
Tak terasa seminggu sudah Lista di Indonesia, banyak hal yang ia lalui selama seminggu ini. Mengajak Adel main, jalan berdua, dinner, dan lainnya.
Pagi hari ini Putra terus mengembangkan senyumnya, entah apa yang terjadi dalam diri Putra hingga seperti itu.
"Sayang," panggil Putra saat mereka sedang menemani Adel dan Zeline bermain ditaman.
"Hmm?"
"Kamu.... Ingat gak hari ini tanggal berapa?" tanya Putra menatap wajah sang kekasih.
"Tanggal 15," jawabnya.
"Ada apa ditanggal 15?" tanyanya lagi.
"Gak ada kok, emang kamu ada janji sama orang?" tanya Lista.
"Hufftt enggak."
"Emm ya sudah," sahut Lista seolah tak peduli yang membuat Putra mendesah kesal dan juga kecewa.
"Apa dia memang tak ingat ya?" tanyanya dalam hati.
Grep
Tiba tiba Putra menjatuhkan kepalanya dipaha Lista yang memang mereka sedang lelehan dirumput taman itu seraya mengamati adik adik mereka.
"Ada apa sih, tadi aja senyum senyum sekarang kok cemberut gini?" tanya Lista seolah tak tahu apa yang ada dipikiran Putra. Putra mengeleng pelan, dengan menduselkan wajahnya diperut Lista.
"Geli tahu," dengan lembut Lista menjauhkan kepala Putra dari perutnya. Tapi sepertinya Putra enggan untuk pindah kenyamanannya.
"Kamu bener gak ingat hari ini hari apa?" tanya Putra lagi, tangannya membelit perut ramping itu.
"Hari sabtu tanggal 15, emang kenapa sih?" tanya Lista menahan senyumnya seraya mengelus rambut pria itu.
"Jahat banget deh yank, masa gak ingat kalau hari ini," belum selesai Putra menjawab suara Adel mengagetkan mereka.
"Kakak," panggil Adel. Keduanya saling pandang dan menuju tempat Adel dan Zeline.
"Kenapa?" tanya Lista pada Adel.
"Mau buah itu, tapi tinggi. Adel tak sampai, Celin juga." Tunjuk Adel. Adel memanggil Zeline dengan nama Celin agar mudah penyebutannya.
Putra dan Lista mengikuti arah tunjukkan Adel, ternyata gadis itu menunjuk buah Rambutan yang suah merah diatas pohon.
"Kita beli aja ya," saran Lista membayangkan tinggi pohon itu saja membuat bulu kuduk berdiri.
"Tapi Adel sama Celin mau yang itu kak," dengan wajah melas andalan Adel hingga membuat Putra mengangguk. Zeline? gadis cilik itu bodo amat.
"Ya kan Cel," Adel meminta bantuan dari Zeline.
"Hmm."
__ADS_1
"Gimana Put, mau manjat?" tanya Lista menatap pacarnya.
"Gimana lagi."
Karen disana tidak ada galah atau tangga, Puta terpaksa memanjat pohon rambutan yang tingginya hampir 4 meter itu.
Setelah sampai diatas pohon Putra, pria itu menganbil berapa tangkai rambutan dan ia jatuhkan begitu saja. Adek bersorak senang mendapat rambitan yang langsung dari pohonya itu.
"Biar kakak yang ambil itu banyak semutnya, Adel sama Zeline ketempat tadi aja. Nanti kakak bawa kesana." Dengan lembut Lista menarik tangan Adel yang hampir mengambil rambutan itu. Entah kemana sifat dinginnya saat ini.
"Okey" dengan semangat Adel menarik tangan Zeline menuju tempat Lista tadi.
Bruk
"Hebat deh, gak nyangkan kamu bisa manjat." Puji Lista saat Putra sudah dibawah.
"Iya dong, calon suami yang the best aku tuh. Mama papa kamu pati bangga punya mantu kek aku." Dengan penuh percaya diri Putra berkata. Lista hanya menatapnya sekilas dengan malas, tangannya masih sibuk mengambil rambutan.
......
