Cerita Cinta Nuvia

Cerita Cinta Nuvia
beradaptasi


__ADS_3

Aku sudah sampai di satu hunian seperti rumah, namun. memiliki banyak ruangan kamar yang lumayan luas untuk ukuran satu orang penghuni


Setiap satu kamar berisi satu ranjang tidur, satu lemari dan satu meja bulat di kelilingi tiga buah kursi, ada televisi dan juga pendingin ruangan tidak lupa lemari pendingin berukuran kecil.


Untuk kamar mandi pun berada di dalam kamar yang di jadikan satu bersama toilet, untuk dapur sendiri berada di luar kamar yang bisa di gunakan bersama oleh para penghuni lain.


" inilah tempat favorit ku Nuvia " mba Feni menjatuhkan tubuh nya tengkurap di ranjang yang terbalut seprai motif bunga mawar


" Ya mba " ucap ku tersenyum


" Hadeeehhh, ga usah kaku gitu lah sama aku, aku jadi risih tau nggak " ucap nya sambil memiringkan tubuh nya menghadap aku


" Eh, iya mba maaf saya masih canggung " ujar ku


" Jangan berdiri terus, duduk lah banyak kursi disana " tunjuk mba Feni pada kursi yang melingkari meja


" simpan tas besar mu di sudut sana " tunjuk ia lagi pada sudut dinding yang terdapat lemari pakaian


" Iya mba terima kasih " ujar ku sambil melangkah menuju sudut dinding meletakkan tas yang ku bawa di bawah sana


" Buat mie instan seperti nya enak, keluar yu sekaligus aku kenalkan kamu pada teman-teman ku, yang sedang berada di sini selebihnya mungkin belum pulang bekerja " ajak mba Feni


" baik mba " jawab ku masih canggung


Kami pun keluar dari kamar mba Feni, menuju dapur di rumah itu


Terlihat sangat sepi, tak ada orang lain selain aku dan Mba Feni di sana


Mba Feni mengisi air pada sebuah panci dan meletakkan di atas kompor sambil menyalakan nya


Setelah itu ia melangkah ke arah satu kamar yang dekat dengan nya


" Endah ... Endah .. sedang apa kau " mba Feni mengetuk satu kamar yang berada dekat dapur


pintu pun terbuka terlihat satu sosok wanita cantik, dengan tinggi melebihi tinggi tubuh ku, dengan rambut pendek berwarna hitam di bland dengan warna keunguan, yang sedang menguap


" Berisik sekali kau, menganggu ku saja " ujar nya kemudian duduk di kursi yang berada tepat dekat pintu kamar nya.


Dia mengambil sebatang rokok dari bungkus nya yang tergeletak di meja dekat kursi dan membakar nya.


asap mengepul dari bibir tipis berwarna merah, dan dia memandang ku heran


" Siapa kau? " tanya nya dengan wajah yang judes


" A - aku Nuvia " jawab ku takut


" Hey Endah jangan menakuti adik ku " jawab mba Feni


Aku cukup terkejut mendengar penuturan mba Feni, tapi aku netral kan dengan senyum


" Sejak kapan Krisna berubah jadi perempuan " ucap wanita yang di panggil Endah oleh mba Feni


" Ya, adik baru Nemu tadi di bus hahahaha " jawab mba Feni yang lagi-lagi tetap ceria


" Mau? " tanya Endah pada ku sambil menyodorkan bungkusan rokok milik nya

__ADS_1


" Ah, tidak mba Terima Kasih " jawab ku


" Duduklah Nuvia, bisa-bisa kau tambah tinggi jika berdiri terus di sana " ujar mba Feni memberikan aku satu buah kursi plastik


" iya mba " Aku mengambil kursi itu dan menduduki nya, sedikit bergeser dari awal mba Feni memberikan karena ada mba Endah disana


" Umur nya masih muda, baru lulus SMA mau cari kerja kata nya, kau bisa mengajak nya bekerja di tempat mu? " tanya mba Feni pada teman nya


