Cewek Dingin Itu Pacarku

Cewek Dingin Itu Pacarku
Kantor


__ADS_3

"Sayang, pakein dasi dong." Teriak Putra memanggil Lista yang sedang di dapur membantu Mama Hana itu terkejut karena teriakan Putra.


"Udah sana ke kamar, maafin anak mama ya." Dengan menahan tawa mama Hana. Hampur tiap hari Putra teriak memanggil istrinya.


"Gak apa-apa mah, aku ke kamar dulu ya." Setelah pamit, Lista berjalan kearah kamar.


"Sayang.... sayang ....." Teriaknya yang belum tahu sang istri sudah dibelakangnya.


"Shutt, kamu gak malu apa teriak-teriak?" Tanya Lista meraih dasi garis garis itu dan memakaikannya keleher Putra.


"Nunduk dikit." Perintah Lista dan dituruti oleh Putra.


"Kenapa malu, yang dipanggil juga istri sendiri bukan istri tetangga." Jawab Putra menatap wajah istrinya yang sibuk menata dasinya itu.


"Ada mama, papa, Adel juga malu lah Put."


"Gak usah malu, mama papa maklumin kok. Kayak gak tahu mereka pas muda aja."


"Dah." Lista menyelesaikan memasang dasi suaminya itu.


Cups


"Makasih istriku." Putra mengecup bibir Lista sekilas dan melingkarkan tangannya diperut rata sang istri.


"Sama sama, udah jadi tugas aku," jawab Lista mengalungkan tangannya dilehwr Putra.


"Kamu makin cantik aja sih yank. Tambah isi juga, gak seperti kita jumpa di singapura dulu." Putra meneliti sang istri.


"Itu berarti aku bahagia selama sama kamu." Jawab Lista tak tersinggung.


"Ya kamu benar, kamu harus bahagia sama aku. Aku akan melakukan apa pun yang bisa membuat senyum mahalmu tetap terpancar."


"Aku tak sedingin itu." Dari kata kata Putra ia ingat lagi jika dulu ia sangat dingin pada orang baru tak terlecuali putra.


"Kamu hanya sedikit kaku waktu itu. Gadis yang mendapat gelar Cewek Terdingin di sekolah, tapi aku malah tertarik dengan cewek itu."


"Kenapa kamu tertarik sama aku?" Tanya Lista memeluk pelan Putra agar kemeja yang dipakai suaminya tidak kusut dan membenamkan wajahnya didada Putra.


"Karena senyum kamu saat di danau berberapa tahun sialng. Sedasyat itu senyum kamu sampai bikin aku tergila gila padahal itu pertama kali aku melihat kamu."


"Itu saat kita masih anak anak Putra, umurku saja belum genap 13 tahun kala itu. Kau juga sama, bisa saja rasa itu berubah seiring berjalannya waktu." Elak Lista.


"Sayangnya rasa ketertarikan itu berubah menjadi cinta. Bukannya menyusut malah tambah besar."


"Udah selesai nih, nanti kamu telat lagi ke kantornya."


"Gak papa sayang aku kan pewaris papa."


"Gak boleh gitu, kewajiban tetap kewajiban. Walau kamu calon pemimpin perusahaan tapi kamu juga harus kasih contoh yang baik buat karyawanmu."


Putra melepaskan pelukan itu saat Lista sedikit memberontak. Lista mengambil jas yang sudah disiapkan tadi.


"Kamu emang gak berubah."


"Hmm."


Setelah selesai berpakaian, mereka berdua keluar dari kamar menuju ruang makan yang disana sudah ada papa dan mamanya.

__ADS_1


******


"Kamu gak ada acara apa apa sayang?" Tanya mama Hana saat melihat Lista dan Adel sedang bermain diteras itu.


"Gak ada mah kenapa?" Tanya Lista.


"Kita antarin makan siang buat papa dan Putra yuk." Ajak Mama Hana.


"Tapi mah."


"Sesekali biar lihat kantor suami kamu sayang."


"Adel mau kan ke kantor papa?" Tanya Mama pada Adel.


"Mau." Jawabnya dengan senang.


"Nah Adel aja mau kok, yuk mandi habis itu kita pergi bareng." Mama Hana menggendong Adel kedalam rumah.


"Iya mah."


Setelah selesai mandi, Lista menuju lemari dan mengambil satu dress dibawah lutut dan berlengan pendek berwarna biru.


