Cerita Cinta Nuvia

Cerita Cinta Nuvia
kenyataan pahit 2


__ADS_3

Aku dan beberapa siswa khususnya siswa-siswi jalur beasiswa masih berkutat dengan soal-soal yang menurut ku seperti surat kabar (koran ).


begitu banyak soal yang mereka berikan pada kami, beruntung nya aku dengan mudah menyelesaikan semua pertanyaan yang mengandung unsur berhitung dan bahasa asing yaitu bahasa Jepang dan bahasa Inggris.


Empat puluh lima menit berlalu begitu saja, dan aku sudah menyelesaikan nya padahal waktu yang mereka berikan sembilan puluh menit.


Aku hanya berdiam diri di kursi yang aku duduki, dan teralihkan saat seorang pria menghampiri ku


" Kenapa anda hanya berdiam diri, apa soal yang kami berikan terlalu sulit " tanya nya pada ku


Aku mendongak pada pria jangkung tersebut, ku lihat memang tampan, tapi sayang dia terlalu sombong mengatakan itu pada ku.


" Maaf pak, ini tidak sulit bahkan saya sudah menyelesaikan nya dengan cepat " ujar ku


Pria itu pun menarik satu lembar kertas ku, melihat dengan seksama dan meletakkan kembali pada meja yang aku pakai untuk tumpuan kertas soal ku.


" Jika ada yang sudah selesai, silahkan di tinggal kan lembar soal di meja masing-masing " ujar salah satu pria yang terlihat lebih tua di banding si pria jangkung


Aku berdiri dan menutup lembar soal yang sudah aku kerjakan, Guru ku tidak heran begitu juga siswa-siswi yang mengikuti seleksi bersama ku


Aku sudah terbiasa mendapat gelar juara umum, aku salah satu siswa terbaik di sekolah ini.


" Cari tahu siswi itu sekarang " ujar sang pria jangkung pada asisten nya


" Baik pak Dipta " jawab sang asisten langsung menyambar laptop yang sedari tadi hanya menghiasi meja di depan pria jangkung.


Sang asisten berkutat dengan biodata siswa, di teliti satu persatu siswa yang mengikuti seleksi.


Tertera di layar


Nama : Nuvia Anggasari


Dan banyak lagi informasi tentang ku, sang asisten membisikkan sesuatu ke telinga pria itu, dengan cepat si pria mengambil alih laptop yang sedang di gunakan oleh asisten tersebut.


**


Aku dan Ester keluar dari ruangan Aula tempat kami berkumpul tadi, dari kejauhan terlihat Ilham sedang berjalan menghampiri aku dan Ester.


" Nuvia !!! " tangan Ilham melambai pada kami


Ku menoleh pada sekeliling tempat ku berjalan bersama Ester, siapa tahu ada trio macan yang bisa saja melihat kelakuan Ilham, yang membuat mereka murka kembali pada ku.


Aku hanya tersenyum pada ilham, meskipun tidak dengan Ester, dia justru membalas lambaian tangan Ilham, membuat ku geli sendiri


" Dasar Ester tidak pernah tahu situasi " ucap ku dalam hati sambil terkekeh, apa dia tidak sadar jika nanti trio macan melihat pujaan hati mereka berinteraksi dengan Ester apa yang akan mereka lakukan???

__ADS_1


" Vi, bagaimana tadi? aku sih yakin kamu bisa menyelesaikan dengan mudah " tanya Ilham dan dia sendiri yang Jawab setelah berhasil menghampiri kami


" Tidak terlalu sulit " jawab ku sambil tersenyum


" Aku dengar esok adalah hari tenang selama dua hari sebelum kita melaksanakan ujian Nasional " ujar Ilham mata nya melirik pada Ester


" Lalu??? " Jawab ku


" Boleh kah kami belajar bersama mu " tanya ilham lagi


" Boleh saja, tapi kalian tahu lah rumah ku tidak senyaman rumah kalian " ucap ku


" oyah aku hampir lupa, belanjaan mu kemarin masih tertinggal di rumah ku " ucapku menatap Ilham


Ilham hanya melihat ku, lalu berpindah pada Ester


" stok makanan kemarin memang sengaja aku belikan untuk kamu Vi " ucap Ilham lagi-lagi mata nya melirik Ester


" Aku tahu orang tua mu tidak pulang ke rumah jadi aku dan Ester berinisiatif untuk membawa makanan itu agar kamu .... maaf ya Vi " ucapan Ilham terhenti dan hanya meminta maaf sambil menangkup kedua tangan nya, mungkin Ilham dan Ester tahu perihal kedua orang tua ku mereka takut aku kelaparan tapi tidak enak hati mengatakan itu pada ku.


