
" Pa ... " ucap ku sambil menghampiri pria yang sudah menyia-nyiakan aku selama ini, meskipun masih sakit hati dengan semua perlakuan nya padaku tapi aku tetap putri nya yang harus menghormati dan menghargai papa
Aku mencium punggung tangan papa dan papa ku hanya diam, dia melihat penampilan ku yang seperti nya dia tidak menyukai nya
" Paman ... " aku bergeser pada pria di samping papa, yang juga pernah menyakiti hati ku saat dia mengatakan malu mempunyai keponakan seperti aku
" Kemana saja kamu Vi, anak susah di atur, sudah paman katakan agar paman yang mencarikan mu tempat tinggal, bukan kamu pergi sendirian tanpa kami tahu kemana tujuan mu !! " ujar paman ku membuat aku tidak enak hati pada Dipta
" Sudah lah ayah ... " ucap bibi ku mengelus bahu sang suami yang terlihat sangat marah
" A- aku hanya tidak ingin merepotkan paman " ujar ku yang sedikit ketakutan, aku memang trauma dengan bentakan pria dewasa, mengingat pertama kali aku di bentak adalah saat kepala sekolah dan guru pendidikan agama Islam ku menuduh ku pencuri
" Vi .. " Dipta menghampiri aku. memegang bahu ku memberi kekuatan pada ku
" Jangan sentuh Putri ku!!! " ujar papa bersuara lantang dan keras sambil mata nya menatap Dipta dingin
" Maaf om, Vi sangat ketakutan " Dipta berani menjawab kata-kata yang keluar dari mulut papa ku Dipta melihat tubuh ku bergetar
" Siapa kau berani dengan ku, Via Putri ku! jangan pernah kau merasa lebih tahu dari ku !! " ujar papa yang semakin marah pada Dipta
" Nak Dipta .. maaf mari keluar dulu, biar Vi menyelesaikan urusan nya dengan papa nya, biar bagaimanapun Vi tetap bersalah karena meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan kami " ucap bibi ku lembut sambil menyentuh sebelah bahu Dipta
" Vi .. " Dipta menatap wajah ku dari samping, meyakinkan bahwa aku baik-baik saja
" Tidak apa-apa ikutlah bersama bibi, maaf membuat mu ikut dengan masalah ku " ucap ku membalas pandangan Dipta, yang membuat Dipta justru lebih tidak tega meninggalkan aku bersama dua pria dewasa yang seperti siap ingin menerkam
" Mari nak .. " bibi mempersilahkan Dipta mengikuti nya ke arah gazebo dengan di ikuti juga oleh Lita
" Siapa dia Via? " papa menatap mata ku,
" Kekasih mu ? " tanya nya lagi sambil melangkah dan menduduki satu sofa yang menghadap pada ku
" Bukan pa, dia teman ku " jawab ku ragu, takut papa tidak percaya
" Bagus kalau seperti itu! , kamu masih kecil Vi tidak perlu memiliki kekasih" ujar papa ku yang mulai bersahabat, tidak semarah awal melihat ku
" eummm papa apa kabar? " aku mengalihkan pembicaraan papa agar dia tidak membahas tentang hubungan ku dengan Dipta
" Papa baik, papa sudah menikah lagi, nanti papa kenalkan via sama istri papa " ucap nya tenang
" iya pa, kalau ... mama? " tanya ku hati-hati takut kalau papa ku murka lagi
" Mama mu juga sudah menikah " papa terlihat sendu saat mengatakan itu, aku jadi takut papa teringat masa lalu nya bersama mama
__ADS_1
" oyah papa, aku jadi lupa memberi tahu mu, aku sekarang sudah bekerja pa " ujar ku dengan bangga
" oh ,, ya ... " ucap nya datar, tidak sesuai ekspektasi ku yang ku kira akan terharu atau seperti orang tua lain yang akan bangga dengan pencapaian anak-anak nya
" Lalu, bagaimana hubungan kamu dengan hafidz? kenapa kamu meninggalkan dia? " tanya papa yang membuat aku cukup heran, mengapa papa lebih tertarik dengan cerita ku dengan hafidz yang sudah ku kubur dalam-dalam, apa paman ku tidak menceritakan bahwa dia melarang ku berhubungan dengan hafidz? mengapa seolah aku yang jahat
" eummm " mata ku melirik pada paman
" Mas, aku lupa memberi tahu mu bahwa hafidz dan keluarga nya telah mengunjungi ku, dan mereka mengatakan bahwa hafidz akan ke luar kota untuk menempuh pendidikan nya, dan melarang Nuvia mendekati nya " ucap paman ku was-was
" Kau yakin Zaky " tanya papa ku pada adik nya
" Vi ... Nuvia ... " Dipta menghampiri ku dengan tergesa-gesa membuat papa dan paman ku menoleh padanya. begitu pun aku yang khawatir jika papa akan marah lagi jika melihat Dipta