" Jangan lah, wajah nya tidak akan di takuti oleh para FA (flight attendant) " ucap mba Endah


" Lalu, bagaimana? kasian aku lihat nya, wajah doang bule rezeki nya buluk hahahaha " ucap mba Feni yang seolah-olah aku tidak berada di sana


" Kenapa tidak melamar jadi F.A saja dia " ujar mba Endah


" Kau mau Nuvia " tanya mba Feni


" Hah? " kaget ku .


aku yang sedari tadi mendengar obrolan mereka belum paham maksud profesi itu


" Nanti aku yang mengantar dia ke kantor pusat, besok aku off dua hari " ujar mba Endah


" Jangan besok lah, belum tentu Nuvia sudah mempersiapkan persyaratan nya " ujar mba Feni


" Nama mu Nuvia? " tanya mba Endah


" iya mba, Nuvia Anggasari " jawab ku


" Kamu sudah bawa persyaratan untuk melamar pekerjaan? " tanya nya lagi


" Aku hanya memiliki ijazah dan KTP mba " Aku memang tidak tahu apa saja persyaratan nya


" Nah, ikut lah dengan nya besok, tidak perlu takut pada nya, kartu As nya ada pada ku " mba Feni tersenyum licik pada teman nya


" Sial kau " mba Endah melempar sesuatu pada wajah mba Feni, yang di balas dengan tertawa puas oleh. mba Feni


" Seru sekali mereka " dalam hati ku berbicara sendiri


Entah kenapa aku sangat nyaman berada di tempat ini, melihat kebersamaan mba Endah dan Mba Feni seolah aku memiliki saudara perempuan


" Nuvia, orang tua mu kemana? kenapa kau pergi sendirian ke kota ini? " tanya mba Endah


" emmmm.. mereka berpisah dan emmmm " aku ragu menjawab apa


" Sudah lah, aku sudah mengerti " ujar nya


" Lagi-lagi korban perceraian orang tua " mba Endah bergumam sambil membakar lagi satu batang rokok


Aku hanya menunduk, berfikir apa mungkin mba Endah sama seperti ku? atau ah ... aku tidak tahu


" Kau hubungi lah keluarga mu Nuvia agar mereka tidak kebingungan mencari mu " ujar mba Feni


" Sebelum nya aku sudah mengirimkan pesan mba, dan mereka pun tahu keputusan ku ini " jawab ku


" baguslah kalau begitu " ujar mba Feni

__ADS_1


" Kau ingin beristirahat di kamar ku atau Endah? " tanya mba Feni pada ku


" Biarkan dia di kamar ku nanti , aku sedang bertugas malam hari ini " potong mba Endah sebelum aku menjawab


🌸🌸🌸


Di kediaman paman ku


Terlihat ketegangan di wajah paman dan bibi ku, mereka baru saja menjelaskan tentang pertanyaan yang di lontarkan oleh orang tua hafidz


" Apa anda yakin dengan pernyataan anda pak Zaki " tanya hafidz


" Sangat yakin nak hafidz, Vi memang tidak jauh berbeda dengan mama nya, dia anak yang liar dan tidak tahu aturan, apalagi setelah kejadian orang tua nya yang memilih untuk berpisah, Vi hidup seorang diri tidak ada yang mengawasi nya, maka dia bebas ingin melakukan apapun " ungkap paman ku


" Anda bukan kah kerabat nya? Mengapa anda tidak mengawasi keponakan anda? " tanya hafidz lagi


" Bukan saya tidak mengawasi, bahkan saya sudah sering kali memperingati dia agar tinggal di rumah ini tapi dia tidak mau, padahal orang tua kami yang notabene nya eyang Vi, sudah mengamanatkan pada saya bahwa rumah ini milik bersama, saya dan papa via " ujar paman sambil memasang muka sedih


" Saya merasa gagal menjadi paman " ujar nya lagi


" Sudah lah hafidz, suatu saat via akan kembali, kamu bisa menanyakan langsung pada via mengapa dia memilih pergi " ujar mama hafidz pada putra nya


