Cewek Dingin Itu Pacarku

Cewek Dingin Itu Pacarku
Perih


__ADS_3

Tak terasa hari sudah mulai siang, panas yang menembus tirai kamar tak mampu mengusik dua anak manusia yang sedang terlelap dengan nyaman. Tangan mereka membelit satu sama lain didalam satu selimut putih itu.


"Emhh, si lau, gumam Lista saat matanya terkena cahaya matahari itu.


Matanya membuka sempurna saat ini, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Rasa lelah yang membuat ia kembali ingin tertidur.


Merasa ada gerakan dari sampingnya membuat Putra menyembunyikan wajahnya dibelahan dada Lista yang masih polos.


"Putra."


Seketika bayangan pagi panasnya bersama sang suami memenuhi otaknya. Bagaimana suaminya menguasai dirinya yang berada dibawahnya dan juga bagaimana ia terus mengeluarkan suara yang begitu memalukan baginya tapi sangat indah ditelinga suaminya.


Wajahnya tiba tiba memerah, membayangkan rasa sakit dan nikmat yang bersamaan.


Cups


"Pagi sayang." Putra mengecup bibir bengkak Lista yang sedang menatapnya.


"Siang."


"Emmhh emang ini jam berapa yank?" Tanya Putra menatap mata sang istri.


"Jam 1 siang," jawabnya duduk bersandar diranjang itu.


"Kita cuma tidur 4 jam ya yank."


"Udah jangan dibahas lagi, aku malu." Cicitnya menundukkan kepalanya.


"Kenapa malu hmm? Udah halal kok," Putra mendekatkan wajahnya kearah Lista tapi terhenti karena suara perut dari sang istri.


"Gak tahu diri banget ni perut."


Putra menahan tawa saat momentnya terganggu, ia menatap sang istri yang tengan menahan malu.


Cups


"Aku tahu kamu lapar, tapi mandi dulu oke." Lista mengangguk pelan.


"Kamu dulu aja," lirih Lista saat merasa ada yang aneh dengan area intinya. Lista menaikkan selimut itu agar tidak melorot.


"Bareng." Titah Putra yang membuat Lista gelagapan, dengan pelan Putra menarik tangan Liata yang sedang memegangi selimut itu.


"Asshhhh." Ringis Lista saat ia sudah berdiri dengan sigap Putra menahan tubuh Lista dan membawanya untuk duduk lagi.


"Maaf ya sayang, gara gara aku kamu jadi kesakitan gini." Putra berlutut didepan Lista seraya mengenggam tangan sang istri.


"Sshuuttt gak apa-apa Putra, ini udah kewajiban aku buat layani kamu. Gak lama juga hilang perihnya." Liata biza menangkap tatapan bersalah dari mata Putra.


"Tapi aku."

__ADS_1


"Kita mandi aja, aku udah laper dari malam 'kan belum makan."


"Mandi bareng ya." Pintanya dan diangguki oleh Lista. Dengan cepat Putra menggendong tubuh Lista yang masih terbungkus selimut itu.


Putra mendudukkan Lista didekat wash tafel itu dan menyiapkan air untuk sang istri mandi.


"Hafal niat mandi junub?" Tanya Putra pada istrinya. Lista menggeleng karena ia memang tak pernah mempelajari niat niat.


"Ikutin aku ya." lista mengangguk, dan melepas selimut yang ia gunakan agar bisa berdiri dibawah shower.


“Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbar minal janabati fardlon lillahi ta'ala.”


“Nawaitul ghusla," Lista menatap suaminya.


"Liraf'il hadatsil akbar." Putra terus membimbing sang istri.


"Liraf'il hadatsil akbar," Lista kembali menatap suaminya.


"Minal janabati."


"Minal janabati fardlon lillahi ta'ala."


Shower dinyalakan dan akhirnya mereka memalukan mandi wajib bersama, sekuat tenaga Putra tahan saat melihat tubuh sang istri yang bersih tanpa cacat.