Lista mempoles wajahnya dengan bedak tipis dan juga lip tin agar tidak pucat.


Setelah selesai ia mengambil tas kecil yang biasa ia bawa dan keluar dari kamar, menuju tempat mama mertuanya dan


Skip


Sampainya mereka di perusahaan, para karyawan menatap mereka tanpa kedip mereka tahu Mama Gana adalah istri bos mereka, sedangkan Lista mereka belum tahu. Mama Hana dan Adel menuju lantai 8 lebih tepatnya ruangan suaminya. Sedangkan Lista menuju lantai 7.


Lift terbuka, Lista keluar dari lift dengan paper bag ditangannya yang berisi makan siang itu.


"Maaf mbak mau kemana ya?" Tanya Arin yang melihat cewek yang tak lain adalah Lista melewatinya.


"Bapak Putranya ada kan?" Tanya Lista datar. Ia berhenti didepan meja sekretaris itu.


"Ada bu, tapi ibu siapa ya?" Tanya Aira yang mulai tak santai dengan Lista.


"Lista."


"Maaf Bu Lista bapaknya sibuk tidak bisa diganggu." Tegas Aira, ia pikir Lista adalah perempuan yang ingin menggoda atasannya.


"Oh dia sibuk toh." Lista tak percaya akan ucapan perempuan itu.


"Kamu sekretaris Putra kan?" Tanya lista seraya mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada suaminya.


"Hmm."


Tak lama pintu terbuka.


Ceklek


"Sayang, kenapa gak masuk?" Tanya Putra menghampiri istrinya dan menatap tajam sekretarisnya kenapa tak mengizinkan istrinya masuk.


"Maaf pak saya gak tahu." Aira menunduk.


"Lain kali biarkan istri saya masuk, bukannya saya sudah pernah kasih lihat fotonya sama kamu."

__ADS_1


"Saya lupa pak, yang difoto itu senyumnya manis, maaf ibu ini datar pak maaf."


"Kenapa bisa lupa kalau ini istrinya pak bos."


"Jangan kali jangan diulangi lagi."


Putra mengajak Lista masuk, sedangkan Aira hanya menunduk merutuki kebodohannya.


"Jangan sampai gitu Put, lagian kamu tahu aku gimana." Lista meletakkan paper bag dimeja.


"Hmm, kenapa gak bilang kalau mau kesini?" Tanya Putra yang mendudukkan badannya disofa.


"Sengaja, mau antar makan siang buat kamu." Lista membuka kotak makan untuk suaminya.


"Sama siapa kesini?" Tanya Putra pada sang istri.


"Mama sama Adel." Jawabnya.


"Suapin." Manja Putra saat Lista menaruh kotak makan itu didepannya.


"Manja."


"Biarin."


Lista menyuapi Putra dengan makanan yang ia bawa, dan Putra pun menerima suapan itu dengan hati senang.


"Kamu makan juga dong," ucap Putra.


"Nanti aja di rumah."


Putra mengambil sendok yang ada disampingnya dan menyuapkan makanan kemulut Lista.


"Jangan bandel ya, aku gak mau kamu kelaparan."


Lista hanya menerima dengan patuh, mereka makan hingga makanan dikota itu habis.


"Lain kali jangan pakai dress pendek ya yank," ucap Putra yang sudah memeluk Lista dan membenamkan wajahnya didada sintal Lista.


"Ini panjang loh, bawah lutut dan masih ada lengannya. Lain lagi kalau aku pak rok mini dan baju tanpa lengan."


"Tapi aku gak suka kamu pake baju yang memperlihatkan aurat kamu. Semua yang ada ditubuh kamu itu milik aku."


Deg


"Apa dia benar ingin aku berhijab, tapi aku belum siap."


"In syaa Allah ya." Lista hanya bisa tersenyum seraya mengelus rambut suaminya. Saking menikmatinya Putra elusan Lista ia lupa jika pekerjaannya belum selesai.


"Kerja lagi gih, aku mau pulang."


Mendengar ucapan Lista, Putra semakin mengeratkan pelukan itu.


"Dikit kok yank, sebenatar aja juga beres, temenin aku disini oke."


Putra mengajak Lista untuk duduk dikursi kebesarannya lebih tepatnya Lista duduk dipangkuan Putra.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2