" Ada apa Dipta " tanya ku setelah Dipta berhadapan dengan ku, seperti nya ada masalah serius , aku tidak pernah melihat Dipta sepanik ini jika tidak ada masalah berat
" Kita harus kembali ke Mess, ada masalah disana " ujar Dipta yang menarik lengan ku cepat
" Sebentar aku pamit pada papa dulu Dipta " ku lepas cekalan Dipta dan aku kembali menghampiri papa
" Pa aku pamit dulu, kalau aku libur aku akan kembali ke sini menemui papa " ujar ku menggenggam tangan papa ku, papa hanya menghembuskan nafas perlahan dan melepas genggaman ku, papa menarik bahu ku lalu mencium kening ku
ini pertama kali nya papa melakukan sesuatu yang manis untuk ku, aku akan mengingat momen ini seumur hidup ku
" Mari Vi, kita tidak ada waktu " ujar Dipta masih dengan mode panik nya
Aku berpamitan pada paman dan bibi, di sana aku tidak melihat Lita sepupu ku, entah lah dia kemana
***
Aku dan Dipta memasuki mobil, Dipta sudah siap di kursi kemudi sambil memasang seat belt nya
" Vi, apa kamu pernah melihat kalung berlian milik teman sekamar mu? " tiba-tiba Dipta bertanya pada ku
" ya , aku melihat nya tadi pagi sebelum Imel berangkat untuk terbang ke Gorontalo " ucap ku tenang tidak berfikir buruk sedikit pun
" Maaf Vi, kalung itu hilang!!! " ucap Dipta memandang ku kasihan
" ko bisa? tadi dia menyimpan pada kotak beludru warna merah, seperti nya di letakkan di dalam lemari pakaian milik nya " ucap ku jujur
" Kamu yakin? maaf Vi, mereka menuduh mu yang mengambil kalung itu " ujar Dipta sangat hati-hati
" Mereka?? siapa??? " tanya ku
__ADS_1
" Imelda mendapat notice tidak jadi terbang ke Gorontalo, dia kembali ke Mess setelah nya, dan saat dia ingin memakai kalung nya, Kalung itu sudah tidak ada di tempat nya " jelas Dipta
" Hah??? " Deg .. deg .. deg .. jantung ku mulai berpacu kencang, seluruh tubuh ku berkeringat padahal AC mobil sudah menyala, beberapa jari ku mulai bergetar " aku takut..... aku takut ... aku takut .... " hati ku terus berkata itu berulang
" Vi, kamu baik-baik saja? " tanya Dipta memastikan aku yang sudah gemetar
Aku tidak menjawab apapun, aku hanya terdiam dan terus berbicara di dalam hati
apa kejadian dulu akan terulang lagi?
Dipta terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Dipta sama khawatir nya dengan ku Dipta takut semua tuduhan terbukti, sebenarnya Dipta tidak percaya dengan tuduhan itu, tapi seorang petugas sempat mengatakan bahwa ada saksi dan bukti
" Apa yang harus aku lakukan tuhan " ucap Dipta dalam hati nya yang bergejolak
" Semoga tuduhan itu tidak benar " terus saja Dipta berdoa dalam hatinya, sesekali melihat wajah ku yang sudah pucat karena takut
* Mess pramugari senior Tangerang *
Aku dan Dipta keluar dari dalam mobil, di sana sudah ramai petugas security baik laki-laki maupun perempuan termasuk mba Feni yang terlihat berdiri tegak bersama seorang wanita memakai seragam polisi.
" Vi, jangan khawatir .. kamu akan baik-baik saja, tenangkan diri mu, tarik nafas dan hembuskan lah perlahan " ucap Dipta memberi aku arahan dan setelah nya beberapa dua orang polwan menghampiri kami.
Aku di giring memasuki ruang kantor security, dan aku di duduki di satu kursi yang terdapat meja besar di depan nya, seperti Dejavu saat aku di panggil kepala sekolah setelah teman ku kehilangan dompet
" Apa yang kamu lakukan Vi? " bisik mba Feni saat mendekati aku, sebelum interograsi para para polisi wanita
" Aku tidak tahu apa-apa mba, sumpah!! " ujar ku hampir menangis
" Jika kau yakin tidak melakukan nya, pertahankan!! jangan kau mengakui apa yang tidak pernah kau lakukan hanya karena ancaman " ucap mba Feni lalu pergi meninggalkan aku karena para polisi wanita sudah menghampiri ku
*** interogasi ***
Polisi : F.a Nuvia Anggasari pukul berapa anda meninggalkan Mess pramugari?
Nuvia : Sekitar pukul 09:00 pagi
Polisi : siapa saja. yang berada kamar anda sebelum anda meninggalkan Mess?
Dan masih banyak pertanyaan lain nya
( bukan penyidik jadi kurang paham isi pertanyaan kalau polisi sedang BAP 🤠)
🌼🌼🌼
__ADS_1
TBC