" Terima kasih atas bantuan kalian pada ku " aku menunduk sedih, keluarga besar ku saja tidak pernah berfikir seperti mereka


🌸🌸


Bel berbunyi menandakan sudah saatnya para siswa untuk kembali ke kediaman nya masing-masing


" Tidak apa-apa Ester, aku harus terbiasa melakukan apapun sendiri untuk kedepan nya, maka aku harus membiasakan dari sekarang " ucap ku seraya membawa tas ku


" Jika butuh sesuatu katakan pada ku, aku yakin uang yang aku berikan kemarin pasti sudah mau habis "


Ujar Ester menepuk halus bahu ku


" Masih ada Ester, aku akan memakai uang dari mu hanya untuk sesuatu yang sangat penting "


ujar ku agar Ester tidak perlu repot-repot untuk menolong ku terus menerus


Ester kemarin memberi ku uang sebesar 200rb dengan nominal pecahan 50rb yang terdiri dari empat lembar, sebenarnya orang tua ku meninggal kan ku dengan beberapa urusan, seperti pembayaran listrik.


Dan akhir nya uang tersebut aku pakai untuk membayar iuran listrik senilai 180rb.


Aku tidak pernah khawatir dengan perut ku, karena menahan lapar sudah biasa ku lakukan.


aku terus melangkah kan kaki ku pada jalan setapak yang nanti nya bisa langsung terhubung dengan jalan raya, tempat ku menunggu angkutan umum.


Aku berdiri di terik nya mentari siang hari dengan peluh keringat ku, beberapa kali aku memberhentikan angkutan tapi semua terlihat penuh sesak penumpang yang akhirnya membuat ku membutuhkan waktu cukup lama berdiri di pinggir jalan besar.

__ADS_1


☀️☀️


" Kasihan juga dia " ucap Dipta dari dalam mobil mewah nya


" Apa perlu saya ajak anak itu Bro " tanya sang asisten yang ternyata sahabat Dipta


" Tidak perlu, perhatikan saja Dari kejauhan, jika 30menit lagi dia belum mendapat angkutan, kau yang urus nanti "


Dipta dan Fery sang asisten masih memperhatikan aku sambil mereka berbincang masalah pekerjaan, Dipta sebenarnya masih tergolong muda umur nya baru beranjak 20thn tapi kekayaan orang tua nya membuat Dipta sudah bisa menjabat wakil direktur di perusahaan orang tua nya.


Dipta dan Fery pun memiliki bisnis yang lumayan menjanjikan yaitu memiliki saham pada perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi udara


mereka sudah memulai nya sejak satu tahun lalu.


Dipta memiliki kekasih bernama Anin mahasiswi kedokteran universitas ternama di Jakarta


Dipta bukan laki-laki yang senang berganti kekasih, tetapi karena ketampanan dan kekayaan orang tua nya membuat para wanita muda tidak berhenti mengejar nya, tanpa perduli status Dipta yang sudah memiliki kekasih atau tidak membuat semua wanita yang sedang berhubungan dengan Dipta cemburu dan akhirnya Dipta memilih memutuskan hubungan karena risih dengan hubungan yang tidak sehat menurut nya.


Suara ponsel mengalihkan perhatian Dipta yang sedang memandang gadis SMA yang wajahnya terlihat sudah memerah akibat terkena sengatan sinar matahari.


" Hallo ada apa " tanya Dipta pada lawan. bicara nya di sambungan telepon


" Sayang, aku ingin membeli tas keluaran terbaru tas itu limited edition jadi harus cepat membeli nya agar tidak kehabisan " ujar sang kekasih dengan manja


" ya " jawab Dipta lalu memutuskan panggilan


" Transfer uang ke rekening Anin, dia ingin membeli tas limited edition " ujar Dipta pada Fery


" Sudah lah Dipta, kita bekerja bukan untuk memenuhi keinginan Anin, kau lupa jika kita akan menanam saham lagi pada perusahaan Dirgantara Airline "


ucap Fery yang kesal dengan Dipta yang selalu mengabulkan apa yang di minta Anin


" Biarkan saja, dia penurut dan tidak macam-macam, dia hanya memenuhi kebutuhan nya tidak seperti wanita lain yang senang membangkang "


ucap Dipta dingin.


Fery pun mengetik kan sesuatu pada layar ponsel nya dan melaporkan pada Dipta kalau Fery sudah berhasil mentransfer sejumlah uang


" Bro, seperti nya gadis itu sudah dapat angkutan, apa kita ikuti? atau bagaimana " tanya Fery hati-hati


" kita kembali ke perusahaan " ujar dipta.


Dan mobil yang mereka tumpangi pun melesat membelah kota Bogor menuju Jakarta


🌼🌼🌼

__ADS_1


TBC


__ADS_2