
πΆπΆπΆ
Ku lihat sekeliling ruangan yang banyak tertempel gambar bayi dan seorang wanita yang sedang mengandung, hati ku tersayat saat melihat seorang pria sedang memapah ibu hamil yang sedang meringis kesakitan
Hafidz dengan setia menggenggam tangan ku, kami berjalan beriringan dengan fikiran masing-masing
Tiba lah kami di ruang tunggu rumah sakit yang di khusus kan untuk ibu hamil dan bayi
" Istighfar sayang, tidak perlu takut " ucap hafidz terus menguat kan aku
" Astaghfirullah halladziim " ucap ku setengah berbisik yang terus ku rapalkan berulang
Aku belum siap .. ah tidak lebih tepat nya tidak akan siap memiliki keturunan dari orang yang sangat aku benci seumur hidup ku
" ibu Nuvia Abdallah " suara seorang perawat memanggil nama ku
" Mari sayang ... sudah waktunya kamu periksa " ucap Hafidz tersenyum dan menatap ku penuh kedamaian
" iya " Aku berdiri dan melangkah menuju ruangan
" Assalamualaikum hafidz " sambut sang dokter yang tidak lain adalah kakak kandung nya hafidz
" Wa'aalaikumsalam ka, tolong periksa istri ku, apakah benar Vi sedang mengandung? " ucap hafidz sangat semangat
" Memang belum testpack Vi? " tanya kakak ipar ku
" Belum ka, tadi Vi sempat muntah-muntah di rumah lalu aku sempat panggil dokter Zein, ternyata ia mendiagnosa istri ku sedang mengandung " hafidz memberikan keterangan pada kakak nya
" Hebat ... tokcer dong hahha " kakak ipar ku begitu bahagia tapi ia tidak tahu hati adik nya apa sebahagia dia?
" Berbaring lah Vi, semoga benar prediksi Zein agar anak ku memiliki teman " ucap nya mengarah kan aku pada ranjang, lalu seorang perawat mengoles gel dingin pada permukaan kulit perut ku
" Lihatlah Vi .. hafidz Junior sedang bersembunyi di sana !!! " ujar kakak ipar ku antusias sambil menggerakkan alat di atas perut ku
******** jedeeeerrrrrr ********
Bagai suara petir ,,, aku merutuki diri ku kenapa aku tidak mati saja waktu itu, kenapa aku harus bangun dari tidur panjang ku, yaa Tuhan kenapa di saat aku membuka hati untuk hafidz Kau berikan aku kesempatan mengandung anak dari pria brengsek itu ... ini tidak akan ku biarkan !!!!!
" Masya Allah .. Alhamdulillah ... lihat sayang .. anak kita ada disana " hafidz menunjuk monitor LCD yang memperlihatkan sesuatu dari dalam perut ku dengan mata berbinar
Tak ada tanggapan dari ku, biar untuk saat ini dia bertahan dalam perutku, lihat saja di rumah nanti aku akan membuat nya tidak akan bertahan di dalam rahim ku
" Sayang ... " hafidz lagi-lagi memperlihatkan kebahagiaan nya
" ya " ucap ku singkat
" Selamat hafidz, Nuvia janin nya sudah berumur lima Minggu, jaga pola makan mu, banyak istirahat dan jangan banyak fikiran karena akan mempengaruhi proses perkembangan nya " ucap kakak ipar ku
__ADS_1
" Dan kamu hafidz, bermain lah dengan perlahan dan jangan terlalu sering sebelum janin berusia enam belas Minggu " ucap kakak ipar berbisik yang di balas tertawa oleh kedua nya
" ini resep obat yang harus kamu tebus, jaga istri mu baik-baik .. " ucap sang dokter menepuk bahu adik nya
" Terima kasih ka, aku pamit .. Assalamualaikum "
" Wa'aalaikumsalam aku akan memberi tahu mama "
Dan di angguki oleh hafidz dengan senyuman
****
Di rumah aku sudah mulai mode reog ... aku merasa semua orang yang ada di hadapan ku salah tidak pernah ada yang benar, tidak terkecuali juga hafidz yang selalu aku salah kan jika dia melakukan sesuatu yang bukan sesuai keinginan ku
" Salah lagi aku sayang??? " tanya nya sambil memandang ku
" Entah lah .. Pergi sana .. aku tidak ingin melihat mu Ada di hadapan ku " ucap ku membentak nya
" Sayang jangan marah-marah terus, kasihan adik bayi nanti kaget di dalam perut kamu " ucap hafidz penuh kesabaran
" Pergi !!!! aku bilang kamu pergi !!!! " teriakan ku
berhasil membuat hafidz keluar dari kamar kami
" Yaaaa Allah berikan aku kesabaran, kuat kan aku menghadapi ujian ini, buat lah hati hamba ikhlas atas semua takdir yang sudah Engkau persiapkan untuk hamba " Hafidz menghembuskan nafas nya perlahan menetralkan perasaan yang sedang menghantui nya
Malam menjelang hati ku di buat tidak nyaman karena tidak ada hafidz di samping ku, aku menuruni ranjang dan mencari sosok yang sebenarnya aku rindukan
Terlihat hafidz sedang berbaring di sofa ruang tamu, mata nya tertutup rapat suara dengkuran halus terdengar menandakan betapa lelah nya ia hari ini
" Ya Allah ... kasihan hafidz " Aku kembali ke kamar membawa dua buah selimut dan bantal,
aku menggelar satu selimut tebal di atas karpet bulu dan aku berbaring di sana, aku pejamkan mata ku dan berdoa untuk menuju alam mimpi
Dini hari hafidz membuka mata nya untuk melaksanakan sholat malam, dia terkejut melihat istri nya yang sedang tertidur di bawah sofa sambil memeluk kemeja yang sama dengan tadi siang
" Ya Allah, kenapa kamu tidur di sini sayang . . . " hafidz mengangkat tubuh sang istri dengan perlahan agar tidak menggangu tidur nya
Hafidz kemudian membaringkan tubuh istri nya ke ranjang peraduan mereka, lalu ia melanjutkan ke kamar mandi untuk membersihkan diri di lanjutkan solat malam ...
