


"Bohong, ah. Aku ga denger apa-apa tadi."


"Den Alex memang ga bilang enak, tapi manggut-manggut kepalanya, sama aja toh?" jelas Mbok Jum.

__ADS_1


Hanum tersenyum lebar. Ia merasa usahanya tidak sia-sia meski saat di kantor tadi siang, ia harus mendapat malu dan tatapan hina.


...❤...


Statusnya memang istri sah dari putra sulung pemilik rumah mewah ini, tapi kesehariannya tidak lebih seperti asisten rumah tangga. Memasak, menyapu, mengepel, setrika dan segala macam jenis pekerjaan rumah tangga.


Alex dan keluarganya memang tidak meminta dirinya melakukan semua itu, dia sendiri yang mau karena sadar bahwa keberadaanya tidak diinginkan di rumah itu.


Pada hari minggu pagi saat Hanum membuang sampah di luar pagar, ia melihat banyak orang mulai dari anak kecil hingga lansia lewat di depannya berlari-lari kecil menuju taman yang terletak tak jauh dari rumah Alex. Dari jauh, sudah terdengar suara musik ritmik yang keras dari arah taman.


Hanum berlari masuk ke dalam dapur menemui Mbok Jum, "Mbok, aku boleh ikut senam di taman ga?" tanya Hanum meminta ijin.


"Boleh aja," jawab Mbok Jum singkat.


"Tapi aku jadi ga bisa bantuin Mbok Jum masak," sesal Hanum.


"Ngapain?, Mba Hanum itu ga ada kewajiban bantuin Mbok. Mba Hanum di sini itu Nyonya muda."


"Nyonya muda apaan, Mbok. Aku cuman numpang hidup aja di sini," ucap Hanum miris.


"Udah sana kalo mau senam, biar cepet langsing."


"Tau aja, " Hanum terkekeh, ia merasa malu tujuannya terbaca oleh Mbok Jum.


Ia masuk ke dalam kamar dan membongkar isi kopernya, mencari baju yang pas untuk dipakai berolahraga di taman.


"Atasan sih bisa pakai kaos oblong, kalo bawahan aku ga punya celana training ato legging," keluh Hanum.


"Pakai ini ajalah." Hanum mengenakan celana piyama tidurnya yang panjang.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Mampir ke sini juga yaa

__ADS_1




__ADS_2