
Hari ini aku sudah di izinkan meninggalkan rumah sakit, aku sudah cukup sehat ... mertua ku serta papa ikut menjemput kepulangan ku, sebelum kami bertolak ke Bandung kami akan singgah terlebih dahulu ke kediaman paman ku, untuk sekedar syukuran acara pernikahan ku yang sudah di siap kan oleh para orang tua kami
" sayang ... apa masih ada yang tertinggal? " tanya hafidz sambil menoleh ke sembarang arah mencari-cari sesuatu
" Sudah tidak ada " jawab ku yang Sudah siap
" mari nak .. " mama mertua menggandeng tangan ku menuju lobby rumah sakit
" Aku lewat pintu belakang ya sayang, sekalian ambil mobil di parkiran " ucap hafidz mengelus bahu ku
" iya " jawab ku sambil tersenyum
Aku dan mama mertua melangkah bersama sambil berbincang, mama tertawa saat mengenang awal mula dia menjadi pengantin baru, banyak pelajaran yang ku dapat dari mertua ku, selain ibu yang bijaksana dia sosok wanita yang penuh rasa syukur dan penyayang
" Nanti Vi pakai baju yang mama kasih yaaaa, biar tahu rasa anak itu, sombong sekali bilang bisa menahan " mama menutup mulut nya mengejek putera nya sendiri, berawal dari aku yang menceritakan percakapan ku dengan hafidz kemarin pada mertua ku, karena aku memang bingung harus bagaimana jika sudah menjadi seorang istri
" oiya sayang besok hafidz akan sidang pra nikah di kantor nya, kamu ke rumah mama yaaa kita buat kue kesukaan hafidz " mama menawarkan lagi satu kebaikan nya pada ku, agar aku tahu apa yang suami ku suka dan tidak
Aku dan hafidz kemarin menikah secara agama saja, mengingat banyak proses yang harus kami lalui jika langsung menikah secara negara, sedangkan papa ku sudah sangat ingin cepat-cepat aku menikah dengan hafidz, karena ada salah satu perusahaan industri olahan susu sapi milik keluarga hafidz yang bisa di kelola oleh papa jika hafidz bisa menikahi ku, seperti itu lah papa ... di otak nya hanya ada uang .. dan .. uang
" iya ma .. jika hafidz mengizinkan " ucap ku sungkan
" Nanti mama yang minta izin sama hafidz " ucap sang mama bersemangat
Hafidz tiba di lobby untuk menjemput ku menaiki mobil nya bersama papa ku juga, sedangkan mertua ku berada di mobil lain milik papa hafidz
" Via, nanti mama mu akan datang bersama suami nya, Jangan terlalu dekat dengan nya, malu dengan keluarga hafidz nanti " ucap papa yang duduk di kursi depan bersebelahan dengan hafidz
" mama sudah tahu? " tanya ku kaget
" Sudah, Tante mu yang mengabarkan pada nya " ucap papa kesal
" Coba saja nanti kamu lihat via, keluarga mama mu pasti akan mengakui kamu adalah keluarga nya karena tahu kamu menikah dengan hafidz " ucap papa tidak ada hentinya menjelekkan mama ku
" Sudah lah om jangan menambahkan beban fikiran istri ku, kasihan Vi nanti sedih lagi, om juga harus lebih belajar ikhlas meskipun tidak mudah tapi pasti bisa, Jangan menaruh dendam terlalu lama, akan menjadi penyakit nanti nya " ucap hafidz menggurui papa
" Panggil papa saja fidz , biar sama dengan via " ujar papa tanpa menanggapi nasehat hafidz yang sebenarnya ada baik nya
" Siap pa " ujar hafidz sambil tertawa
__ADS_1
* * *
empat puluh lima menit berlalu kami pun tiba di kediaman paman ku, suasana tidak terlalu ramai hanya ada beberapa tetangga paman ku yang sedang sibuk bersama bibi mengolah sayuran dan berbagai macam menu masakan
" NUVIA !! " ujar salah satu tetangga paman ku yang aku pun mengenal nya
" Aduh makin cantik sekarang sudah jadi pramugari, di tambah nikah sama nak hafidz udah paket komplit deh pokoknya !! " seru nya sambil memegang tubuh ku keras membuat aku meringis
" Maaf ibu .... Vi masih butuh istirahat, tolong yaa buka jalan nya dulu .. permisi ... " hafidz dengan cepat melindungi ku dari serbuan ibu-ibu komplek
" eh ibu-ibu Nuvia beruntung banget ya, bisa di nikahi nak hafidz, udah ganteng, Sholeh , mapan di tambah itu harta orang tua nya ga habis tujuh turunan delapan tanjakan sembilan belokan hihihi " ucap ibu-ibu yang terlihat semok dengan makeup menor