_______


“Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbar minal janabati fardlon lillahi ta'ala.”


_______


Setelah mandi mereka menggunakan handuk kimono yang ada dikamar mandi hotel mereka.


"Jangan pakai celana dal*m dulu ya sayang, takut iritasi nanti."


Lista hanya mengangguk ia tak sanggup lama berdiri rasa perih itu masih ada sampai sekarang. Putra yang sudah memakai pakaian lengkap itu menghampiri sang istrinya yang duduk dikasur.


"Kamu disini aja biar aku yang cari makanan buat kita," ucap Putra mengusap rambut sang istri yang masih basah.


Lista mengangguk dengan senyum tangannya masih memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya.


Cups.


"Jangan kemana mana," ucap Putra sebelum menutup pintu.


"Iya."


Tak sampai 30 menit Putra datang nampan yang berisi makanan itu untuk mereka. Putra mulai menyuapi sang istri dengan telaten. Nampak sekali Lista sangat lapar melihat begitu lahapnya ia makan.


"Lapar banget hmm?" Tanya Putra memberikan air minum untuk Lista.

__ADS_1


"Heem, kita gak makan apa apa dalam malam resepsi. Wajarlah kalau aku lapar apalagi pagi tadi kamu gempur aku," lirih Lista yang masih didengar oleh Putra.


"Kamu juga menikmatinya 'kan hmm?" Godanya seraya menghapus sisa noda makanan dibibir Lista.


"Gara gara kamu jadi perih tahu."


"Maaf sayang, nanti juga enakan kok." Putra tersenyum.


"Kamu bawa obat yang biasa kamu minum 'kan?" Tanya Putra, Lista mengangguk dan menunjuk nakas. Putra mengambilobat itu dan mengeluarkan berberapa butir dan memberikannya ke Lista.


Lista meminum obat itu dengan sekali minum.


Putra mengingat sesuatu, ia mengambil sesuatu disakunya. Dan berjongkok didepan Lista.


"Buka paha kamu yank." Lista menggeleng malu, ia belum memakai apaoun selain handuk kimono yang melekat ditubuhnya.


"Sayang, kakak tadi ngasih aku salep biat kamu. Mungkin ini bisa redain perihnya kamu." Bujuk Putra membuka kaki Lista.


"Malu," cicitnya.


"Aku suami kamu sayang, aku juga udah lihat semuanya dikamu. Kenapa mesti malu hmm?" Tanya Putra.


Dengan sedikit paksaan akhirnya Lista membuka kakinya, Putra sedikit terkejut saat melihat hunian miliknya sedikit lecet itu.


"Maaf ya sayang," Putra mengecupnya sebentar dan mengoleskan salep itu kedinding milik Lista.


Lista merasa dingin diarea intinya, Lista menatap suaminya yang masih megoleskan salep itu dengan senyum. Ia merasa dihargai sebagai seorang wanita.


"Kenapa hmm?" Tanya Putra meniup itunya.


"Dingin," dengan jujur Lista menjawab.


"Semoga cepat sembuh hmm." Lista mengangguk dan merapatkan kakinya.


"Makasih ya put, udah jadiin aku wanita yang kamu pilih. Maaf jika selama ini aku hanya menjadi beban kamu." Lista menatap mata sang suami.


"Aku gak merasa kamu jadi beban buat aku kok, aku mencintaimu dengan tulus sayang. Jadi stop bilang makasih." Putra mengecup tangan Lista.


"Hmmm.. pasti saat kamu masuk, kampus heboh deh. Kamu yang tiba-tiba nikah. Secara kamu yang most wanted disekolah, terkenal dingin, pasti banyak yang idolain kamu."


"Gak peduli, yang penting aku bahagia sama kamu."


"Kamu dari dulu memang gitu."


"Demi kamu sayang."


"Ya, aku paham."


Mereka menikmati siang mereka dikamar hotel tak ada niatan untuk keluar. Mentoknya lihat pemandangan dari balkon kamar itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2