
Dengan panik Putra membawa Lista kerumah sakit, pikirannya melayang kemana mana. Putra takut Lista meninggalkannya.
"Dokter, suster tolong!!" teriak Putra yang masih menggendong Lista dengan darah yang masih mengalir dihudung Llista. Tak lama paa perawat membawa brangkar dan Putra meletakkan Lista disana.
"Sayang aku mohon jangan tinggalin aku," batin Putra berteriak, ia tak sanggup berteriak untuk saat ini.
"Bapak mohon tunggu diluar," ucap salah satu suster menahan Putra yang akan ikut masuk itu. Putra hanya diam, memandang pintu yang sudah ditutup itu.
10 menit
20 menit
30 menit
Putra mondar mandir didepan ruangan itu, ia tak tahu harus apa. Pikirannya kosong matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang ditangani oleh Dokter, Putra menatap sedikit celah ruangan itu dari kaca dipintu.
"Jangan buat aku gila sayang, tolong!!"
Ceklek
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Putra menatap dokter yang menangani Lista.
"Anda siapanya pasien ya?" tanya sang Dokter.
"Calon suaminya dok," jawabnya.
"Kalau boleh tahu dimana keluarganya ya pak?" tanya Dokter.
"Diluar negeri dok, bisa jelaskan pada saya ada apa dengan calon istri saya," tak sabar Putra, karena saang Dokter yang hanya menanyainya tanpa langsung keinti pokok.
"Hufft mari pak ikut keruangan saya," ajak sang dokter, Putra melihat kearah Lista yang masih berbaring dan mengikuti Dokter dari belakang.
Sampai diruangan sang Dokter, Dokter tadi memberikan hasil lab kepada Putra yang tampak bingun.
"Menurut hasil lab menunjukkan bahwa calon istri bapak mengidap Leukemia atau yang sering disebut kangker darah."
__ADS_1
"Leukimia dok?" kaget Putra, ia tak tahu tentang penyakit pacarnya, dan kenapa Lista tak memberitahunya.
"Iya pak, kangker darah pasien masih ditahap awal. Mungkin karena pasien teratur meminum obat. Tapi tak ayal Leukimia dapat membahayakan nyawa pasien."
"Tapi penyakit Leukimia bisa disembuhkan kan dok?" tanya Putra.
"75% bisa pak, In Syaa Allah dengan teratur minum obat dari dokter penyakit itu bisa sembuh, apalagi masih ditahap awal belum sampai ditahap akut."
"Tolong jangan buat pasien stres atau terlalu lelah ya pak, kontrl juga pola makannya. Jika ia tak nafsu makan anda bisa memaksanya agar perutnya tidak kosong."
"Baik dok."
Putra maupun Dokter tak menyadari jika Diana menguping dibalik pintu, dengan senyum smiriknya ia berlalu meninggalkan tempat itu.
....
Takut!! Putra takut Lista meninggalkannya, Putra takut Lista tak mampu menahan sakitnya dan tidak, tidak Putra tak mampu membayangkan hal itu.
Ceklek
"Kenapa kamu sembunyiin penyakit kamu hmm?" Putra menggenggam tangan putih itu.
"Kenapa gak jujur, kenapa Lista. Aku takut."
Tangannya masih enggan untuk melepaskan tangan Lista, berulang kali ia mengecup punggung tangan itu.
Tak terasa hari sudah malam, gadis itu mengerjabkan matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit langit putih dan bau obat yang menyengat dimana lagi kalau bukan Rumah sakit.
Tangannya terulur untuk mengelus rambut lebat pria yang ada disampingnya. Gadis itu bisa melihat raut lelah dari wajah tampan itu, tangannya dipegang erat oleh tangan kekar itu.
"Maaf," lirihnya.
Merasa ada gerakan dikepalanya membuat Putra terbangun, Lista hanya tersenyum melihat wajah Putra yang khas bangun tidur.
Putra yang melihat Lista sudah terbangun itu langsung memeluk tubuh lemah itu dengan erat, ada rasa senang, sedih dan kecewa dihati pria 19 tahun itu.
__ADS_1
,"Kenapa hmm?" tanya Lista lirih, ia belum tahu jika Putra sudah mengetahui kebenaran tentang penyakitnya. Putra masih diam memeluk gadisnya.
"Kenapa kamu sembunyiin penyakit kamu dari aku?" tanya Putra yang masih memeluk Lista.
Deg
"Kenapa?" tanyanya lagi, Lista dapat mendengar nada kecewa dalam pertanyaan Putra.
"Penyakit apa?" tanya Lista seolah tak tahu, Lista akan terus menutupi penyakitnya hingga ia sembuh.
"Jangan berlagak bodong Calista, kamu gak bisa bohongi aku terus," ujarnya melepar hasil lab yang tadi ia bawa.
Tes tes tes
Apa yang Lista takutkan terjadi, ia menatap hasil lab yang ada dipangkuannya. Putra tahu penyakitnya, Lista takut putra meninggalkannya.
"Maaf," Lirihnya dengan air mata yang sudah mengalir kepipi cantik itu.
"Maaf," lirihnya lagi.
"Aku butuh penjelasan Lista, aku gak butuh maaf. Kenapa kamu gak jujur kalau kamu punya penyakit Leukimia? kita udah 5 tahun lebih pacaran Lista. Apa sebatas ini kepercayaan kamu sama aku, kamu anggap aku apa?" tanya Putra yang masih menatap lekat mata Lista yang mengembun.
"Maaf, putra maafin aku."
"Aku butuh penjelasan Calista!!" bentak Putra yang tak bisa membendung lagi amarahnya.
"Hiks hiks..." Lista hanya menangis saat putra membentaknya. Lista takut dengan sifat putra yang satu ini.
"Jawab!!!! apa kamu mau aku mati dihadapan kamu?" tanyanya dengan mata memerah menahan tangis.
"Enggak putra, aku gak mau..." Lista meraih tangan pacarnya agar bisa tenang.
"Jawab," Pintanya dengan nada melas, Putra butuh jawaban kenapa gadisnya menyembunyikan penyakitnya.
Bersambung.....
__ADS_1