" Aku mengenal via sejak dia masih sekolah dasar ma,. dia sering sekali menangis karena di bully oleh teman-temannya, dia tidak pernah memiliki teman sejak para orang tua di permukiman sini melarang anak-anak nya berteman dengan via " cerita hafidz


" Vi anak yang penurut dan berhati mulia, dia tidak bisa menyakiti orang lain meskipun orang itu sudah menyakiti nya " ucap nya lagi


" Aku ingat saat terakhir bertemu dengan nya kemarin, banyak kesedihan yang ingin dia ceritakan padaku, hanya saja aku belum bisa berbincang sejauh itu untuk mencari tahu apapun tentang kehidupan nya belakangan ini "


" Kondisi kami hanya berdua di rumah nya, aku tidak ingin ada fitnah lagi pada nya, dia sering sekali di fitnah ma, dan aku sangat tahu Vi trauma akan segala tuduhan yang tidak pernah dia lakukan apalagi mengenai orang tua, Vi sangat khawatir tentang kalian yang tidak menyukai nya karena status. orang tua nya "


tutup hafidz


Semua diam dan orang tua hafidz hanya menarik nafas mendengar penuturan putra nya


" Nak hafidz, ini ponsel kamu kan? Nuvia menyuruh saya menjual nya, untuk menutupi hutang-hutang nya pada saya, padahal saya sama sekali tidak pernah menghitung ataupun menagih saat keponakan saya itu meminjam uang pada saya " bohong paman ku


Hafidz menerima ponsel itu dan menyalakan ponsel yang kemarin dia berikan untuk Nuvia, tidak ada tanda bahwa Nuvia memakai ponsel tersebut terlihat dari baterai yang masih sama seperti kemarin terakhir hafidz gunakan


" Lalu bagaimana nak, sekarang Vi tidak tahu dimana, mungkin Vi butuh waktu sendiri memikirkan semua ini dia butuh hati yang tenang nak " ucap mama hafidz bijaksana dan papa hafidz hanya bisa mendengar kan tanpa berkomentar sedikit pun


" Maaf jika saya terlalu lancang, jika memang nak hafidz menginginkan pendamping dari keluarga kami, saya memiliki putri yang seumur dengan Nuvia, bisa kami bicarakan dengan putri kami yang saya yakin putri kami akan dengan senang hati menerima nak hafidz, putri kami anak yang penurut tidak pernah membantah dan tidak kalah cantik dengan Nuvia ". ujar paman ku mempromosikan putri nya


" yaa Allah pak Zaki tidak seperti itu maksud kami, jangan salah paham " ujar mama hafidz


" Sudahlah ma, mungkin belum jodoh putra kita Nuvia, mari kita pulang saja " papa hafidz berbicara karena sudah tahu ending nya akan seperti ini


Sebenarnya papa hafidz sedikit banyak tahu tentang keluarga Nuvia, karena pak Zakaria ayah nya Resti adalah sahabat papa ku jadi pasti papa hafidz sudah bertanya terlebih dahulu sebelum menyetujui permintaan anak nya untuk menemui keluarga Nuvia.


Akhirnya keluarga hafidz pamit dari kediaman paman ku, hafidz yang kecewa dengan Nuvia hanya terdiam sepanjang perjalanan mereka kembali ke kediaman pak Zakaria adik dari papa nya hafidz yang bertetangga dengan paman ku


" Cari lah Nuvia, papa yakin dia belum jauh meninggalkan kota Bogor " ucap papa hafidz


" Kamu masih ada waktu satu Minggu sebelum pendidikan mu di mulai, tapi pesan papa jika dalam satu Minggu Nuvia tidak juga ditemukan, fokuslah kembali pada pendidikan mu, karena Allah SWT tahu yang terbaik untuk hambanya " pesan papa hafidz


" Jodoh maut serta rezeki mu sudah Allah garis kan sebelum kamu di lahir kan " tutup papa hafidz sambil menepuk bahu putra nya

__ADS_1


🌼🌼🌼


TBC


__ADS_2