
Lista berlalu menuju mobil yang tadi ia naiki, tapi langsung ditahan oleh Putra, dan menarik pelan tangan lista m3nuju mobilnya.
"Kenapa ngambek hmm?" tanya Putra saat mereka sudah ada mobil.
"Kamu kenapa bilang kalau aku lagi hamil pula, aku bilang kan cuma suami istri pura pura" Dengan wajah tertekuk Lista.
"Kalau aku bilang kita suami istri apa mereka percaya? enggak kan," Lista berfikir sebentar an mengangguk samar.
"Hmm"
"Udah jangan ngambek lagi, sekarang kan kita udah diluar juga." Putra mengelus rambut sang pacar yang masih tercium aroma wangi sampo.
"Sayang," panggil Putra seraya menjalankan mobilnya, Lista menoleh.
"Lain kali kalau keluar rumah jangan pakai rok pendek."
"Kenapa? biasanya aku juga pakai rok segini kalau keluar," jawab Lista.
"Pokoknya gak boleh, aku gak mau aset aku diperlihatkan ke orang lain. yang boleh lihat cuma aku hanya aku." posesif Putra. Calista tersenyum, ia mengangguk paham.
"Maaf ya yank, janji gak lagi keluar pake rok diatas lutut" Lista meletakkan kepalanya dipundak Putra yang sendang menyetir. Putra mengangguk seraya mengacak rambut sang pacar.
"Jalan jalan yuk," ajak Lista menoleh kearah sang pacar.
"Kemana hmm? aku aja gak banyak tahu tentang daerah sini."
"Aku yang tunjukin, kamu ikuti aku aja."
"Nanti kalau kemalaman papa mama marah lagi, besok aja ya," Lista menggeleng, ia melihat jam ditangannya, dengan tangan yang masih berada dilengan Putra.
"Masih jam delapan kok Put, nanti kita pulang jam sepuluh," Lista memperlihatkan jam ditangannya pada putra.
^^^Anda^^^
^^^Pa, ma... Putra izin, ajak jalan Lista ya.Jam sepuluh janji udah pulang.^^^
Send
"Mau ya."
"Iya, tapi jam sepuluh kita udah harus sampai rumah," Balas putra yang masih fokus menyetir.
"Siap."
Mobil itu menuju satu tempat wisata yang menurut putra lumayan bagus. Tak terasa jam sudah meenunjukkan pukul sembilan malam hanya untuk menelusuri wisata disana.
"Permisi, sir bisa fotokan kami," pinta Putra pada salah satu pengunjung disana.
"Tentu," jawabnya mengambil ponsel putra. Beberapa jepretan sudah mereka dapatkan.
"Thank you sir."
"Your are wellcome."
Setelah mengucapkan terimakasih mereka melihat hasil jepretan orang tadi.
"Bagus, aku suka. Share ya Put" Putra mengangguk dan mengirim semua foto itu pada Lista.
"Ponselmu mana?" tanya Putra yang melihat sang pacar tak membawa apapun.
"Dimobil," jawabnya.
__ADS_1
"Oh, sekarang mau kemana lagi?" tanya Putra.
"Pulang aja yuk, capek mau bobo" Jawabnya.
_______
Dalam perjalanan Lista dan Putra tak pernah kehabisan kata, walau Lista masih fokus pada ponsel putra.
"Nikah yuk" ajak Putra.
"Ayuk, kapan kamu mau lamar aku?" tanya Lista tanpa menoleh kearah Putra.
"Secepatnya kalau kamu mau," balasnya dengan senyum.
"Serius?" tanya Lista yang masih tetap menatap ponsel sang pacar.
"In Syaa Allah."
Hening ...
Lista terus menggeser layar ponsel itu dengan senyum kecil, Putra terheran kenapa sang pacar tersenyum seperti itu.
"Kamu kok pede banget kirim kayak gini ke aku" Lista memperlihatkan foto putra tanpa baju yang menampakkan otot otot ditubuhnya plus six pack yang sudah terbentuk.
"Kenapa? tergoda ya, aku tahu... secara aku kan tampan, berotot, apalagi sekarang... aku yakin kamu gak bakal tahan dengan tubuhku ini," dengan PDnya Putra menjawab seraya mengecup tangan kanan Lista.
Setelah puas dengan ponsel sang pacar, Lista memberikan ponsel berlogo apel itu kepemiliknya.
"Ngantuk hmm?" tanya putra saat melihat mata indah snag pacar mulai sipit. Lista menggeleng kalau ia sangat ngantuk.
"Tidur aja kalau emang ngantuk, nanti aku bangunkan," dengan lembut tangan putra mengelus rambut.
"Jangan pikirin aku, tidur ya..." Elusan tangan putra yang mampu membuat Lista tertidur.
zzz zz zzz
"Cantik" gumamnya mengecup singat kening Lista. Tangan isengnya mengambil ponsel yang ada didekatnya dan memotret wajah tenang Lista.
