
Tak terasa sudah sebulan Putra berkuliah dikampus ini, ia mulai jarang nongkrong bareng Riko dan Fajar. Karena Fajar yang selalu nempel dengan Indah dan Riko, pria itu rela menempuh pendidikan sang istri yang lebih rendah darinya. Ya, Riko dan Desi sudah menikah karena digrebek oleh mama dan papanya yang kebetulan ada dihotel yang sama. Walau tak melakukan apa apa mereka tetap disuruh menikah oleh kedua orang tua Riko, mau tak mau Desi menuruti apa yang diminta orang tua Riko.
Sebulan ini juga Diana dan Putra berteman, tapi tak lebih dari itu. Putra tetap bersikap dingin, datar, dan tak peduli dengan sekitar. Diana yang notabenya hanya teman itu mulai menaruh rasa suka terhadap Putra, dengan sikap dingin dan datarnya ini membuat ia tertarik dengan sosok Putra.
"Hay," sapa Diana yang mengikuti Putra, mereka menjadi pusat perhatian mahasiswa dan mahasiswi disana. Banyak yang iri dan tak suka karena Diana bisa berdekatan dengan seorang the most wanted Universitas Bangsa.
"Put, nanti siang jalan yuk," ajak Diana yang terus mengikuti Putra.
"Gak bisa," datarnya.
"Yah kenapa, bukannya kita udah jadi teman ya! jadi boleh dong kalau lu temani gue jalan," pintanya dengan puppy eyes.
"Bukan berarti gue turuti apa mau lu, kita cuma teman," dengan tegas Putra menatap tajam wanita disampingnya, dan kembali melanjutkan jalannya menuju kelas. Sebulan ini Putra belum pernah bolos dari kelasnya, ia sudah berniat meminang jadi ia juga harus lebih pandai dalam bisnis.
"Tapi gue harap bisa lebih dari seorang teman, gue suka sama lu."
Diana menatap sendu Putra, hatinya sakit mendapat penolakan dari Putra. Apa salahnya hanya menemaninya jalan.
Tes tes tes
Tiga tetes air matanya luruh, dengan cepat ia menghapus air mata itu.
"Gue bisa, dalam waktu dekat gue bakal bikin lu luluh sama gue."
Rasa sukanya kini berganti menjadi ambisi untuk memiliki Putra, ia tak tahu jika Putra sudah memiliki kekasih.
_____
"Jangan lupa obatnya rutin diminum, kamu harus sembuh untuk diri kamu sendiri dan juga orang terdekat kamu," pesan dokter Alex pada Lista yang hari ini melakukan cek up.
"Iya kak, makasih buat selama ini," jawab Lista.
"Kamu itu adik kakak, apalagi Aluna," ujarnya dengan senyum, tak ayal memang setiap hari Aluna selalu menanyakan bagaimana kabar adiknya yang tak lain adalah Lista.
Ceklek
"Ngomongin aku ya," tebak seseorang yang masuk kedalam ruangan itu.
"Kak Luna," Calista memeluk tubuh Aluna yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri sama seperti Kak Putri dan kak Aditya.
"Gimana kabar kamu dik?" tanya Aluna mengelus rambut gadis itu dengan sayang.
__ADS_1
"Alhamdulillah kak, do'ain Lista ya," pinta Lista pada Aluna.
"Selalu kok, mana bisa kakak lihat adik kecil kakak ini sakit terus. Kapan kapan kita belanja bareng yuk, boleh kan yank?" tanya Aluna pada Alex yang mengangguk.
"Iya kak, aku pulang dulu ya. Kasihan Nenek Kakek dirumah cuma berdua," pamit Lista pada pasangan suami istri ini.
"Hati hati ya, maaf kakak gak bisa anter kamu." Lista hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu meninggalkan Alex dan Aluna disana.
"Kenapa hmm?" tanya Alex pada Aluna yang sedang bermanja dipahanya.
"Mau Bakso, tapi kamu yang bikin," pinta Aluna menatap wajah Alex dengan penuh harap.
"Hey aku bukan tukang bakso ya aku dokter, masa iya adonan baksonya aku kasih bius hmm," Alex mengelus pipi cubby sang istri. Aluna hamil dan kandungannya masih 2 bulanan. Walau sudah dilarang bekerja oleh Alex tapi tetap saja dibantah oleh Aluna.
"Buatin ya, masa nolak keinginan baby?" tanyanya jika sudah begini Alex bisa apa.
Sedangkan dijalan Lista menatap luar jendela mobil itu, ia teringat jika bulan depan adalah ulang tahun Putra yang ke 20 tahun dan 6 bulannya baru ulang tahunnya yang ke 20.
Senyum terbit dari bibir tipis itu, ia merencanakan hal hebat untuk pacarnya diulang tahunnya. Sekilas ia teringat jika ia memiliki penyakit yang membuat Lista berkecil hati, apa putra akan tetap menerimanya yang penyakitan ini? entahlah Lista tak ingin memikirkan terlalu jauh. Cepat atau lambat Putra pasti akan tahu dengan penyakitnya.
Ting
Putra😪
Anda
Hmmm, dimana?
Putra😪
Kampus, kapan pulang?
Anda
Gak tahu juga.
Putra😪
Cepat pulang ya aku kangen.
Anda
__ADS_1
Iya😉
'Aku juga kangen put, semoga kita tetap bersama ya"
Mungkin itu sepenggal chat Lista dan Putra, ya Lista memang bilang jika ia sakit tapi tidak bilang sakitnya apa. Putra pikur itu hanya sakit biasa.
Kita kembali keindonesia.
Huek hueek
"Tuh kan, aku udah bilang kangan makan pedes tapi kamu ngeyel sih," gerutu seorang laki laki memijat tengkuk sang istri.
"Tapi aku lagi pengen, aku juga gak tahu kenapa huekkk aku bisa muntah biasanya enggak," dengan lemah sang istri menjawab.
Pria itu membersihkan bibir istrinya, dan menuntunnya ke ranjang. Hari ini ia tak kekampus karena kondisi istrinya yang terus saja muntah.
Tok tok tok
"Sayang,,, ini mama bawain bubur dimakan ya," ujar seorang paruh baya pada sang menantu.
"Iya mah," jawabnya dengan senyum.
"Rik, jaga mantu mama baik baik. Mama mau kekantor papa dulu," pesan Mama pada Riko dan dianggukkan oleh Riko. Yah laki laki itu adalah Riko dan yang muntah tadi Desi.
"Mama pergi dulu ya sayang, hati hati dirumah," ujarnya pada sang menantu dan diangguki lemah oleh Desi.
Mama Riko meninggalkan mereka berdua dirumah, Desi yang lemas karena mual tadi kembali bersemangat saat tubuhnya dipeluk erat oleh sang suami.
"Makan dulu ya," ujar Riko dan dijawab gelengan oleh Desi.
"Nanti kamu sakit loh," lembut Riko dan tetap fijawab gelengan oleh Desi.
"Yank, buka deh baju kamu," pinta Desi, Riko sempat ngeblank. Tapi tetap membuka kaos yang ia pakai, tangan Desi meraba dadanya lembut hingga bibir kenyal itu menempel ditompel dadanya.
"Sa yang," terkejut Riko saat sang istri nekat mengecup dan menggigit tompel itu bahkan sesekali menghisapnya.
Hingga Desi melepaskan bibirnya dari tompel Riko, Riko menatap kecewa sang istri yang ia nikahi sebulan lalu, wanita ini sudah membuat adiknya bangun dan dengan enaknya ia ditinggal memakan bubur yang tadi ditolaknya.
"Aneh"
Bersambung......
__ADS_1