" Belum lama Nuvia datang ke rumah saya menitipkan mobil bersama laki-laki , ganteng banget gagah nya ga kalah sama nak hafidz, cuma kulit nya lebih gelap dan rahang nya tegas mirip Jefri Nichole, kaya nya kakap juga tuh mobil nya cakep bener " ujar ibu satu nya yang terlihat seperti mamah muda hehhe
" pinter Nuvia nyari nya kelas kakap, lah anak kita .. palingan itu anak bang Jaja yang kerjaan nya nongkrong ga karuan sambil nyanyi bikin kepala tujuh keliling hahhaaha " terdengar suara tawa ibu-ibu komplek yang berceloteh tentang kehidupan ku
Semua sibuk dengan aktivitas nya masing-masing, aku berada di kamar tamu sedang menyandarkan tubuh ku di ranjang, hafidz sedang keluar entah apa yang ia kerjakan, dia hanya mengatakan ingin membeli sesuatu
-- Tok .. Tok .. Tok --
" Vi, aku masuk yaaa " suara Lita anak dari paman ku
" iya Lita masuk lah " ucap aku masih dengan posisi ku semula
" Vi aku ingin cerita dengan mu, tapi berjanji lah kamu tidak menceritakan pada siapapun " ucap Lita berbisik
" kenapa Lita? " tanya ku
" berjanji lah dahulu " ucap nya memberikan jari kelingking nya padaku, lalu aku menyambut nya dengan tersenyum
" janji " ucapku setelah jari kami bertaut
" Kamu tahu aku sedang mengandung? " tanya Lita
" Awal nya tidak tapi kemarin saat aku menikah dan melihat mu, aku jadi tahu " jawab ku tersenyum
" Kamu tidak ingin tahu siapa ayah dari bayi ku? " tanya Lita sambil mendekat kan wajah nya pada ku
" maaf Lita, aku hanya tidak ingin ikut campur masalah mu " ujar ku
__ADS_1
" ini anak Arbi " ucap Lita membuat ku terkejut
" Ya ampun Lita ... kenapa kamu tidak mengatakan pada paman ? apa Arbi sudah tahu? " tanya ku yang benar-benar kaget mendengar pengakuan Lita
" Aku salah sangka Vi, awal nya aku sengaja mendekati Arbi karena orang tua nya yang terpandang dan rumah nya yang megah juga ketenaran Arbi sebagai anak Band yang banyak di kagumi wanita "
" Tapi ternyata salah, Arbi hanya anak dari pekerja di rumah itu, dia bukan anak orang kaya Vi " jelas Lita yang terlihat kesal bercampur sedih
" Lalu .. paman bagaimana? apa dia tidak mencari laki-laki yang menghamili mu? "
huuufffhhh. ... Lita membuang nafas kasar
" Kamu tahu ayah ku Vi, dia marah besar dan sudah ingin menggugurkan kandungan ku, tapi aku mengancam akan bunuh diri jika sampai itu terjadi yang akhirnya dia mengalah " ujar nyaa
" ya Ampun.. " aku menutup mulut ku dengan kedua tangan ku, dan kemudian kami di kejutkan dengan kehadiran hafidz yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar
" sayang !!!! " hafidz Melangkah cepat menghampiri ku
" Ada mama Fifi (mama kandung ku ) " ujar hafidz pada ku, kemudian ia mengajak ku keluar kamar yang di ikuti oleh sepupu ku Lita
🌸🌸
Aku melihat seorang wanita berdiri dengan tangan nya yang melipat ke dada nya, banyak para ibu-ibu yang memandang sinis pada nya, dan beberapa lain nya sedang berbisik membicarakan mama ku
" mama .. " aku masih dalam genggaman hafidz, sejujurnya aku ingin berlari memeluk nya, menyandarkan semua beban berat yang ada di pundak ku pada nya
Mama menoleh pada ku, dengan ekspresi wajah tidak bersahabat, Aku menyalami tangan mama yang juga di ikuti oleh hafidz mencium punggung tangan mama
" Kenapa kamu menikah mendadak? apa kamu hamil Vi? kenapa kamu semudah itu meninggal kan Dipta demi untuk seorang polisi dengan pangkat yang tidak seberapa ini " aku terkejut dengan penuturan mama, kenapa mama bisa berfikir seperti itu pada ku, aku adalah putri satu-satunya tapi dia tidak ada rasa belas kasih nya padaku
" Mungkin ini yang di maksud hafidz jika aku jujur tentang yang terjadi sebenarnya tentang malam itu, pasti banyak yang memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan pribadi ,,, dan aku mengerti sekarang! " ujar ku dalam hati
🌼🌼🌼
TBC
,
,
__ADS_1
,
,