Cerita Cinta Nuvia

Cerita Cinta Nuvia
penolakan


__ADS_3

" Hafidz .. sakit tahu " ujar ku melepas jari hafidz yang menjepit kedua pipiku


" Aku rindu kamu Vi " ujar hafidz tanpa ragu


" A- aku juga " balas ku sambil tersenyum malu


" Kamu sudah punya kekasih? " tanya hafidz


" Belum " jawab ku


" Bukan belum, tapi tidak.. karena dalam Islam tidak ada kata pacaran " sanggah nya


" Dalam Islam juga kamu dan aku bukan muhrim, jadi kamu tidak boleh menyentuh ku, apalagi kita berdua seperti ini, sangat di larang takut ada yang ke tiga yaitu setan " ucap ku sedikit menggurui


" Sudah pintar sekarang yah " ucap hafidz tertawa memperlihatkan gigi gingsul nya


" Kamu sudah berapa hari di sini? " tanya ku pada hafidz


" mungkin seminggu atau lebih ya, aku lupa " ucap nya sambil berfikir


" Aku juga ingin mengatakan sesuatu, tapi ... maaf Vi .. aku dengar mama dan papa mu sudah tidak tinggal lagi bersama mu, benarkah? " tanya hafidz hati-hati


" Ya " ujar ku tetap tersenyum walaupun hambar


" Aku tidak tahu masalah yang sedang kamu hadapi saat ini, aku hanya ingin kamu menunggu ku beberapa tahun ini " ujar hafidz


" Menunggu apa? " tanya ku


" Aku sudah lolos seleksi Akademi militer kelautan Nusantara, maka aku harus menjalani pendidikan selama empat tahun di Magelang agar dapat menggapai cita-cita ku, apa kamu sanggup menunggu ku? Aku akan kembali setelah selesai menempuh pendidikan dan menjemput mu untuk menjadi pendamping ku " ujar nya nyata dan sangat jelas di telinga ku


" em .. em .. aku tidak tahu " jawab ku ambigu


" Kenapa?? kamu bisa menjalani kuliah mu sambil menunggu ku, kamu hanya perlu jadi gadis penurut dan baik itu sudah cukup untuk ku, untuk selebihnya izinkan aku yang akan membimbing mu ketika kita sudah halal " ujar hafidz yang memang tidak pernah ragu dengan kata-kata nya


Sedikit ku ceritakan tentang hafidz


Hafidz adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, dia memiliki dua kakak laki-laki yang wajah nya sangat mirip dengan nya, bisa di bilang seperti anak kembar, padahal umur mereka sangat berjauhan, Hafidz memiliki orang tua yang sangat religius menurut ku,


ibu nya seorang pegawai negeri sipil dan ayah nya pengusaha sapi perah setau ku.


Mereka hidup berkecukupan di Bandung, kedua kakak hafidz memiliki karier yang baik, kakak pertama nya adalah pelaut dan kakak kedua nya seorang dokter itu yang aku tahu menurut cerita hafidz, kakak pertama hafidz sudah meninggal dunia sejak tiga tahun lalu, Seingat ku itulah terakhir aku bertemu hafidz saat dia mengabarkan bahwa kakak pertama nya berpulang.


Karena dari keluarga yang cukup religius, hafidz pernah mengatakan bahwa tidak ada pacaran dalam hidup nya, jika sudah siap lahir batin dia akan melakukan ta'aruf dan jika cocok akan langsung meminang pilihan nya itu.


Sejak kami berkenalan, hafidz sosok teman yang baik, periang, bawel dan rasa peduli dengan sesama nya sangat lah tinggi.


Hafidz memiliki sepupu bernama Resti yang adalah teman ku mengaji, nah melalui Resti lah aku bisa mengenal hafidz karena aku sering berkunjung ke rumah Resti saat itu, dan di sana lah hafidz melihat ku.


***


" Hafidz, aku tidak sebaik yang kamu fikir, aku hanya anak dari orang biasa, orang tua ku juga bukan orang yang baik, fikir kan kembali tentang niat mu, aku tidak mau ini hanya keinginan mu saja, masih ada orang tua mu yang aku yakin pasti akan menentang keputusan mu ini " ucap ku memberi penjelasan


" Orang tua ku selalu mendukung apapun yang aku mau jika itu baik dan sesuai syariat Islam, dan niatan ku ini baik, dan sudah sesuai dengan syariat Islam, jadi tidak ada alasan orang tua ku menolak keputusan ku " ucap nya

__ADS_1


" tapi... " ucapan ku terpotong saat hafidz menepuk ujung kepala ku, dan mengelus nya


" Sudahlah, sekarang siapa yang menjadi wali mu, besok aku akan meminta izin untuk mengikat mu agar tidak kabur hahaha " hafidz tertawa dan lagi-lagi dia mengacak rambut ku gemas


hafidz berdiri dan menarik aku agar berhadapan dengan nya.


" tidak perlu khawatir tentang biaya kuliah mu, aku yang akan menanggung nya " ucap hafidz mata sipit nya menatap mata ku, dan ku lihat tak ada kebohongan di dalam nya


" Ti- tidak perlu, mmmm... aku sudah mendapat pekerjaan jadi aku bisa menyisihkan uang ku untuk biaya kuliah ku " ucap ku


" Jadilah gadis penurut " hanya itu yang hafidz ucap kan lalu melangkah ke teras rumah ku


" ini ponsel untuk mu " dia memberikan ponsel yang tadi sedang ia mainkan setelah sudah di teras rumah ku


" Ambil lah, sudah ada nomor ku di dalam nya, insha Allah besok aku kembali lagi untuk berbicara dengan perwakilan keluarga mu, jangan lupa solat istikharah Vi " ujar nya


" iya " jawab ku singkat


" Assalamualaikum " salam dari hafidz


" Wa'aalaikumsalam " jawab ku


Aku si buta dengan agama tidak mengerti dengan apa yang hafidz perintahkan aku masih loading memikirkan kata demi kata yang hafidz utarakan


" Aku akan bertanya pada bibi saja kalau begitu " ucap ku dalam hati


πŸŒ™πŸŒ™πŸŒ™


Aku menghubungi paman ku melalui sambungan ponsel ku, untuk menanyakan sesuatu yang hafidz katakan siang tadi, tetapi tidak ada sahutan dari sana, akhirnya aku beranikan diri untuk menghampiri ke kediaman beliau.