Tak terasa hari suah mulai malam, setelah pengambilan rambutan tadi, Putra tiba tiba dihubungi sang papa untuk pergi keperusahaan, mau tak mau Putra mengiyakannya.
Sehari pula seperti tak ingat hari ini tanggal berapa, Lista, mama, papa, kakak kakaknya.
"Papa juga, katanya butuh banget dianya pulang dulu sedangkan gue. Huhhhh." Desahnya pelan melihat kertas kertas didepannya.
"Gue butuh Lista nih," gumamnya mengambil ponselnya dan mendeal nomor Lista tapi tak kunjung diangkat oleh Lista hingga akhirnya ia menelepon sang mama.
"Ada nih sama mama, kenapa? kangen?" tanyanya balik.
"Iya, tadi Putra telepon gak diangkat."
"Halo Put, kenapa?" Tiba tiba suara lista membuat moodnya yang tadi turun kini naik lagi.
"Kangen yank, pen peluk." Jawabnya.
"Selesaiin dulu pekerjaan kamu, kalau udah kamu pulang dan bisa peluk aku." Seperti mendapat aura positif Putra mengangguk patuh.
"Ya sudah aku lanjutin kerja, kamu hati hati dirumah terutama jika ada mama papa yang pamer keromantisan bisa bisa kamu pengen." Ocehnya yang dijawab kekehan kecil dari seberang.
"Jangan lupa obatnya diminum," ujar Putra.
"Iya tadi udah minum," jawabnya.
"Bagus."
"Ya sudah aku lanjutin ini kurang dikit kok, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam"
Dengan semangat Putra menggerjakan berkas bekat yang ada dimejanya itu agar ia bisa pulang dengan cepat.
__ADS_1
19.56 WIB
Akhirnya pekerjaan Putra selesai dengan senang ia mengambil tasnya dan berlalu kepuar dari kantor. Masih ada berberapa karyawan yang lembur dan menyapanya.
Putra menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, walau ia ingin cepat sampai rumah dan bertemu Lista. Tapi, ia juga tak mau pulang ke Rahmatullah dengan cara yang tak epik.
Tiinnn...
Gerbang dibuka oleh satpam rumahnya, Putra kembali melajukan mobilnya kedalam garasi.
",Huffttt akhirnya sampai rumah," ucapnya turun dari mobil.
"Assalamu'alaikum," salamnya memasuki rumah yang tampak sepi dan juga gelap.
"Mama, papa, sayang." Panggil Putra seraya mencari saklar rumahnya.
"Kok sepi banget sih biasanya rame deh jam segini masa udah tidur semua sih," gumamnya.
Tek
Happy brithday to you
Happy brithday
Happy brithday
Happy brithday to you
Tiba tiba Lista keluar dari arah belakang membawa sebuah kue diikuti oleh mama Hana, papa Sigit yang menggendong Adel, Putri yang menggandeng tangan Zeline dan aditya yang menggendong Mey.
"Selamat ulang tahun gantengku," ucap Lista yang sudah dihadapan Putra membawa kue ultah itu.
"Berhubung dalam islam gak ada yang namanya tiup lilin, kamu langsung potong kue aja. Jangan lupa berdo'a dulu."
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Putra memejamkan matanya dan berdoa diulang tahunnya yang ke 20 tahun ini.
Putra kembali membuka matanya dan mengambil pisau dan memotong kue itu menjadi berberapa bagian. Ia membagikan potongan kue itu keanggota keluarganya dan yang terakhir adalah Lista.
Putra menyuapkansatu potong kue ke Lista, dan dengan senang hati Lista menerima suapan itu. Kemudian Lista menyuapkan juga potongan kue paa Putra.
Cup
"Terima kasih," bisiknya setelah mengecup kening Lista yang hanya mengangguk..
"Selamat hati jadi anak mama, gak terasa ya kamu udah 20 tahun aja." Mama Hana memeluk Putra.
"Makasih ma," ujar Putra membalas pelukan sang ibu.
Mereka memberi ucapan selamat hari jadi pada Putra, tak lupa Mey, Adel, dan Zeline.
Bersambung.....
__ADS_1