
Tak terasa pelajaran telah selesai, Putra melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 11 lebih. Ia bergegas pergi dari kelas menuju mobilnya.
Walau bagaimana pun ia sudah menjadi seorang suami bagi Lista. Ia bertanggung jawab akan hidup Lista. Maka dari itu ia juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan lahir sang istri.
Sedangkan dari kejauhan Diana menatap kepergian Putra dengan sendu. Air matanya mengalir begitu saja.
"Ok semangat Di, cowok gak cuma Putra aja di dunia ini." Diana menyemangati dirinya sendiri.
Sesampainya Putra di Kantor, ia berjalan melewati resepsionis yang menyapanya disana.
"Gila makin beraura aja bos baru kita," ucap salah satu resepsios.
"Iya, kek oppa oppa korea," jawabnya seraya memperlihatkan idolanya yang ada di ponsel.
"Lo tuh ya, korea aja. Ada apa dengan korea?" Tanyanya.
"Cowoknya tampan tampan, kek bos kita."
"Halu aja terus." Resepsios itu menonyor kepala rekannya yang hanya menyengir.
Sampainya diruangannya, ia masuk dan berganti pakaian formal tak lupa ia mengeluarkan pigora yang berisi foto pernikahannya diatas meja.
Tok tok tok
"Masuk."
"Permisi pak, saya sekretaris baru bapak. Rekomendasi dari bos besar."
"Perkenalkan nama kamu."
"Nama saya Aira Anjarani. Saya pernah kuliah di Universitas Nusa Bangsa jurusan administrasi. Saya direkomendasi langsung dari kampus untuk menjadi sekertris bapak." Sopan Aira.
"Hmmm."
'Irit amat jawabnya, semangat Ra.'
Jam terus berjalan, setelah menemui papanya tadi. Putra langsung disibukkan dengan berkas yang menumpuk. Papanya berkata, "Kamu harus rajin rajin kerja biar istrimu gak kelaparan." Padahal Papa Sigit sendiri sudah pulang satu jam yang lalu.
"Bapak gak pulang?" Tanya Aira basa basi saat ia sedang memberikan berkas yang harus ditabda tangani Putra.
"Belum, ini aja?"
"Iya pak, cuma ini saja." Jawab Aira seformal mungkin. Gadis berusia 24 tahun itu terpesona akan paras sang atasan. Ia tak tahu jika Putra masih 20 tahun.
"Kamu boleh pulang dulu,l, saya akan selesaikan ini." Tanpa menoleh Putra berbicara.
"Gak apa-apa pak, saya tunggu bapak selesai saja."
Putra tak menjawah tangan an matanya masih fokus pada laptop dan kertas ditangannya.
Drrrttt
Suara ponsel membuat Putra mengalihkan pandangannya kesumber suara. Putra tersenyum siapa yang meneleponnya.
Wy Wife❤ is calling...
"Halo sayang"
__ADS_1
Deg
"Sayang, siapanya pak Putra?" Tanya Aira yang tak sengaja dengar itu.
"Kamu masih di kantor?" Tanya Lista dari arah sebrang.
"Iya, masih banyak berkas yang harus aku urus." Jawabnya seraya mengetik di keyboard laptopnya.
"Udah jam setengah delapan malam loh Put, kamu gak pulang?" Tanya Lista.
"Pulang sayang, bentar lagi selesai dan aku pulang. Tunggu oke." Putra menyinggungkan senyumnya mendengar nada khawatir dari Lista.
"Jangan malam malam, atau kamu tidur diluar." Ancam Lista yang membuat Putra gelagapan. Ia sudah terbiasa dengan memeluk Lista saat tidur mana bisa.
"Oke aku akan pulang."
"Selesaiin aja dulu, yang penting jangan pulang malam."
"Hmmm, kangen kamu." Lirih Putra menatap foto pernikahan mereka.
"Nanti juga ketemu."
"Hmm, jangan lupa minum obat. Aku usahain pulang sebelum jam 8."
"Iya."
Panggilan telepon mereka terputus. Aira yang sedari tadi mendengar pembicaraan itu salah tingkah sendiri.
"Kenapa kamu masih disini?"
