Cewek Dingin Itu Pacarku

Cewek Dingin Itu Pacarku
Pingsan


__ADS_3

Sorenya Lista dan Putra sudah siap dengan pakaian santai keduanya, jika dilihat mereka bagai sepasang kekasih yang akan berkencan.


"Kenapa makin tampan?" tanya Lista seperti menggoda Putra yang sedang memakai gelang hitam itu.


"Kamu muji apa ngoda hmm?" tanya Putra menghampiri istrinya yang sedang duduk didepan meja rias itu.


"Gak dua duanya, aku cuma bilang aja kalau suamiku ini ganteng pake banget."


"Dih sekarang aja muji muji, dulu mujinya selalu Kak Aditya yang paling ganteng."


"Itukan dulu, sekarang aku harus muji suami aku dong. Tapi iya juga sih kalau dibandingkan kamu, Kak Adit itu satu tingkat lebih tinggi dari kamu."


"APA. Udah nikah sama aku kamu masuh juga muji muji Kak Adit. Gak bener nih, kamu istri aku bukan sih." Putra melipat tangannya di dada.


"Istri kamu." Lista berdiri dan memeluk suaminya berharap ia tak membuat suasana hati Putra memburuk dan tidak jadi jalan jalan.


"Jangan marah dong sayang." Lista masih menggoda Putra. Tapi pria itu malah berbalik dan duduk di kasur.


"Gak usah rayu aku."


"Sayang mah ngambekan gitu. Aku cuma bercanda. Kamu yang paling ganteng kok, Kak Adit mah apa." Lista berlari dan duduk dipangkuan Putra.


"Ayang..." Dengan manja Lista mencium pipi Putra.


"Jangan ngambek. Katanya mau jalan jalan aku udah siap nih."


"Gak mau nanti kamu malu lagi jalan sama aku, karena aku gak seganteng Kak Adit."


"Enggak kok yank, aku gak malu. Sumpah." Dengan wajah imut Lista mengangkat dua jarinya.


"Bohong."


"Sekali kali harus diberi pelajaran istri aku nih." Putra tertawa licik.


"Bener."


"Apa buktinya kalau kamu gak bohong?" tanyanya.


"Apa?"


Lista memikirkan cara agar suaminya ini tidak ngambek lagi dan bisa jalan jalan.


Cups


"Maaf ya sayang, janji gak bandingin kami sama Kak Adit lagi." Lista mengecup bibir tebal suaminya.

__ADS_1


Putra menggeleng.


"Ihh kamunya apa?"


"Pikir sendiri."


Lista berfikir sejenak dan membisikkan sesuatu di telinga Putra.


"Beneran?"


Lista mengangguk tanpa ragu tapi di dalam hatinya dag dig dug.


"Oke aku maafin, yuk berangkat keburu malam."


Dengan senyum mengembang Putra menarik tangan istrinya yang ada di pangkuannya itu dan mengecupnya.


****


"Jangan ngebut kamu mah kebiasaan kalau bawa motor," teriak Lista menepuk pundak Putra.


"Coba sensai baru sayang, jarang-jarangkan kita keluar berdua saat kamu jadi istri aku," balasnya tak kalah berteriak.


"Peluk aja yang erat." Lista mengangguk dan memeluk perut Putra.


Sampailah mereka disebuah restoran cepat cepat saji yang cukup terkenal di sana.


"Yuk." Putra menggenggam tangan sang istri dan masuk ke restoran. Banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya ada yang bilang mereka pasangan yang serasi ada pula yang mencibir bilang yang cewek gak panteslah. Tapi putra dan Lista tak menghiraukan ucapan mereka, Putra memeluk perut Lista dari samping dan masuk ke lift.


"Kok lantai atas?" tanya Lista menatap suaminya.


"Kita makan dulu di sini. Aku udah pesen tempatnya," jawabnya seraya mengecup pipi kiri Lista.


"Kenapa gak ke warung bakso aja? Padahal enak enak dan murah, daripada di restoran ini udah mahal dikit lagi makanannya." Cerocos Lista yang membuat Putra gemas sendiri.


Cups


"Sekali kali kita rasain yang beda sayang, masa setiap kita kencan makannya di warung terus. Tenang aja kamu boleh makan sebanyak apapun, selagi suamimu ini masih punya uang."


"Udah jangan protes aja, kita ke sini mau makan habis itu aku mau ajak kamu kesuatu tempat."


Lista hanya mengangguk, dan tibalah mereka di lantai atas restoran itu. Lista dan Putra berjalan menuju meja yang ada disana.


"Aku baru tahu di sini ada rooftop yang bagus."


"Hmm aku sengaja kosongkan rooftop untuk kita, kita bisa lihat sunset dari sini tunggu aja berberapa menit lagi."

__ADS_1


Mereka duduk dwngan saling berhadapan, Tapi pandangan mereka terarah ke arah barat.


Tak lama pesanana Putra sebelumnya datang, Lista yang melihat makanan favoritnya itu terlonjak senang.


"Terima kasih."


"Sudah tugas kami nona."


Para pelayan pergi dari sana dan tinggalah Lista dan Putra di sana.


"Kamu tahu sih aku lagi pengen makan udang."


"Eitss, ini punyaku kamu makan yang baby cumi. Lagian kamu kan aleri udang sayang." Putra memberikan piring yang bermenukan baby cumi itu.


"Tapi aku mau udang," rengek Lista merebut Piring yang ada di tangan suaminya.


"Nanti alergi kamu kambuh lagi sayang."


"Enggak kok aku udah gak alergi." Dengan bohong Lista berucap.


Melihat udang yang berbalur dengan tepung itu membuatnya ngiler.


"Huffttt, oke tapi kita makannya berdua." Dengan antusias Lista mengangguk. Putra menarik kursinya agar mendekat kearah Lista.


"Buka mulut." Lista menurut saat Putra menyuapinya dengan udang krispi itu.


"Enak," ucap Lista di sela-sela mengunyah udang itu.


Lista terus minta lagi dan lagi hingga udang itu habis. Putra hanya pasrah saat ia akan memakan udangnya Lista terus memintanya.


"Mau lagi."


"Enggak, udah cukup."


Kini giliran Putra yang makan, sedangkan Lista hanya melihatnya. Ada tawa kecil di bibir Lista saar Puyra dengan lahap memakan baby cumi yang sudah di masak itu.


Skip.


Setelah makan dan menikmati sunset di rooftop, Putra mengajak istrinya kesuatu tempat seperti yang diucapkannya tadi.


Bruk


Belum sampai mereka di parkiran Lista ambruk disamping Putra. Reflek Putra menahan sang istri.


"Sayang... hey bangun." Putra menepuk pipi istrinya pelan.

__ADS_1


Putra yang melihat wajah Lista memucat itu panik, mengingat istrinya belum sembuh total. Dengan cepat ia menghentikan taksi dan membawa istrinya ke rumah sakit.


Bersambung.....


__ADS_2