βοΈβοΈβοΈ
Pagi hari menjelang aku menggerakkan tubuh yang terasa kaku, lagi-lagi aku merasakan mual yang teramat sangat menyebalkan
" huh ... sangat menyusahkan " ucap ku langsung menuju toilet dan lagi-lagi mengeluarkan isi perut yang kosong belum terisi makanan
Hafidz menghampiri ku lalu memijat belakang leher ku perlahan
__ADS_1
" Sabar ya sayang memang seperti ini jika wanita sedang mengandung " dengan telaten hafidz membersihkan bibir ku yang kotor, dengan sebuah tissue basah
" Mari kita gugur kan bayi ini, dia bukan anak mu hafidz " ucap ku
" Astaghfirullah halladziim sayang istighfar minta ampun pada Allah SWT, tidak boleh kamu mengatakan seperti itu !! dia anak kita .. anak kamu dan aku !! " ucap hafidz sambil memegang bahu ku
" Apa??? anak mu?? sejak kapan kamu menyentuh ku?? ini anak laki-laki sialan itu !! aku tidak Sudi melahirkan dia ke dunia ini !! Aku membencinya !!! aku benci !!! " aku berteriak sambil memukul perut ku agar yang di dalam sana kesakitan dan mati
" Sayang .. sudah .. tolong sayang .. jangan sakiti diri mu sendiri " hafidz mencekal tangan ku dan memeluk ku erat
" Aku tidak mau dia hadir hafidz ... tolong bantu aku untuk menyingkirkan nya aku mohon " tubuh ku melemah dalam dekapan Hafidz, aku menangisi diri ku yang sangat bodoh telah mengenal Dipta
" Jangan sayang .. anak ini tidak berdosa, kasihanilah dia Nuvia , dia tidak meminta hadir dalam rahim mu, tapi dia hadir atas izin Allah SWT " hafidz masih memeluk ku yang sekarang posisi kami sudah terduduk di lantai
Hafidz terus saja mengelus tangan ku, memberikan aku ketenangan agar aku bisa menerima kenyataan bahwa aku sedang mengandung anak meskipun aku tidak menginginkan nya
πΈπΈπΈ
Hafidz menghubungi mama nya untuk menitipkan Nuvia, karena ada beberapa kerjaan yang tidak bisa hafidz tinggalkan
" Assalamualaikum ma "
" wa'aalaikumsalam nak " jawab mama hafidz
" Apa hari ini mama sibuk? " tanya hafidz
" Tidak mama hari ini justru ingin mengunjungi mu, mama sedang bersiap memasak makanan untuk menantu mama, kakak mu bilang Nuvia sedang mengandung " ujar mama sangat bahagia
" kebetulan sekali ma, hafidz baru saja ingin meminta tolong pada mama, untuk menjaga Nuvia sebentar, hafidz ada tugas kantor yang tidak bisa hafidz tinggalkan " cerita hafidz pada mama nya
" iya nak, pergi lah sebentar lagi mama menuju kediaman mu ! " ucap sang mama bersemangat
" baik ma kalau seperti itu, hafidz berangkat sekarang,kalau bisa mama jangan terlalu lama, kondisi Nuvia kurang baik " jujur hafidz
" Mama mengerti, ini yang mama takut kan hafidz ... tapi kamu tenang yaa, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT menghendaki dan mama sangat yakin ada sesuatu yang indah di balik ini semua. " ujar mama menenangkan sang putera
" Aamiin .. terima kasih ma ... kalau begitu aku tutup dulu Assalamualaikum " hafidz memutuskan panggilan bersama mama nya
πΆπΆπΆπ£
TBC
.
.
.
__ADS_1