Cewek Dingin Itu Pacarku

Cewek Dingin Itu Pacarku
Penolakan Putra


__ADS_3

Setelah berberapa hari Putra izin dari kampusnya, hari ini adalah waktunya ia kembali ngampus. Ingin rasanya ia membolos dan menikmati harinya dengan sang istri dirumah.


"Nanti aku terus kekantor ya yank, mungkin pulangnya agak sore." Putra yang sedang duduk diranjang.


"Hmm. Aku akan siapin baju buat ngantor." Lista yang sedang mengeringkan rambut suaminya itu hendak berdiri namun tangannya malah dicekal oleh Putra dan menariknya kepangkuannya.


"Di kantor udah ada kok yank, gak perlu kam8u capek capek siapin lagi."


"Gak capek kok Put, 'kan udah jadi tugas aku." Dengan senyum Lista menjawab.


"Cukup senengin aku aja udah cukup kok." Pria itu menjatuhkan wajahnya didada Lista.


"Rasanya aku mau bolos aja," gumam Putra yang masih didengar oleh Lista.


"Gak boleh, awas aja kalau kamu sampai bolos." Ancam Lista menjauhkan wajah Putra dari dadanya.


"Ishh capek aku tuh ngampus gak ada kamu pula, kalau ada aku gak perlu males males," jawabnya.


"Aku udah putusin buat gak kuliah Putra, tapi jika aku udah sembuh In syaa Allah bakal daftar." Lista mengelus rambut Putra.


"Hmm... aku selalu berdo'a supaya kamu cepat sembuh. Dan akan selalu bersamaku."


"Aamiin,"


"Yank."


"Hmm?"


"Mana vitamin aku?" Tanya Putra.


"Ada dilaci sayang, mau aku ambilin?" Putra menggeleng an tetap memeluk erat Lista.


"Vitamin ini sayang, aku belum dapat hari ini." Putra menyentuh bibir Lista.


"Sini sini biar kamu semangat."


Cups


Cups


Cups


Tiga kali kecupan singkat Lista berikan dibibir Putra, Putra yang mendapat ciuman itu senang bukan main.


"Aaa makin gak mau ngampus." Manjanya dengan wajah imut.


"Gemes lah, jarang jarang dia krluarin wajah imutnya."


Lista mencubit pipi Putra hingga memerah.

__ADS_1


"Sayang ih sakit." Rengeknya seolah ngambek


"Ouhh maafin mama oke, adek jangan ngambek nanto gantengnya hilang lagi. Mama juga yang susah kalau harus cari yang baru." Lista mengelus pipi Putra.


"Kamu mau cari cowok baru hah?" Wajah ikutnya hilang diganti dengan garang.


"Peace✌ aku setia kok."


"Aku gak rela kalau kamu mau poligami aku, gak mau." Teriaknya yang membuat Lista menutup mulut suaminya untung kamar itu kedap suara.


"Yang ada kamu yang bakal poligami aku, ini malah kebalik."


"Aku setia kok, gak bakal duain kamu sumpah." Putra mengangkat dua jarinya.


"Lirik cewek yang bodynya sexsoy aja matanya langsung meleng." Lista menusuk nusuk dada Putra.


"Kalau aku gampang tergoda mungkin mantan aku udah banyak sayang, gak bakal tungguin kamu balik. Tapi apa hmm, aku tetap stay dikamu sampai sekarang."


Hidung mereka sudah bersentuhan, dan seceppat kilat Putra mengecup bibir manis yang sudah menadi candu itu.


"Percaya gak?"


"Percaya kok." Lista mengalungkan tangannya dileher Putra.


"Yuk turun, Mama Papa pasti udah nungguin dibawah biat sarapan." Tanpa menunggu jawaban Lista, Putra menggendong Lista keluar dari kamar seraya menarik tasnya.


Sampailah Putra di kampus, Putra berjalan santai menuju kelasnya. Ia tak menghiraukan tatapan mahasiswa disana.


"Doi dah married woy, sakit hati dedek."


"Apalagi istrinya cantik banget lagi, pantes dia gak pernah lirih cewek di kampus ini."


"Denger denger nih ya mereka tuh dah pacaran lama, aku denger dari temen aku."


"Wajar sih mereka dah sama cinta gitu."


"Gue aja iri lihat postingan doi pas wedding."


"Bla bla bla.....


Tiba tiba dari arah belakang, Putra dipanggil oleh seseorang yang sangat ia kenal.


"Putra." Panggil Diana, Putra hanya menoleh dan kembali melanjutkan jalannya dan diikuti oleh Diana.


"Ih Putra jangan cepet cepet dong jalannya."


"Nanti jalan yuk." Ajak Diana yang seolah lupa jika Putra sudah memiliki istri.


"Gak bisa," jawabnya singkat. Walau mereka teman tapi tak sedekat itu, teman ya teman belum tentu bisa jadi sahabat atau bahkan lebih.

__ADS_1


"Kenapa dilarang sama istri lo? Kita kan teman Put, mau ya jalan sama gue." Pinta Diana dengan wajah melas.


"Lista gak pernah larang gue buat jalan sama siapapun. Walau lo emen gue bukan berarti lo bisa maksa gue seenaknya. Mending lo mundur daripada lebih sakit hati." Jelasnya panjang.


"Apa salah kalau gue cinta sama lo."


Langkah Putra terhenti, ia berbalik badan dan menatap Diana yang mulai meneteskan air matanya.


"Cinta lo gak salah, yang salah itu lo cintanya sama gue. Sedangkan gue udah punya cewek yang jauh spesial dari lo. Bagi gue lo itu cuma orang baru yang berusaha masuk dalam kehidupan gue, dan gue paling gak suka orang yang kek gitu."


"Gue harap lo bisa lupain gue, karena sampai kapanpun gue gak bakal bisa balas rasa lu cinta lu. Cinta gue cuma buat Calista."


Ucapan Putra bagai belati yang menusuk hatinya, sakit tapi tak berdarah.


Tanpa mendengarkan jawaban Diana, Putra berjalan begitu saja menuju kelasnya meninggalkan Diana yang sudah terisak ditempatnya.


"Apa emang gue gak pantes buat lo Put? Gue tulus cinta sama lu."


Diana berlari dengan air mata yang terus mengalir menuju taman belakang sekolah.


Hiks


Hiks


Hiks


"Yank hantu bukan sih?" Tanya Indah yang memang sedang duduk santai di taman dengan pacarnya. Niatnya ingin bermesraan di taman ini yang indah akan pemandangannya.


"Bukan sih kayaknya, pagi gini masa ada setan sih."


"Lah siapa tahu, kita kan sering khilaf disini."


"Cuma kiss sayang gak sampai ituan."


"Huaaaaa hikss hiks huk huk" Suara tangis Diana makin kencang.


Fajar dan Indah saling bertatapan, sonyak ia menoleh kebelakang mereka dan ternyata ada Diana yang sedang menangis terseguk seguk disana.


"Samperin gak?" Tanya Fajar.


"Samperin lah, kasihan. Ditolak lagi nih sama si Putra. Apalagi ucapan nyelekit tu anak."


Fajar dan Indah mendekati Diana, reflek Indah memberikan tisu yang ada ditasnya.


"Gak usah nangis lu, maskara lu luntur sekua noh. Malu udah dandan cantik cantik malah jadi mbak kun lagi." Seloroh Indah memberikan tisu paa Diana.


"Kalian." Kaget Diana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2