
BUNDA !!! ...
Arkan dan Dirga histeris melihat sang bunda yang sedang bersandar pada sofa dengan mata tertutup.. mereka berlari menuju tempat dimana sang ibu berada .. dengan segala rasa Arkan dan Dirga meluapkan semua kerinduan nya dengan memeluk tubuh ringkih sang bunda.. Dirga melepas pelukan nya lebih dulu karena kasihan melihat keadaan sang bunda yang sedang terlelap
" Bun .. wake up " Suara cempreng Arkan membuyarkan mimpi Nuvia .. ia membuka kedua matanya melihat sosok bocah kecil yang sedang bergelayut manja pada tubuh nya ..
" Sayang .. Ar - Arkan .... " Nuvia belum sanggup untuk menggerakkan tubuh nya akibat reaksi obat yang di berikan oleh dokter firman
" bunda .. kenapa tidak menjemput adek di lumah om zein? " Arkan seolah memprotes keras pada sang bunda
" Arkan .. bunda belum sehat jangan seperti itu " ..
Suara khas Dirga membuat Nuvia menoleh.. Nuvia tidak kuasa menahan haru .. kedua jagoan nya sudah berada di hadapan nya .. tapi Nuvia sendiri tidak dapat berbuat banyak..
" Mas Dirga kemari nak .. " suara lemah Nuvia membuat Dirga menggerakkan tubuh nya untuk kembali mendekati sang bunda, Dirga pun sangat merindukan sosok bunda nya, hanya saja Dirga lebih bisa mengendalikan perasaan nya ..
" Bunda .. mas rindu .. " Air mata Dirga meluncur tanpa permisi, sekuat apapun ia menahan nya .. tapi Dirga hanyalah bocah kecil yang akhirnya membuat pertahanan nya Runtuh saat melihat ketidakberdayaan sang ibu ...
" Bunda juga .. bunda rindu kalian.. maafkan bunda nak " .. Nuvia memeluk kedua nya seakan tak ingin melepas
Dipta dan orang tua Hafidz yang melihat pemandangan itu hanya dapat menundukkan kepala.. mereka sangat tidak tega melihat ketiga nya ..
" bunda dimana ayah? " ..
- Deg -
Nuvia kembali mengingat terakhir kali ia bersama suami nya .. seperti sebuah rekaman video Nuvia terus melihat semua kejadian demi kejadian di masa lalu nya ...
" Vi .. " mama Hafidz ikut mendekat.. tangan keriput nya mengelus lembut kepala sang menantu
" Ya Allah .. mama .. " Nuvia menitikkan air mata melihat wanita paruh baya di hadapan nya, wanita pengganti ibu kandung nya....
" iya nak .. mama dan papa senang melihat kamu mengingat kami " senyum tulus mama hafidz semakin membuat Nuvia merasa berdosa.. apa yang ia lakukan selama ini?? kenapa dirinya tega bersikap egois dengan tidak dapat mengendalikan emosi nya
" Maafkan aku ma ...."
" Sudah Vi .. tidak ada yang perlu di maafkan " ..
" sudah lebih baik? " tanya mama hafidz
" masih sedikit pusing ma .. dan entah kenapa tubuh ku terasa lemas .. " ucap Nuvia mengadu pada mama mertua yang sudah ia anggap sebagai ibu kandung nya ..
Dipta dan papa Hafidz bersamaan ikut menghampiri Nuvia, Dipta tersenyum lega melihat semua baik-baik saja sesuai keinginan nya
" Pak .. Bu .. beristirahat lah dulu .. mbok Suti sudah menyiapkan kamar kalian .... " ujar Dipta pada orang tua Hafidz
" Santai saja pak Dipta .. kami sudah memesan hotel dekat sini " .. papa hafidz merasa tidak enak dengan Dipta jika harus menumpang di rumah yang Dipta persiapkan untuk Nuvia
" ooh .. tidak pak .. lebih baik bapak dan ibu tinggal disini .. karena saya tidak tinggal bersama Nuvia di rumah ini " ... Dipta tidak ingin orang tua Hafidz salah paham akan keberadaan nya..