Aku bersiap untuk berangkat ke kediaman paman ku, Suara ketukan pintu membuat ku mengalihkan perhatian ku pada pintu yang tertutup


" Ya sebentar " Jawab ku


Aku mengintip dari jendela siapa yang datang, aku tidak berani langsung membuka pintu jika sudah mulai menjelang malam, takut kalau ada orang berniat buruk


Aku membuka pintu rumah ku, kemudian menghampiri sosok yang datang yang pasti aku mengenal nya .


" Arbi, ada apa? " ucap ku pada Arbi setelah aku sampai teras rumah ku, aku melihat gelagat aneh dari Arbi yang seperti nya sakit atau entah lah, wajah nya memerah dan mata nya seperti sembab dan eemnmm Mulut nya tercium aroma alkohol


" bruk " Arbi menabrak tubuh ku, dan kami terjatuh bersama


" Aduh !!! " aku terbentur dinding karena tidak kuat menahan berat badan Arbi


" Bagaimana ini? Aku takut di kira ingin memasuki pemuda kedalam rumah ku " ucap ku dalam hati


Perlahan aku menggeser posisi Arbi agar tidak menindih ku " Berat sekali ! " dengan sekuat tenaga, ku angkat mulai dari tangan dan bahu, lalu aku guling kan tubuh nya kesamping agar aku terbebas dari nya


" huh huh huh " nafas ku sangat sesak aku hubungi siapa malam seperti ini?


Aku kasihan melihat Arbi, tapi aku juga tidak ingin orang mengira yang tidak-tidak


" Arbi .. Arbi .. bangun " ku tepuk pipi nya

__ADS_1


" Arbi .. " ku tepuk lagi dengan sedikit lebih keras dan akhirnya ada pergerakan disana, mata Arbi terbuka aku melihat bola mata yang beberapa Minggu lalu menyatakan cinta nya pada ku, meskipun akhirnya membuat aku kecewa


" Ar .. bangun lah seperti nya kau mabuk " ujar ku


" Ya aku mabuk gara-gara kamu Vi " ujar nya sambil memegang tangan ku


" Ar .. jangan seperti ini bangun lah, dan kembali ke rumah mu " ucap ku


" Kembali lah pada ku Vi, jadi kekasih ku lagi, aku menyesal menyia-nyiakan kamu " ujar arbi


" kamu bicara apa sih, pulang sana malu di lihat orang nanti " ujar ku


" Dasar sombong kamu ini " ujar arbi sambil bangkit dan berusaha menyeimbangkan tubuh nya


" Lihat saja aku akan mendapatkan mu lagi " ujar nya melangkah pergi


- Di kediaman paman -


" Tidak Vi, bibi tidak setuju jika kamu menunggu hafidz, jangan termakan bujuk rayu laki-laki, kamu akan menyesal! " ujar bibi ku


" Aku memang tidak ingin bibi, aku hanya bingung mengatakan pada hafidz, aku takut dia tersinggung " ucap ku


" Kamu sangat percaya diri Vi, kalaupun hafidz memang serius pada mu, kenapa dia tidak membawa serta orang tua nya untuk menemui mu " ujar paman ikut menyahut


" Lagi pula aku yakin seratus persen orang tua nya tidak akan merestui kalian " ucap paman ku lagi


" Ya paman, Vi tahu memang tidak akan ada orang tua yang ingin anak nya berhubungan dengan Vi, dengan latar belakang orang tua Vi " ucap ku


" Nah itu sadar diri juga kamu ! " ucap paman


" Aku saja malu jika kamu sering datang ke rumah ku, tapi bagaimana lagi baik buruk keluarga mu, tetap saja papa mu adalah kakak kandung ku " ucap nya


" Kamu pindah saja dari sini Vi, cari kehidupan baru dimana orang-orang tidak mengenal mu dan keluarga mu " tambah bibi ku


" Aku harus kemana? " tanya ku


" Pergilah jauh dari kota Bogor, aku akan membiayai kepergian mu! " ucap paman ku


" Aku harus bertemu dengan hafidz terlebih dahulu bibi, agar dia tidak salah paham " ucap ku


" Hei Vi, kamu sangat yakin kalau dia akan membiayai kuliah mu?? mana ada di zaman sekarang sesuatu yang gratis, kamu tahu setelah kamu menerima biaya yang sudah ia keluarkan, mau tidak mau kamu merasa memiliki hutang Budi, dan kamu tahu pasti keluarga mereka akan seenak nya memperbudak mu nanti " ucap bibi ku lantang


" Ya bibi, aku tahu " ucapku


" sekarang kamu kemasi barang yang akan kamu bawa, esok setelah adzan subuh biarkan paman mu yang akan mengatur kamu harus kemana " ucap bibi ku dengan wajah yang sangat marah


" Baik bibi, paman, kalau begitu Vi pamit untuk pulang dulu mempersiapkan semua, agar besok Vi sudah siap berangkat " ucap ku


" Ya pergilah " ucap paman ku


🌼🌼🌼


TBC

__ADS_1


__ADS_2