
Aku terus saja melambaikan tangan ku sambil menangisi kepergian sahabat ku Ester, dia semakin menjauh memasuki ruangan dimana banyak sekali kerumunan penumpang lain.
" Sudah lah, suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan nya lagi, bukan kah dia berpesan agar kamu tetap kuat dan menjalani kehidupan mu dengan baik ke depan " Dipta memegang bahu ku, seperti mentransfer kekuatan pada ku
" Maaf " ucap ku menunduk, aku menghapus jejak air mata ku yang membasahi seluruh wajah ku, yang hampir melunturkan semua makeup yang aku poles pagi tadi
" ingin ku antar pulang atau kembali ke gedung wisuda? seperti nya acara masih berlangsung "
tanya Dipta pada ku
" Antar aku ke sekolah saja, aku hanya ingin mengambil ijazah ku, aku memerlukan nya untuk mencari pekerjaan " ucap ku
" Kenapa tidak menunggu hasil seleksi di kantor ku, maksud ku di kantor Dip company " tanya Dipta
" Aku akan mencoba ke tempat lain lebih dulu, untuk cadangan jika aku tidak lolos seleksi " ujar ku
" Baik lah, semoga kamu beruntung " ucap Dipta
" Terima kasih " ucap ku yang sangat tidak bersemangat
Suara dering ponsel ku mengalihkan pembicaraan ku dengan Dipta, tertera nama Ilham disana
" ya, Ilham " jawab ku
" Vi kamu di panggil ke atas panggung, kamu dimana "
tanya Ilham yang mungkin baru sadar sudah beberapa jam aku meninggalkan tempat itu
" Wakilkan saja, aku sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah " ucap ku
" Memang kamu berada dimana, sejak tadi aku mencari mu tapi tidak ketemu, sampai orang tua ku datang dan menahan ku di gedung ini " ucap Ilham
" Aku baru saja mengantar keberangkatan Ester ke Korea, aku sedang perjalanan dari bandara Soetta menuju ke sekolah " ucap ku
" what? anak itu!!! " ucap Ilham terkejut
" Vi sudah dulu aku akan menaiki panggung untuk mewakili kamu sebagai juara umum, kita bertemu di sekolah saja kalau begitu " ucap Ilham terburu-buru dan langsung memutus panggilan
Aku hembuskan nafas panjang, setelah ini aku harus melepas sahabat ku yang satu lagi yaitu Ilham, mengapa orang yang aku sayangi selalu pergi meninggalkan aku sendiri meskipun dengan alasan yang berbeda - beda.
Aku terus saja meyakinkan diri ku bahwa semua akan baik-baik saja setelah ini, aku masih punya harapan yang belum aku wujud kan.
" Are you be fine " tanya Dipta
" ya, aku baik-baik saja " jawab ku
" syukurlah, jangan pernah menyerah mengahadapi hidup, menjadi dewasa memang tidak mudah, tapi kamu harus tetap menjalani nya " ucap Dipta
" Ya, terima kasih " ucap ku
" Seperti nya kamu sudah terlalu sering mengucapkan itu, aku dengan senang hati membantu mu jika kamu membutuhkan sesuatu dari ku " ucap Dipta
" Ya " ujar ku
Dipta tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, mungkin dia berfikir aku terlalu naif menjalani hidup ini, aku tidak masalah apapun yang ia fikirkan tentang ku, karena dia tidak mengenal ku, tidak tahu apa yang sedang aku jalani saat ini.
Kami tiba di sekolah dengan keadaan sekolah yang sudah tidak banyak lagi siswa seperti tadi pagi
__ADS_1
Dipta memarkir mobil nya ke area parkir khusus untuk para staf pengajar di sekolah ku
" Sekali lagi terima kasih pak, eh .. Dipta , maaf sudah merepotkan " ujar ku sambil mengulurkan tangan ku
Dipta menyambut tangan ku dengan senyum nya, aku berusaha keluar dari dalam mobil Dipta dan melangkah mendatangi pintu kemudi, aku membungkuk kan tubuh ku tanda aku berterima kasih dan menghormati nya
Setelah itu aku membalik tubuh ku, dan melangkah menuju ruang guru untuk menanyakan pengambilan ijazah ku, tak ku sangka Ilham masih berada disana dan akhir nya Ilham mengarah kan aku ke ruangan pengambilan ijazah ku
" Kapan kamu berangkat? " tanya ku langsung pada ilham
" mungkin tiga hari lagi, karena aku harus datang lebih awal sebelum memulai kuliah untuk persiapan disana, maaf aku harus meninggalkan mu " jawab Ilham
" Tidak apa-apa, aku juga minta maaf seperti nya aku tidak bisa mengantar mu ke bandara " ucap ku
" Kenapa? " ucap Ilham kecewa
" Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggal " ujar ku berbohong
" huuffhhh " Ilham menghembuskan nafas nya kasar lalu mengangguk
" ijinkan aku antar kamu pulang " ujar Ilham
" oh, tidak perlu aku akan di antar pak Dipta " ujar ku berbohong lagi
" Mas Dipta? kamu sudah dekat dengan nya? bukankah kamu tidak suka dengan nya? " tanya ilham tak percaya
" Tadi dia yang mengantar ku ke bandara, aku telah menolong nya tadi maka itu dia membalas nya dengan manjadi supir ku sementara hahaha " ucap ku menertawakan kesedihan ku
" hahaha bisa saja kamu, tapi memang mas Dipta orang yang baik, dia teman kakak sepupu ku jadi aku sangat mengenal dia dan keluarganya "
ujar illham
" Sebentar mam, aku pamit dengan sahabat ku dulu " ujar illham pada mama nya
Mama Ilham sangat cantik, meskipun sudah terlihat berumur tapi tidak mengurangi kecantikan nya di tambah dengan gaya istri pejabat yang menambah ke anggunan nya.