" saya mengerti pak Dipta " ucap papa hafidz sambil tertawa
" Permisi pak .. makanan sudah siap " mbok Suti mengalihkan perhatian orang-orang yang berada di ruang tamu dengan kehadiran nya
__ADS_1
" terima kasih mbok " ... Jawab Dipta kemudian di angguki oleh mbok Suti
" Vi .. mari aku bantu ke meja makan " ucap Dipta sambil mendekat
" Biar vi di bantu mama dan mbok Suti saja nak .. " mama hafidz memotong jawaban dari Nuvia
" Baik Bu .. " Dipta pun kembali menghampiri papa hafidz yang masih berdiri.. dan belum sempat bertegur sapa dengan menantu nya karena sudah di kuasai sang istri ..
" Mari pak .. sebelum beristirahat kita isi perut yang kosong ini " ... ajak Dipta sambil menggandeng bahu papa Hafidz.. mereka pun terlihat sangat akrab dengan melangkah sambil bercengkrama..
" boys .. come on " ajak Dipta pada dua bocil sambil melambaikan tangan nya
" ok Daddy .. " Arkan berjalan dengan hati senang.. berbeda dengan Arkan, sang kakak Dirga justru masih mengingat ayah nya karena ucapan Arkan pada Nuvia tadi ..
" Mas kenapa? " tanya Nuvia pada si sulung Dirga
" Tidak apa-apa bunda .. aku ingin menunggu bunda" jawab nya berbohong..
Nuvia pun hanya bisa memandang wajah Dirga yang sedang menahan kesedihannya.. " pasti Dirga teringat hafidz " dalam hati Nuvia bermonolog
" Mari sayang .. " mama Hafidz mengalihkan pikiran Nuvia.. ia mencoba membantu Nuvia untuk berdiri dan memapah nya ke arah meja makan .. mbok suti sebenarnya ingin membantu hanya saja ia sungkan untuk mengatakan nya...
Dipta melirik ke arah wanita paruh baya yang sedikit kesulitan dan akhirnya ia pun kembali menghampiri Nuvia.. ia tahu Nuvia masih lemah .. karena obat dari dokter firman tadi ....
" maaf Bu .. biar saya saja " Dengan cepat Dipta mengangkat tubuh Nuvia dalam dekapan nya ..
Mama Hafidz dan mbok suti saling tatap dan tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangan
" maklum ya mbok .. faktor umur .. hihihi " ucap mama Hafidz geli sendiri dengan tingkah laku nya
Mereka menikmati makanan dengan tenang.. ada beberapa ocehan Arkan yang masih dapat di kendalikan oleh sang nenek yang begitu telaten mengawasi nya ..
Setelah makan bersama selesai seluruh penghuni rumah itu berbincang tentang kegiatan di Hari berikutnya..
Dipta yang akan di sibukkan dengan urusan kantor akan absen beberapa hari untuk mengawasi kondisi Nuvia, dan orang tua hafidz lah yang akan menggantikan posisi nya di rumah itu
" Pak .. Bu .. saya pamit pulang dulu , tolong jangan sungkan menghubungi saya jika ada yang perlu saya lakukan " ujar Dipta sebelum meninggalkan kediaman Nuvia
" Terima kasih banyak pak Dipta.. kami mohon maaf jika selalu merepotkan.. kami benar-benar berhutang Budi pada bapak " papa Hafidz yang notabene nya kurang mengenal Dipta sangat tidak enak hati dengan keadaan Sekarang..
Nuvia yang seharusnya tanggung jawab keluarga nya, justru keluarga nya seolah melemparkan masalah pada Dipta ..
" Tidak perlu sungkan pak, ini memang sudah menjadi tanggung jawab kita semua, terlepas dari siapa Nuvia, saya dengan senang hati di libatkan dalam keadaan ini " ucap Dipta tenang
" Bagaimana untuk kedepannya .. Nuvia dan anak-anak saya menyerahkan pada bapak sekeluarga.. saya hanya minta.. tolong jangan jauhkan saya dari putra saya Dirga " Dipta sudah sadar dengan posisi nya, awal Dipta bisa kembali bersama dengan Nuvia hanyalah sebatas membantu pengobatan nya .. tidak lebih dari itu..
papa Hafidz menarik nafas dalam-dalam.. pria paruh baya itu mengerti perasaan Dipta, tapi papa hafidz tidak bisa berbuat apapun tentang perasaan Nuvia .. ia tidak ingin mencampuri urusan perasaan menantu nya .. yang ia tahu belum bisa membuka hati untuk orang lain
***
Dipta sudah dalam perjalanan untuk kembali ke kediaman nya untuk beristirahat, sebelum nya ia akan bertemu dengan sahabat nya yaitu dokter firman yang sudah menunggu nya di salah satu cafe di bilangan Jakarta....
