
"Putra." Kaget Lista saat ada tangan kekar yang memeluknya dri belakang.
"Ngapain disini hmm? Dingin sayang." Putra yang menyembunyikan wajahnya ditengkuk leher sang istri.
"Lihat deh pemandangan malamnya. Indah banget." Lista menujuk pemandangan dari balkon kamar hotel mereka.
"Hmm kamu gak tahu aja dibalik indahnya kota jakarta juga ada yang menyedihkan. Bangunan pinggir kali, rumah susun, sungai yang dijadikan tempat pembuangan sampah dan lainnya." Putra masih diam dibelakang Lista.
"Kamu benar, dibalik keindahan jakarta juga ada kesedihannya."
"Hmmm. Masuk yuk, dingin." Ajak Putra membawa sang istri yang hanya memakai baju piyama tipis itu.
"Minum obat kamu dulu ya, habis itu tidur. Atau kamu mau kita lakuin itu lagi, aku sih gak apa-apa sayang kalau kamu mau." Dengan senyum menggoda.
Lista menggeleng, selama 3 hari mereka dihotel ini. Putra selalu menggempurnya saat akan tidur, dan akhirnya ia telat bangun.
Lista meminum obatnya.
"Walau kamu udah lebih baik dari sebelumnya, jangan lupa minum obat yang teratur sampai dokter bilang kamu sembuh total." Putra mengelus rambut Lista.
"Apa gak papa ya kalau aku hamil Put? Aku takut."
"Besok sebelum pulang kita ke rumah sakit dulu ya. Buang rasa takut kamu hmm, bisa atau enggaknya kita punya anak udah kehendak Allah sayang."
Lista mengangguk dan tersenyum, ada rasa kelegaan dihati Lista mendengar ucapan Putra.
"Kamu gak mau punya anak sama aku?" Tanya Lista yang sudah berbaring diranjang.
"Mau sayang, tapi aku juga gak bisa paksain kamu buat hamil." Dengan senyum Putra menarik selimut itu.
"Kamu tahu. Aku adalah wanita yang beruntung bisa punya kamu yang terima aku apa adanya. Terima kasih."
"Aku yang harusnya bilang makasih yank, kamu gak khianatin aku sampai detik ini. Dulu aku pernah berfikir kamu akan berpaling apalagi di sana banyak cowok yang lebih ganteng dari aku."
__ADS_1
"Kamu terganteng kok."
"Jangan tinggalin aku ya Put." Imbuh Lista menatap mata sang suami.
"Heemm," hanya deheman yang Putra keluarkan dari mulutnya. Karena dari tadi Putra sibuk dengan kancing baju atasan Lista yang sudah terbuka.
"Aku suka kamu gak pakai kain sialan itu." Ucapan Putra membuat wajah Lista memerah, ia sengaja tak memakai br* karena ucapan tak sengaja Putra kemarin malam saat akan berhubungan.
Putra yang melihat wajah blussing Lista itu tersenyum dan mengecup kening Lista.
"Boleh ya, cuma ini kok." Lista mengangguk, dengan semangat Putra memungut satu dada Lista.
"Asshh jangan digigit sayang." Lembut Lista seraya mengelus rambut hitam milik suaminya.
Dengan lembut Putra menyusu didada Lista yang sangat pas ditangan besarnya.
"Kenapa bisa sebesar ini hmm?" Tanya Putra seraya merema* sebelah dada Lista.
"Buat puasin kamulah, emang kamu gak suka?" Tanya Lista menekan tengkuk Putra yang tersenyum tipis melanjutkan aktifitasnya.
"Sudah siap hmm?" Tanya Putra pada sang istri yang sedang menutup bekas kiss mark dileher putih itu.
"Batuin, malu lah kalau dilihat banyak orang." Lista memberikan pondation pada Putra.
"Ishh ini 'kan karya aku yank, gak perlu atuh ditutup segala. Biar orang orang tahu kamu udah ada yang punya." Walau mengerutu tapi Putra tetap menutupi bekas merah merah dileher sang istri.
"Gak perlu nunjukin bekas ini keorang orang, kamu mau aku dibilang cewek gatel hmm?" Tanya Lista memytar tubuhnya mrnghadap Putra.
"Enggak lah, kamu cewek sempurna buat aku." Putra meletakkan pondation ditempat make up Lista.
Selesai sudah Putra menutupi bekas yang ia buat dileher Lista, sebenarnya masih banyak lagi didada wanita itu tapi pikirnya tak perlu karena tertutup.
Mereka keluar dari kamar hotel menuju mobilnya yang sudah terparkir disana. Kedua belah pihak keluarga sudah pulang kemarin siang meninggalkan pasturi yang baru saja menikah itu.
Seperti ucapan Putra malan tadi bahwa sebelum pulanv mereka akan kerumah sakit dulu untuk konsultasi apakah Lista boleh hamil dengan keadaannya begini. Walau kedua sudah sercing di internet boleh boleh saja.
__ADS_1
Sampailah mereka dirumah sakit. Mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah sakit.
"Jangan gugup sayang, gak akan terjadi apa apa kok. Kita cuma konsultasi hmm." Putra mengelus punggung sang istri yang sedang duduk dikursi tunggu itu.
Lista hanya tersenyum walau didalam hatinya gelisah dengan apa yang akan diucapkan sang dokter nanti.
"Ibu Calista." Panggil suster bertag Ana.
Calista yang namanya dipanggil itu berdiri dan masuk kedalam ruangan bersama Putra.
"Keluhannya bu?" Tanya sang Dokter.
"Jadi saya sama suami mau konsultasi dok, apa boleh saya hamil tapi saya pernah punya penyakit kangker darah?" Tanya Lista meremas jari jarinya dibawah meja.
"Apa ibu sudah sembuh dari penyakit ibu?" Tanya Dokter.
"Belum sepenuhnya sembuh dok," jawab Lista jujur.
"Begini ya bu, saya sarankan jika ingin hamil tunggu sampai kondisi ibu sembuh total. Karena perkembangan bayi yang ada dikandungan ibu bisa saja terganggu karena kangker darah yang ibu derita."
"Jika saya tidak sembuh, saya tidak bisa hamil ya dok?" Tanya Lista dengan nada serak. Putra hanya bisa mengelus punggung Lista.
"Bisa saja bu, tapi mungkin ada efek dari kehamilan ibu yang berdampak pada kesehatan ibu," jawabnya.
Mereka memahami apa yang diucapkan sang dokter, hingga Putra untuk bertekat tak akan menghamili Lista sebelum istrinya sembuh total.
Setelah mengucapkan terima kasih, Putra dan Lista keluar dari ruangan itu.
"Semua akan baik baik saja." Putra menggenggam tangan Lista saat mereka sudah berada dimobil.
"Aku takut."
"Jangan banyak pikiran oke, aku gak mau kamu sakit lagi," ucap Putra lagi lalu mengecup tangan Lista.
Lista hanya tersenyum dan diam disepanjang jalan menuju rumah itu, Putra sudah berusaha mengalihkan pikiran Lista tapi tak berhasil hingga mobil itu sudah sampai didepan rumah Putra.
__ADS_1
Bersambung