Mama Ilham menghampiri ku dengan senyum tulus
" Selamat nak, kamu kan si juara umum itu " tanya mama Ilham
" iya Tante, terima kasih " jawab ku yang memang tidak pernah bisa memulai pembicaraan dengan orang tua dari teman-teman ku, selalu ada rasa khawatir jika takut nanti mereka tahu tentang orang tua ku.
Kami berbincang sebentar dan tiba lah Ilham pamit pada ku seperti nya inilah pertemuan terakhir kami, karena tiga hari ke depan Ilham pun akan di sibukkan dengan persiapan keberangkatan nya
Ilham memeluk ku dan mengusap bahu ku sangat lembut
" Jaga diri mu baik-baik, usaha kan kamu mendapatkan pekerjaan yang layak nanti nya, jika memang belum dapat katakan saja pada ku, agar aku bisa membantu mu mencari pekerjaan melalui papa ku " ucap Ilham sesekali menghapus air mata
" iya " hanya itu yang sanggup aku ucap kan
" Jangan pernah berubah, kamu harus tetap seperti ini,Vi yang kuat dan sabar " ucap nya lagi dengan terisak, dan aku hanya sanggup mengangguk kan kepala ku.
" Buatlah orang tua mu bangga, dan bahagia kan dirimu sebelum kamu membahagiakan orang lain, jangan menyimpan dendam apapun pada siapapun "
ucap Ilham sambil mengurai pelukan nya
Tanpa kami sadari sedari tadi, Dipta masih memperhatikan interaksi ku bersama illham, ada rasa tidak nyaman di hati Dipta saat melihat Ilham memeluk ku di tambah mengelus bahu ku lembut
__ADS_1
" Dasar bocil, sudah pintar membuat ku patah hati " ucap Dipta sambil tersenyum kecut, dan ia segera menyalakan mesin mobil nya lalu beranjak pergi.
***
Aku sudah sampai di rumah ku, ku hapus semua sisa makeup yang masih menempel di wajah ku
Aku menangis sambil memandang wajah ku dari pantulan cermin
" Betapa menyedihkan kamu Vi " ucap ku pada diriku
" Kamu benar-benar sendiri sekarang " ucap ku lagi
Ku pegang satu amplop berwarna coklat dari dalam satu map yang berisi ijazah ku dan buku penilaian akhir sekolah, ku buka amplop yang tertera di sana tulisan :
- Dip Component Indonesia company -
Aku membaca kalimat demi kalimat yang disana tertulis kelulusan ku untuk seleksi calon karyawan perusahaan Tersebut.
Aku sangat bersemangat membaca nya dan di surat tertulis bahwa tiga hari lagi aku di haruskan datang langsung ke kantor Dip company, aku sangat bahagia di sela-sela kebahagiaan ku terdengar suara ketukan pintu rumah ku, aku beranjak menuju pintu untuk melihat siapa yang datang menemui ku
" Assalamualaikum Vi " ujar tamu yang datang sambil terus mengetuk
" Wa'aalaikumsalam, sebentar " aku mengeras kan suara ku agar terdengar oleh orang di luar sana
Ku gapai gagang pintu yang terbuat dari besi dan ku putar agar dapat membuka.
" Hafidz !!! " mata ku melebar sempurna melihat teman kecil ku yang sudah berada di depan teras rumah ku, senyum nya merekah saat melihat ku terkejut sambil menyebut namanya, aku sudah pasti masih mengenali nya meskipun sudah tiga tahun aku tidak bertemu, karena hafidz memiliki mata sipit, kulit nya sangat putih, bibir nya tipis dan merah yang jarang aku temui pada orang sekitar ku, hanya dia yang memiliki ciri khas itu beda nya dia sekarang lebih tinggi dan tubuh nya lebih berotot
" Assalamualaikum Vi, apa kabar " ucap dia dan masih dengan ciri khas yang lain yaitu hafidz kurang fasih menyebutkan huruf R.
" Ba - baik hafidz, silahkan masuk, ta- tapi rumah ku tidak bagus, apa kamu mau? atau emmmm. " aku belum melanjutkan kata-kata ku, hafidz tiba-tiba melangkah masuk ke dalam rumah ku, dan langsung menduduki lantai di ruang tamu ku, aku sudah tidak memakai sofa di ruang tamu karena selain sofa nya sudah sangat usang itu membuat sempit ruangan
" Sebentar jangan duduk di lantai aku ambil karpet " aku bergegas masuk ke ruang kamar mengambil satu buah karpet yang baru saja aku laundry
" Berdiri lah dahulu, aku ingin memasang karpet ini " ucap ku saat kembali melihat hafidz masih terduduk di lantai sambil memainkan ponsel
" Biar ku bantu memasang nya " suara itu, suara yang aku rindukan sedari dulu, " ya Allah. terima kasih " ucap ku dalam hati
" ya, seperti ini fidz cara nya " Aku mengarah kan agar hafidz membentang kan dengan baik
" Bagaimana sekolah mu Vi " ucap hafidz setelah kami berhasil membuat karpet membentang sempurna
" Baru saja aku lulus, dan aku sudah mengambil ijazah kemarin " jawab ku
" juara umum tidak? " tanya nya sambil tersenyum
" Alhamdulillah iya " jawab ku
" Pintar " Dia mengacak ujung kepala ku membuat rambut ku berantakan
" Hiiissss " aku menepis tangan hafidz
" Hahaha, aku kira sudah berubah, ternyata masih suka ngambek ya kamu " ujar nya gemas sambil mencubit kedua pipiku
Lanjut lagi yaaaa
🌼🌼🌼
__ADS_1
TBC