" Hallo.. Dimana? " Dipta menghubungi firman pada sambungan ponsel
__ADS_1
" Aku sudah di parkiran.. tunggulah " Dipta menutup sambungan ponsel nya dan mulai keluar dari mobil untuk bertemu firman di salah satu meja cafe yang sudah firman arahkan ..
Firman melambaikan tangan nya saat melihat sosok Dipta yang sedang mengedarkan pandangan mencari keberadaan nya ...
" Ada apa? " Dipta tanpa basa-basi menanyakan inti dari pertemuan kedua nya
" Santai lah bro .. kau seperti nya terlalu serius menghadapi hidup " ujar firman dengan nada meledek
" Aku harus kembali ke rumah, Ferry sudah menunggu ku " jawab Dipta mode dingin
" Aku ingin membahas kesehatan Nuvia " firman mengeluarkan satu map yang berisi kertas hasil test kejiwaan Nuvia
" Bukankah Nuvia sudah pulih? " tanya Dipta sembari mengambil kertas yang ada di hadapan nya, membaca dengan seksama
" Aku tidak paham " Dipta kembali menyodorkan kertas pada firman
" Nuvia masih melupakan mu!! " ucapan firman membuat Dipta mengerutkan keningnya...
" Apa maksud mu? " ...
" Apa kau lupa terakhir kali perasaan Nuvia terhadap mu? bukan kah ia sangat membenci mu? " tanya firman membuat Dipta semakin bingung
" Nuvia sudah mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidup nya .. itu yang ku tahu " ucap Dipta tegas
" No ...Dip .. kau salah.... " ...
" Aku sudah katakan diawal diagnosa ku, Nuvia bukan Hilang ingatan.. ia hanya menutup rasa kesakitan nya di masa lalu, apa Nuvia mengingat orang tua nya? " lagi-lagi firman membuat Dipta tersadar...
" benar .. Nuvia tidak pernah mengingat orang tua nya! " Dipta bergumam dalam hati nya
" Aku hanya khawatir jika tidak di ingatkan dari sekarang, ia akan di ingatkan nanti.. setelah kalian bersama .. apakah itu tidak lebih menyakitkan?? " ujar firman ambigu
" Maksud mu?? aku dan Nuvia ?? " ..
" Hei bro .. ada apa dengan pemikiran mu?? aku saja tidak pernah berfikir sejauh itu, aku hanya membantu kesehatan Nuvia.. aku tidak mengharapkan Nuvia agar kembali kepada ku!! Nuvia sehat dan bisa merawat anak-anak nya Dengan baik , itu sudah cukup untuk ku!! " Dipta baru paham maksud firman..
Mungkin selama ini firman berfikir Dipta memanfaatkan situasi, mencari peluang masuk kembali dalam kehidupan Nuvia..
" Aku tidak munafik kalau aku masih mengharapkan Nuvia, tapi kebahagiaan putra ku .. kesehatan Nuvia.. dan kebaikan untuk semua yang aku utamakan.. apa jangan-jangan kau menyukai Nuvia?? " skak mat untuk dokter firman dari sahabat nya membuat dokter firman tidak bisa berkata apa-apa..
" oh tuhan ... bro ... kau !!!!! " Dipta berdiri dan membalikkan tubuh nya .. ia tidak ingin berdebat dengan sahabat nya sendiri.. Dipta ingin melangkah tapi ia menoleh kembali pada sahabat nya
" Bahkan aku tidak perduli jika Nuvia membenciku lagi di saat ia mengingat siapa aku !!!! "
Kemudian Dipta melangkah meninggalkan sahabat nya itu.. Dipta kecewa dengan firman ...
🌼🌼🌼
TBC
.
.
__ADS_1
.
.