"Anu pak, itu saya gak tahu saja kalau bapak sudah punya istri maaf sebelumnya karena saya sudah menaruh rasa suka sama bapak tadi. Maaf ya pak," Aira menundukkan kepalanya.
"Saya bakal buang rasa saya kok sama bapak, tenang aja." Dengan tawa canggung Aira.
"Ya. Kamu bisa beluar dari sini."
Aira mengangguk dan mengundurkan dirinya, Aira keluar dari ruangan bosnya dengan cepat.
"Ada ada aja, padahal umurnya tuaan dia." Gumam Putra kembali.
*****
Putra tak menepati ucapannya untuk pulang jam delapan. Putra baru bisa menyelesaikan pekerjaannya pukul delapan kurang 3 menit.
Mobil yang ia kendarai membelah jalan menuju rumahnyanya.
Sampainya di rumah Putra membuka pintu dan masih melihat mamanya yang sedang memangku Adel yang tertidur dan papa yang sedang menonton televisi.
"Istriku mana mah?" Tanya Putra seraya menyalami orang tuanya.
"Tadi izin keatas dulu, capek gitu katanya." Jawab mama seraya mengekus rambut halus sang putri.
"Capek? Emang Lisat ngapain kok capek?" Tanya Putra.
"Tadi dia ngeyel mau bantuin mama nyiram tanaman yang dibelakang rumah, kamu tahukan sekarang musim panas."
"Oke makasih mama, Putra ke kamar dulu." Putra berjalan menuju kamarnya
__ADS_1
Ceklek.
"Assalamu'alaikum sayang, aku pulang." Salam Putra, hal pertama adalah Lista yang seanf bersandar di headboard kasur dengan buku ditangannya.
"Wa'alaikumsalam, baru pulang hmm?" Tanya Lista menutup buku yang ia baca dan turun dari kasur dan menghampiri sang suami.
Cups
"Maaf pulangnya malam." Putra menarik Lista dalam pelukannya dan memberikan kecupan dikening.
"Gak apa-apa yang penting kamu udah sampai rumah."
"Aku siapin air hangat ya buat mandi." Lista berlalu menuju kamar mandi, ia menuangkan aroma terapi disana.
"Airnya udah siap, kamu bisa langsung mandi," icap Lista. Putra suah melepas kemeja dan jasnya hingga menampakkan tubuh atasnya.
Grep
"Mandi bareng yuk." Ajak Putra yang sudah memeluk Lista hingga wajah wanita itu menabrak dadanya.
"Aku udah mandi tadi, aku mau istirahat aja."
Lista menjawab dengan senyum, sebelum melepaskan pelukan itu Lista mengecup dada suaminya.
"Ihh main cium cium lagi." Goda Putra sesaat setelah Lista mengecup dadanya singkat.
"Suami sendiri juga."
"Kiss lagi." Pintanya menunjuk bibirnya dan tanpa basa basi Lista langsung mengecup bibir Putra.
"Dah mandi ya." Dengan patuh Putra masuk kedalam kamar mandi.
Tak sampai 15 menit Putra keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi bawahnya.
"Pakai baju kamu gih," Lista sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Tanpa malu Putra membuka handuk yang menutupu bawahnya itu dan memakai celananya.
"Bajunya?"
"Gerah yank, mau terus bobo." Dengan manja Putra menarik sang istri untuk tidur.
"Capek banget hmm?" Tanya Lista mengelus rambut sang suami yang sedang memeluknya erat itu.
"Hmm, kamu juga kata mama kamu capek habis siram tanaman dibelakang rumah?"
"Aku bosen gak ngapa ngapin."
Tanpa sadar pembicaraan mereka terus berlanjut hingga pukul setengah 10 malam.
"Udah malam yuk tidur, katanya capek."
"Gsk bisa tidur, kalau gak kamu sus*in bayi besarmu dulu." Putra merengek bagai anak kecil.
"Hmmm janji ya, terus tidur," Putra mengangguk.
Akhirnya mereka tertidur dengan Putra yang sudah memosisikan dirinya bagai bati yang menyusu didada istrinya.
__ADS_1
Bersambung