
Dipta masih berada di sebuah cafe yang menghadap langsung pada halaman sekolah sang putra, ia masih menikmati momen pertama menunggu dan melihat langsung kegiatan sang anak dengan hati yang sulit ia lukiskan dengan kata-kata
Dering ponsel mengalihkan perhatian nya, tertera nama hafidz di sana, dengan cepat Dipta menggeser tombol untuk menyambut panggilan
" Hallo .. " jawab Dipta
" Assalamualaikum " hafidz mengucapkan salam yang biasa ia lakukan saat melakukan panggilan
" Wa'aalaikumsalam.. sorry .. aku lupa " balas Dipta asal .. karena ia tidak terbiasa
" Bagaimana kabar mu? " tanya hafidz membuka obrolan
" Baik .. bahkan sangat baik " jawab nya antusias sambil memandang sang putra yang sedang bermain bersama teman-temannya di taman sekolah
" Alhamdulillah .. sejak kapan berada di Indonesia? kenapa tidak menghubungi ku? " hafid berfikir siapa tahu bisa bertemu jika ia mengetahui jika Dipta akan datang
" Kedatangan ku sangat mendadak, saat Ferry memberitahu bahwa putra ku akan bersekolah " jawab Dipta
" Syukurlah .. asisten mu sangat baik dan bisa di andalkan.. " ujar hafidz tertawa, memang hafidz lah yang memberikan informasi pada Ferry tentang kegiatan Dirga .. karena hafidz tahu betul Dipta sudah menyuruh Ferry untuk mengawasi kegiatan sang putra ..
" ya .. terima kasih " ujar dipta
" Istri ku mengatakan kau akan membawa Dirga bermalam di rumah mu malam ini " ujar hafidz memulai pembicaraan soal sang putra
" Ya, jika kau mengizinkan.. aku ingin sekali bersama putra ku dua malam, sebelum aku bertolak kembali ke Amerika " jawab Dipta serius
" Aku akan berdosa jika tidak mengizinkan mu untuk bersama putra mu, ajak lah Dirga bermalam.. Nuvia pun sudah menyetujui.. " ujar hafidz dan mereka terus berbincang tentang kegiatan yang dilakukan masing-masing ...
sampai akhirnya hafidz mengakhiri sambungan telepon karena masih ada tugas yang harus dia kerjakan....
__ADS_1
Di sekolah π«π«
Nuvia sedang menunggu anak-anak nya yang masih ada di dalam kelas nya masing-masing.. tanpa sengaja ia melihat sosok Dipta yang sedang berdiri memandang nya di sebrang jalan
Nuvia kemudian melangkah menjauhi tempat ia menunggu untuk menghindari tatapan sang mantan kekasih yang juga ayah dari putra nya
" Kenapa dia menatap ku terus!! " dalam hati Nuvia bergumam dan ia masih terus melangkah mencari tempat aman, dimana ia takkan terlihat oleh Dipta...
Berbanding terbalik dengan Nuvia, Dipta semakin mengedarkan pandangan nya mencari sosok wanita yang sedari tadi ia perhatikan, ia hanya ingin melihat bagaimana cara Nuvia saat merawat memberikan kasih sayang pada putra nya .. meskipun Dipta tidak bisa memiliki Nuvia, setidaknya ia dapat melihat interaksi kedua orang yang selalu ada di hati nya
" Cari Nuvia ?? " sesosok wanita tiba-tiba mendekati Dipta dan menepuk bahu nya ..
" i- iya " jawab nya kaku .. siapa wanita paruh baya ini? mengapa dia tahu bahwa aku sedang mencari Nuvia?? beberapa pertanyaan memenuhi otak Dipta
" Boleh saya bicara? " tanya wanita tersebut tersenyum manis pada Dipta yang masih tetap memandang ke arah seberang, tempat dimana para orang tua sedang menunggu anak-anak nya pulang sekolah
" maaf .. ibu siapa? saya tidak terbiasa berbincang dengan orang asing " jawab Dipta sedikit melangkah menghindari wanita itu
" Maaf kan saya jika lancang memperhatikan menantu ibu " Dipta kemudian membungkuk kan tubuh nya ke hadapan mama hafidz karena. tidak enak hati
" tidak apa-apa, saya mengerti " mama hafidz tetap dengan mode senyuman yang sangat tulus pada Dipta, padahal jelas-jelas terlihat dari tatapan Dipta yang masih menyimpan rasa untuk menantu nya
" terima kasih Bu " Dipta membalas senyuman mama hafidz dan seraya mengulurkan tangan nya lalu mencium punggung tangan mama hafidz, ketika uluran tangan nya di sambut dengan baik oleh wanita itu ..
