
Didepan cermin kamar Putra, Lista memegang kalung berliotin hati yang digunakan Putra melamarnya tadi.
"Indah banget!!!" Gumam Lista menatap pantilan dirinya.
'Cewek penyakitan.'
Tiba tiba ucapan Diana dikampus tadi masih melekat hebat diotaknya.
"Setidaknya jika aku tiada aku pernah membuat Putra bahagia."
Lista bangkit dari duduknya menuju kasur empuk itu, aroma parfum Putra masih memenuhi indah penciumannya. Ia mengambil obat yang selama ini ia minum.
Ceklek.
"Sayang," panggil Putra masuk kedalam kamar.
"Hmm?" Lista menaruh gelas kosong itu dinakas.
"Kangen."
"Tidur sini lagi?" Tanya Lista dan diangguki oleh Putra, laki laki itu hanya membawa ponselnya ditangan.
"Aku aja yang tidur dikamar sebelah, gak enak sama mama papa kalau kita tidur bareng terus."
"Aku udah izin Mama Papa kok yank, mereka juga izinin. Lagian di daerah sini gak akan ada yang grebek kita." Putra menarik tangan Lista keatas kasur empuk itu. Lista hanya patuh, tak mungkin ia berontak katena hasilnya tetap sama.
"Sini." Putra merentangkan tangannya. Lista masuk kedalam dekapan hangat Putra. Mungkin Lista sudah kecanduan akan aroma tubuh Putra.
"Obatnya pahit ya yank?" Tanya Putra tak mendasar. Udah tahu semua obat itu rasanya pahit, kalau yang manis itu obat buat anak kecil.
"Hmm." Lista mengangguk pelan.
Memang dari kecil Lista sangat sangat tidak menyukai yang namanya obat. Ia lebih baik dibius daripada minum obat yang rasanya pahit itu. Tapi saat ini mungkin obat ini sudah menjadi makanannya sehari hari.
"Jadwal cek up kapan?" Tanya Putra lagi.
"Lusa," jawabnya.
__ADS_1
"Semangat ya buat sembuh, aku selalu ada buat kamu. Jangan pikirkan apa yang dibicarakan orang tentang aku." Putra tahu kenapa Lista tadi siang sempat melamun saat ia datang kekantin tadi. Karena saat itu juga ia melihat Diana yang mendekati Lista, Putra seakan tahu apa yang mereka bicarakan.
"Stop bilang makasih," ucap Putra saat Lista ingin mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya.
Lista tersenyum menatap Putra yang ada dihadapannya ini, mereka tak canggung seperti dulu lagi. Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan keadaan mereka.
"Cantik banget calon istri, makannya apa hmm?" Goda Putra mencubit dagu Lista.
"Kerikil campur semen." Jawabnya tak kalah absurd. Hingga mereka tertawa. Sifat dingin keduanya entah hilang kemana.
Sedangkan dibelahan dunia. Nenek Nara mendesak Mama Aulia video call cucunya, jujur saja baru 2 minggu ditinggal sang cucu sudah membuat Nenek Nara merindukan cucu kesayangannya itu.
"Cepet Lia, Telepon Lista. Mama kangen sama dia, Mama mau lihat gambar dia." Desak Nenek Nara pada sang menantu. Kakek Natan dan Papa Devan hanya tersenyum melihat bagaimana antusiasnya Nenek Nada.
"Iya Mah, bentar."
"Dev, Mama mau belajar HP." Ucap Nenek sepontan.
"Loh mah, katanya dulu gak perlu pake HP katanya ribet. Kenapa sekarang malah minta?" Tanya Papa Devan.
"Mama gak tahu kalau Lista bakal pergi dulu ke Indonesia, dulu saat kalian gak ada Mama Papa sih gak papa. Tapi saat Calista tidak sama kami, seperti ada yang kurang Mama merindukannya." Dengan sendu Nenek bercerita.
...Video Call...
Calista : Halo Nenek, Kakek, Mama, Papa. Calista kangen kalian.
Nenek : Kita juga kangen kamu nak, terutama Nenek. (Nenek Nara menatap sendu cucunya.)
Calista: Lista juga kangen nenek kok, tapi Nenek jangan khawatir ya disini banyak yang jagain Lista kok termasuk nih, (Calista mengarahkan ponselnya kearah Putra.)
Putra: Assalamu'alaikum semuanya.
Mereka: Wa'alaikumsalam.
Papa Devan: Kalian dikamar ya? (Tanya papa Devan tegas. Ia bisa melihat Putra dibelakang Ainun.)
Putra dan Lista hanya mengangguk.
__ADS_1
Putra: Kita gak ngapa ngapain kok pah, semua 9rang udah pada kekamar daripada Putra sendiri dikamar mending ngapel dikamar calon istri. (Dengan lancar Putra menjawab, tanpa filter pula.)
Mama Aulia: Jangan melakukan hal yang diluar batas ya kalian, mama gak mau punya cucu yang seumuran sama anak mama ini. (Mama Aulia memperlihatkan perut buncitnya.)
Putra: In Syaa Allah kalau gak khilaf ma.
Kakek Natan: Jaga cucu Kakek baik baik disana. Awas sampai kamu bikin cucu kakek nangis. (Suara lembut kakek tapi penuh dengan ketegasan.)
Putra: Siap kek. (Putra hormat)
Papa Devan: Gimana kondisi kamu sayang?
Lista: Ya seperti biasa pah, tapi papa sekeluarga tenang aja. Lista gak apa apa kok, Lista udah sehat. (Lista tersenyum)
Putra tahu Lista menahan Air matanya, saat mengucapkan kata kata itu, Lista membendung air matanya. Putra mengarahkan ponsel itu kearahnya dengan tangan menghapus Air mata Lista.
Nenek: Tolong jaga cucu nenek ya nak, In Syaa Allah bulan lagi kita kesana.
Putra: Iya nek.
Mereka berbincang bincang melepas rindu antara anak dan keluarga.
"Udah lega hmm?"
"Iya."
"Sekarang tidur, udah malam. Kamu harus istirahat yang cukup."
"Peluk ya," pinta Lista menatap mata Putra.
"Aku selalu peluk kamu kok yank, sekarang tidur." Putra menyelimuti tubuh Lista agar hangat. Tak lupa menjadikan lengannya sebagai bantal gadis itu dengan tangan satunya membelit perut Lista kedalam dekapannya.
Cup cup cup
"Cepat tidur." Seraya mengelus punggung Lista Putra mengecup pucuk kepala Lista bagai seorang bapak menidurkan anaknya. Merasa nyaman dengan perlakuan Putra membuat Lista mengantuk dan tertidur dengan pulas.
"Jangan tinggalin aku sayang"
__ADS_1
Bersambung......