"3 tahun gak ketemu kamu lebih dewasa, makin cantik, sedangkan aku masih begini begini aja," gumamnya merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik itu.
Tak terasa mobil yang dikendarai sudah sampai dirumah berlantai dua dengan halaman yang luas, siapa lagi kalau bukan rumah keluarga Lista.
"Sayang.... Udah sampai rumah kamu nih, bangun ya," dengan pelan Putra menepuk pipi Lista. Bukannya bangun Lista malah memeluk badan Putra hingga dadanya terasa menempel dilengannya. Pikirannya berkelana kemana mana, tapi dengan cepat ia menepis pikuran kotor itu.
"Astagfirullah. Tahan Putra belum halal," gumamnya.
Putra melepas sabuk pengamannya dan sabuk pengaman Lista, ia keluar dan menggendong tubuh lista. Untung masih ada bibi yang belum tidur.
Ceklek
"Non lista kenapa ya den?" tanya bibi.
"Ketiduran bi" jawab Putra.
"Oo, ya sudah bawa kekamarnya aja, tadi tuan sudah pesan kalau non lista tidur suruh bawa langsung kekamar gitu," ujar sang bibi. Putra mengangguk dan membawa sang pacar kekamar.
Skip
"Eughh.." Geliat Lista.
"Astagfirullah," Lista terbangun dan mendapati putra tertidur disampingnya. Ia melihat pakaiannya dan ia bernafas lega.
__ADS_1
"Putra, bangun" Lista membangunkan Putra.
"Eugghh," bukannya bangun Putra malah memeluk perut Lista erat, yang dipikir itu guling.
"Ih putra..... bangun dong," gerutu Lista seraya menggoyangkan badan Putra. Lista takut jika mama atau papanya membuka pintu kamarnya.
"Apasih" lirihnya yang masih enggan membuka mata. Dengan sabar Lista melepaskan pelukan itu pelan, tangannya mengelus rambut putra pelan yang membuat Putra keenakan tertidur.
"Ganteng banget sih, apa aku masih bisa lihat kamu tiap hari dengan begini," batinnya bertanya.
"Sayang," panggil Putra, yang membuyarkan lamunan Lista.
"Hmmm" Putra tersenyum melihat wajah cantik pacarnya dipagi harinya.
"Kok senyum senyum kenapa?" tanyanya, Putra menggeleng ia mengecup singkat bibi itu.
"Ishh... aku belum gosok gigi."
"Kalau udah gosok gigi boleh?" godanya. Lista menggeleng.
"Kenapa kamu bisa tidur diranjang aku?" tanya Lista pada Putra.
"Gak inget ya, kamu yang ngerengek sambil narik tangan aku," jawabnya, Lista menggeleng ia tak ingat jika ia merengek dengan menarik tangan Putra.
"Kamu bohong, aku gak pernah ngerengek sama narik tangan kamu," ujar Lista tak terima.
"Apa gunanya aku bohong."
"Aku gak tahu." Lirih Lista, ia berusaha mengingat kejadian malam tadi.
"Sayang, kamu mimisan," kaget Putra, mengambil tisu dinakas tempat tidur itu dan membersihkan hidung lista.
"Mimisan?" tanyanya menatap tisu yang sudah penuh dengan darah itu.
"Kamu sakit? kok gak bilang sih hmm?" tanya Putra menggendong sang pacar kekamar mandi, dan membasuh wajah sang pacar.
"Aku udah kayak anak kamu aja ya," ujar Lista mengambil sabun beraroma mint itu.
"Hmm, sebenarnya kita gak boleh dalam satu ruangan gini."
"Aku tahu, kalau gitu kamu pulang gih" usir Lista.
Putra mendelik tak percaya niatnya ingin mengajak Lista menikah malah mendapat usiran dari sang pacar.
"Kamu ngusir aku?" tanya Putra.
"Kamu bilang kita gak boleh satu ruangan, ya sudah kamu pulang aja" ujarnya.
"Oke, aku balik ke hotel. mumpung masih terlalu pagi juga" ujarnya mengecup kening dan kedua pipi sang pacar.
"Hati hati ya sayang." Lembut Lista mengecup pipi kanan putra.
"Sumpah kamu cium aku, gak nyangka dipertemuan kita aku dapat ciuman kamu yah walau dipipi tapi gak papa aku senneng, suatu saat aku bakal dapatin ciuman dibibir," senang Putra keluar dari kamar mandi dengan senyum.
"Maaf"
Bersambung....
(Maafin uthor ya, yang jarang up... ini uthor sempat sempatin up karena dapat surat cinta dari pihak Noveltoon😅😅, Hahaha maafin ya.)
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA
__ADS_1