" Saya Dipta Bu " ujar nya memperkenalkan diri
" iya .. saya masih ingat wajah mu, boleh saya bicara di sana? " tunjuk mama hafidz pada satu tempat yang cukup jauh dari gerbang sekolah
" Boleh Bu, maafkan sikap saya tadi " Dipta sangat tidak enak dengan mama Hafidz yang sempat ia tolak untuk berbicara tadi
__ADS_1
" Mari nak ... " ajak mama hafidz sambil melangkah lebih dahulu untuk membawa Dipta pada salah satu meja yang akan mereka tempati untuk berbicara
Dipta dan mama hafidz menduduki salah satu meja di paling ujung yang tidak dapat terlihat orang lain jika tidak melihat dari jarak dekat, pelayan pun menghampiri untuk membantu pemesanan
Mereka hanya memesan minuman saja, karena mama hafidz tahu jika Dipta tidak punya waktu banyak untuk berbincang dengan nya
" Nak Dipta boleh ibu bicara pada inti nya saja? " tanya mama hafidz agar mempersingkat waktu
" ya Bu, silahkan.. ada apa sebenarnya? " Dipta sangat di buat penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh mertua Nuvia, seperti nya hal penting .. "apa jangan-jangan ia akan menyuruh ku menjauhi Nuvia atau putra ku?? " dalam hati Dipta terus saja berprasangka ..
" Apa nak Dipta masih memiliki rasa untuk menantu saya? " pertanyaan mama hafidz membuat Dipta terkejut, jantung nya berdegup sangat kencang hati nya sakit, dan sekelebat kenangan dan harapan nya pada Nuvia menghiasi otak nya
" Emmmm .. maaf bagaimana maksud ibu? " Dipta sebenarnya mengerti dengan pertanyaan mama hafidz, hanya saja ia sedang mengulur waktu menjawab.. ia sedang berfikir, apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini ..
" Nak .. jangan membohongi perasaan mu .. ibu mengerti .. hanya saja, ibu ingin memastikan jawaban dari mulut mu sendiri " ujar mama hafidz sangat tenang
" Apa aku harus menjawab nya? " tanya Dipta lagi
" Maaf Bu, masalah perasaan ku pada Nuvia.. biarlah cukup aku saja yang tahu, aku saja masih menata hati ini agar dapat mengikhlaskan semua yang terjadi .. ibu juga pasti tahu yang terjadi antara aku dan Nuvia di masa lalu adalah bukan keinginan ku .. aku di jebak Bu .. dan penyesalan.. sampai saat ini aku rasakan .. aku masih terjebak di rasa bersalah ku pada Nuvia.. apalagi sekarang aku menaruh beban dengan kehadiran putra ku .. aku kecewa pada diri ku sendiri Bu ... !! " Dipta menunduk kan kepala nya sambil memijat dahi nya ...
ibu Hafidz menepuk bahu Dipta , ia sempat menenangkan pria yang padahal saingan berat anak nya, pria di hadapannya adalah masa lalu menantu nya, yang bisa saja entah kapan merusak rumah tangga putra nya
" Jangan menyesali apa yang sudah jadi takdir Allah SWT nak .. semua tidak kebetulan.. Manusia hanya bisa berencana tapi Allah SWT yang menentukan.. dan pasti itu yang terbaik untuk semua " ujar mama hafidz mengelus bahu Dipta yang terlihat sedikit bergetar... baru kali ini iya melepas beban berat yang ada di bahu nya pada orang yang baru ia kenal ....
*
*
πΌπΌπΌ
__ADS_1
TBC