Cewek Dingin Itu Pacarku

Cewek Dingin Itu Pacarku
Pernyataan cinta Diana (Revisi)


__ADS_3

Hari ini Diana memantapkan hatinya untuk menembak Putra, ia harus gerak cepat supaya putra menjadi miliknya seutuhnya.


Diana berdandang secantik mungkin untuk memikat Putra, mulau dari baju yang sangat menggoda, bedaknya sengaja ia pertebal, lipstik merah menyala yang ia pakai, apalagi parfum yang sangat wangi hingga menyengat.


"Perfect," gumamnya meneliti penampilannya.


"Gue yakin dengan begini Putra bakal kesemsem sama gue, apalagi dia juga gak punya pacar," dengan percaya diri Diana melenggak lenggokkan badannya.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, ia menyambar tasnya yang ada diatas ranjang.


Sedangkan Putra seperti tak semangat besok lusa adalah hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun, tapi sepertinya seperti tahun tahun sebelumnya Lista tidak bisa datang karena beda negara.


Hari ini ia memutuskan untuk nongkrong dulu dikafe biasanya ditemani oleh coffee latte dan kentang goreng kesukaannya.


Ia membuka ponselnya dan memanggil nomor Lista, hanya dengan ini ia bisa meredakan rasa rindunya. Panggilannya tak kunjung diangkat oleh sang pujaan hati, ia terus mencoba berulang kali memanggil nokor yang sama dan hasilnya sama pula. Khawatir? jelas, Lista tak pernah seperti ini biasanya.


"Sayang angkat dong," gumamnya terus memanggil nomor Lista.


"Jangan bikin khawatir."


Hingga Putra menghubungi papa Devan dan Putra mendapat jawaban yanh membuatnya lega.


"Jadi dia jogging, dan gak bawa hp?" tanya Putra pada papa Devan.


"Iya Put," jawabnya bohong, Lista tidak jogging pagi ini. Papa Devan berbohong karena diminta oleh sang putri.


'Maafkan hamba ya Allan'


"Ya sudah pah, Putra tutup dulu ya, mau kuliah," ujar Putra.


"Iya Put, kuliah yang bener supaya bisa seperti papa kamu," ujarnya, Putra tersenyum disana.


"Assalamu'alaikum" salam Putra.


"Wa'alaikumsalam"


"Syukurlah kamu gak kenapa napa" gumamnys menatap foto sang pacar.


"Aku janji bakal nikahin kamu yank, secepatnya." Putra mencium foto itu dan memasukkannya kedalam dompet.

__ADS_1


_____


"Putra mana sih biasanya jam segini udah lewat tu anak, risih gue dilihatin anak anak, ya walaupun gue cantik sih!! tapi tetep yang boleh lihat kecantikan gue cuma si Putra buka cowok lain." gerutu Diana. Eh si ege, dia sendiri yang umbar aurat kenapa pula dia yang menggerutu.


Diana menatap jam dipergelangan tangan sudah menujukkan pukul setengah 8 kurang seperempat, tapi tanda tanda Putra muncul belum ada.


Hingga satu motor berwarna biru mengalihkan pikirannya, orang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya datang.


"Putra," teriak Diana. para mahasiswi disana menoleh tak suka kearah Yuni.


"Sok banget sih tu cewek"


"Iya,, lihat deh penampilannya hari ini, beda banget."


"Iyuhh, gue sih kalau jadi putra gak mau temenan sama dia"


"Pakaiannya juga kaya tante tante,"


"Gak pantes sih kalau dibandingkan sama Putra."


"Mending Putra sama gue"


"Huuu"


"Hmmm"


"Gue mau ngomong," tak sabar Diana.


"Nanti aja, gue ada kelas," jawabnya berlalu meninggalkan Yuni, Putra tahu jika Diana memiliki rasa sengannya dari sikapnya, cara pandangnya.


"Yah.... oke gak papa nanti gue bakal tembak lu, gak gue yakin lu bakal terima gue," batin Diana.


Putra mengikuti kelas seperti biasa, ditengah pelajaran Diana mengirim pesan untuk menunggunya pulang, Diana berkata jika ada yang ingin dibicarakan.


"Oke cukup sekian kelas hari ini, kita sambung minggu depan," ucap sang dosen mengakhiri kelasnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam sang dosen.


"Wa'alaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh," jawab mereka.

__ADS_1


Dosen keluar dari kelas dan diikuti oleh sebagian siswa, masih banyak siswi yang masih betah didalam kelas menatap wajah sang most wanted mereka.


"Sumpah demi apapun dia ganteng banget, orang terganteng kedua setelah kak Aditya sayangnya kak Adit udah punya pawang, apalagi putrinya yang uwah itu," Ucap salah satu siswa, ya Aditya pernah membawa Mey kekampus saat mengantar Putri.


"Benar juga, iri deh sama mereka," timpal salah satu temannya.


'Bahkan sampai sekarang kak Adit masih jadi idola'


Ia membereskan barang barangnya dan dimasukkan kedalam tas, dengan langkah santai Putra keluar dari kelas menuju tempat dimana Diana mengirim lokasi tadi, dan lokasinya berhenti disebuah taman yang dulu memberi kenangan manis untuknya dan Lista.


Disana sudah ada Diana yang duduk seraya menatap danau buatan yang ada didepannya.


"Udah lama?" tanya Putra pada Diana.


"Enggak kok, duduk." Sejujurnya Diana sudah satu jam ditaman ini.


"Mau bicara apa, gue gak punya banyak waktu," ujar Putra pada Diana.


"Emmm.. anu gue sebenarnya gue..." gugup Diana.


"Cepat bilang," gertak Putra, ia paling tak suka orang bertele tele.


"Gue suka sama lu, gue mau lu jadi pacar gue" teriaknya.


Putra tersenyum smirik tapu diartikan lain oleh seseorang disana termasuk Diana.


Deg


Sakit!! seorang yang ada disana tersakiti dengan ucalan Yuni, tapi ia berlari meninggalkan taman itu dengan sakit dihatinya. Putra melihat sekelebat seperti Lista yang lari tadi, ia tak salh wangi gadisnya ada disini.


"Hah, gue tahu... walau kita teman tapi lu gak bisa lebih dari itu, maaf gue gak bisa jadi pacar lu." Dengan tergesa ia berusaha pergi dari sana.


"Kenapa?" tanya Diana dengan air mata yang sudah luruh menghancurkan make up Diana.


"Karena gue udah punya pacar, dan gue sangat mencintainya." jawabnya seraya mengikuti wangi tubuh gadisnya..


"Calista kamu dimana?'


Deg

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2