Cewek Dingin Itu Pacarku

Cewek Dingin Itu Pacarku
Obat ini kan...


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Lista masuk kedalam rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab nenek dan kakek yang sedang duduk santai disofa empuk itu seraya meminum teh hijau yang dianjurkan dokter.


"Kamu bawa obat apa hmm?" tanya nenek pada Lista.


"Vitamin biasa kok nek," bohong Lista seraya merebahkan kepalanya dipaha sang nenek yang paling ia sayangi.


"Hmm..... Putra udah berangkat keindonesia?" tanya kakek yang masih membaca koran terbaru disana.


"Udah kek," jawab Lista singat. Gadis 18 tahun itu masih terus bermanja dipaha sang nenek.


"Sedih gak ditinggal Putra?" tanya nenek menggoda cucu kesayangannya.


"Sedih sih, Lista maunya dia terus disini sama Lista tapi Lista juga ingat ini bukan tempatnya," jawab Lista seraya tersenyum.


"Cucu nenek udah besar ya!! kamu tenang aja, setelah mama kamu melahirkan kita pulang keindonesia." Nenek mengelus rambut sang cucu lembut.


"Janji ya nek, setelah mama melahirkan kita pulang," dengan semangat lista menatap nenek dan kakeknya bergantian, mereka mengangguk.


"Makasih nek, kek." Lista memeluk nenek dan kakeknya bergantian.


"Heemm... Sekarang kamu mandi dan ganti baju gih, habis ari luar pasti banyak kuman," ucap nenek dan dianggukkan oleh Lista, apalagi tadi ia habis dari rumah sakit.


"Ya sudah, Lista keatas dulu ya nek kek," pamitnya pada nenek dan kakek.


____


Sedangkan dikamar orang tua lista terlihat papa Devan sedang berada disamping ranjang mama Aulia dengan memangku laptop Dell XPS 13, tangan lincah papa Devan mengentik keyboard laptop itu.


(Oke, karena dari awal belum tahu nama mama dan papanya Lista, uthor dah tentuin namanya Devan dan Aulia. Jadi, nanti kita panggil papa Devan dan mama Aulia.)


"Pa... Anterin mama yuk," ajak mama yang menatap layar leptop itu.

__ADS_1


"Ke mana hmm?" tanyanya yang masih fokus dilayar laptop.


"Kekamar Lista pah, tiba tiba mama kangen sama dia," jawabnya, papa mengangguk.


"Bentar ya mah, masih kurang sedikit lagi tugas papa selesai," Papa Devan mengelus kepala sang istri yang mengangguk patuh. Pesona suaminya memang selalu membuatnya menurut, dari jaman pacaran sampai menikah.


"Iya, papa selesaiin aja."


Mama Aulia menyenderkan kepalanya dipundak sang suami dengan tangan menelus perutnya.


25 menit kemudian.......


Papa Devan menggendong manja sang istri menuju kamar sang putri yang tak jauh dari kamarnya, membuka pintu bercat cokelat itu.


"Papa balik kekamar aja, mama mau disini," usir mama Aulia.


"Dih ngusir, orang aku mau disini juga," tolaknya tetap menggendong sang istri.


"Tapi mama mau sama putri kita pa," ujarnya menatap sang suami dengan tajam, bukannya marah akan tatapan tajam itu papa Devan malah gemas seraya mengecup bibir itu.


"Devan..... Turunin," teriak mama Aulia. Devan yang mendapat teriakan itu langsung menurunkan tubuh berisi samg istri dikasur milik putrinya.


"Udah dramamya? dari tadi loh, kayak gak tahu ada anaknya disini. Pake ciuman pula, anak kalian ini masih polos ya." Cemberut Lista, (eits anda berbohong lu juga udah pernah kissing kan sama si Putra, pake ngomong polos pula.)


"Mama kangen sama Lista," jawab mama memeluk sang putri.


"Ha.... Gak biasa biasanya mama kangen ma Lista, kan kita satu rumah," Lista membalas pelukan sang mama.


"Bawaan dedek kamu kali, yang gak mau jauh dari kakaknya," jawab mama melepaskan pelukan itu.


"Ooo adek kakak kangen sama kakak hmm?" tanya Lista serata mengelus perut buncit sang mama.


"Iya kakak, mama bolehkan tidur dikamar kakak?" tanya sang mama menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Boleh, tapi papa?" tanya Lista menatap sang papa.


"Biar kembali kekamar aja," jawab mama.


"Tapi papa gak bisa tidur kalau gak peluk mama," manja papa ikut naik kekasur itu.


"Ya sudah kita berempat tidur disini, mama ditengah ya," ujar Lista menengahi, akhirnya mereka bertiga berbaring seraya mengobrol santai, hingga Lista teringat jika ia belum meminum obatnya.


"Ibu obat apa kak?" tanya mama menatap sang putri yang sedang meminum obat tablet itu.


"Vitamin biasa ma," jawabnya bohong.


"Mama juga mau dong, daripada mama ambil vitamij dikamar," pinta mama dengan cepat Lista menggeleng. Bisa bahaya jika mamanya meminum obat ini, apalagi adiknya yang masih berkembang diperut sang mama.


"Jangan ma, mending mama minum vitamin yang udah dokter kasih, Lista ambil ya."


"Kamu sembunyiin sesuatu dari kami sayang?" tanya mama yang menghentikan langkah Lista.


"Mama tahu kamu tidak suka yang namanya obat bahkan vitamin, tapi kenapa tiba tiba kamu minum vitamin. Apalagi kemasannya beda dengan vitamin biasa," panjang mama menatap sendu putrinya, ia merasa ada yang disembunyikan oleh Lista.


"Papa juga merasa begitu, apa kamu sakit nak?" tanya papa yang ikut memandang sang putri. Lista menoleh kearah belakang dan tersenyum seraya menggeleng.


"Lista baik kok mah, pah... Memang akhir akhir ini Lista sering capek jadi minum vitamin deh," jawabnya yang berusaha meyakinkan orang tuanya.


"Mama papa gak usah khawatir Lista baik baik aja, Lista ambil vitamin mama ya," dengan cepat Lista berlalu meninggalkan kamarnya menuju kamar orang tuanya.


Mama Aulia menatap kepergian putrinya yang sudah menghilang dari pandangannya, matanya terarah ke tablet vitamin sang putri yang ada dinakas.


Ia mengamati vitamin itu dan menyeritkan keningnya, papa Devan yang menatap sang istri itu bertanya.


"Kenapa ma?" tanya papa Devan.


"Obat ini kan......

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2