
Tak terasa satu minggupun berlalu. Lita mengantar sang pacar kebandara, walau ia sedikit tak rela jika pacarnya pergi. Selama seminggu pula Putra dan Calista disibukkan dengan permintaan mama Lista yang sedang hamil, entah itu ngidam atau apalah, tapi dengan senang hati mereka lakukan.
Dan tiga hari sebelumnya Putra sudah meminta restu kepada papa, mama, nenek, dan kakek calista tanpa sepengetahuan Calista. Putra berniat serius dengan putri mereka. Mereka menerima naik niat Putra, tapi alangkah baiknya jika mereka semua sudah ada diindonesia.
"Gak bisa ya, pulangnya ditunda aja?" tanya Lista yang masih enggan melepas tautan tangan itu.
"Gak bisa sayang, aku harus daftar kuliah.. besok lusa hari akhir pengumpulan berkas berkasnya."
"Kan bisa online, dan berkasnya dibisa diantar orangkan" balas Lista. Putra mengacak rambut sang pacar, ia tahu lista hanya ingin ia disampingnya.
"Tanda tangannya?" tanya Putra.
"Kan bisa dipalsu" jawabnya.
"Sejak kapan kamu jadi bodoh hmm? kalau dipalsu pihak kampus juga bakal tahu sayangkuu, dan kalau aku dipenjara gara gara pemalsuan tanda tangan gimana?" tanyanya.
"Kan diindonesia hukum bisa dibeli," jawabnya.
"Nanti kalau modal nikah kita berkurang gimana?" tanya Putra.
"Ya... kita nikah di KUA aja dan maharnya seperangkat alat sholat. Aku gak butuh pesta yang mewah cukup sah menurut agama dan hukum aja udah," jawabnya, Putra yang mendengar jawaban sang pacar itu tersenyum.
"Kamu maunya sih sederhana, tapi aku mau yang terbaik buat kita, pernikahan kita harus menjadi kenangan terindah kita. Masa pacaran 6 tahun ijabnya di KUA, mau ditaruh mana muka kita hmm?" Putra mengajak Lista duduk dikursi tunggu.
"Kamu malu kalau nikah di KUA?" tanya balik Lista dengan wajah menahan senyum.
__ADS_1
"Bukannya malu tapi yah gitulah pokoknya, kita harus merayakan pernikahan kita," ujar Putra tak bisa dibantah.
"Emang kita mau nikah hmm?? kita masih terlalu muda untuk membangun rumah tangga."
"Tapi aku gak mau terus terusan nabung dosa," kata Putra menggengam tangan Lista.
"In Syaa Allah aja ya Put," dengan senyum Putra mengangguk ia memang berniat meminang sang pacar setelah mama lista melahirkan.
"Aku harus pulang keindonesia, jaga diri disini, jangan ngelirik cowok lain. Ingat punya pacar" ujar Putra dan diangguki oleh Lista. Tak ada sedikitpun Lista menduakan cowok tampan ini.
"Gak akan," jawabnya memeluk tubuh Putra.
"Tunggu berberapa bulan lagi ya," pintanya mengelus punggung Lista.
"Hmm"
Setelah melihat pesawat yang ditumpangi Putra hilang dari pandangannya, Lista pergi dari bandara menuju rumah sakit, karena ia merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya yang cepat lelah dan sering mimisan.
_____
"Menurut hasil lab, bu Lista mengalami leukemia atau lebih tepatnya adalah kanker darah akibat tubuh terlalu banyak memproduksi sel darah putih secara abnormal," jelas dokter seraya memegang kertas hasil lab Lista.
Deg
"Leukemia dok?" tanyanya menahan gemuruh didadanya. Sang dokter hanya mengangguk.
__ADS_1
"Apa penyakit leukimia bisa sembuh dok?" tanya Lista.
"Bisa bu, leukemia yang ibu derita masih di stadium awal jadi kemungkinan ibu sembuh bisa 90% dengan teratur minum obat secara teratur" jawabnya menulis resep obat untuk Lista.
"Ini resep obat yang harus ibu tebus, hindari stress, makan makanan yang bergizi, dan juga olah raga yang ringan ringan ya bu," Pesan dokter. Lista menerima selembar kertas itu dan mengangguk.
"Terima kasih dok," ucap Lista keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Ia menatap kedepan seolah tak terjadi apa apa, dan berlalu menuju apotik untuk menebus obatnya.
Setelah menebus obat, Lista menjalankan mobilnya menuju danau tempat biasa ia menenangkan diri. Tangisnya tertahan, Leukimia? pikirannya berkecambuk disana, ia menatap lekat air danau yang sangat jernih itu.
"Aku bisa sembuh kok, aku yakin bisa sembuh," Lista menguatkan dirinya sendiri bahwa ia bisa sembuh.
Sedangkan disisi lain, Putra sudah sampai dibandara soekarno hatta dengan sekretaris sang papa. Ia merubah raut wajah cerianya menjadi datar.
Bruk
Tak sengaja ia menabrak seseorang yang berada didepannya hingga buku buku yang dibawa wanita itu jatuh.
"Sorry" datar Putra dengan mengambil buku buku itu. Wanita yang melihat Putra mengambil buku bukunya yang terjatuh itu terpesona akan ketampanan Putra.
"No problem and thank you," ujar wanita itu mengambil buku yang diberikan Putra.
"Kenalin aku Diana kalau kamu?" tanya wanita itu dengan genit mengulurkan tangannya.
Tanpa menjawab Putra berlalu begitu saja meninggalkan Diana yang masih berdiri disana seraya mengantungkan tangannya.
__ADS_1
"Cih... ganteng ganteng sombong," gumamnya berlalu meninggalkan tempat itu dengan kesal, ia berharap tak bertemu lelaki itu lagi.
Bersambung...