
Hari sudah gelap akhirnya Leo sampai di kediaman kakeknya. Leo disambut oleh penjaga di gerbang masuk. Mereka memberi hormat kepada Leo yang merupakan cucu dari pemilik kediaman.
Setelah masuk, Leo melihat kereta kuda yang sempat berpapasan dengannya saat meninggalkan kediaman. Penasaran dengan pemilik dari kereta kuda, Leo masuk dan melihat ada dua orang dengan pakaian bangsawan.
Ada seorang pria tua yang asing dimata Leo dan seorang remaja laki-laki. Mereka tampak sedang berbincang-bincang dengan kakeknya di ruang tamu utama.
Melihat jika cucunya telah kembali, Diego Meiter selaku kakek dari Leo menyambut kedatangan Leo.
"Leo! Akhirnya kamu kembali. Ada seseorang yang sudah menunggumu sejak pagi tadi."
Mendengar jika orang yang telah mereka cari sudah kembali, kedua orang asing tersebut menoleh ke arah Leo.
"kakek! Mereka siapa?" Leo penasaran dengan mereka yang telah menunggunya hingga malam tiba.
"duduklah dulu. Aku akan memperkenalkan kamu kepada mereka." Diego menyeret Leo dan mendudukkannya di depan kedua orang tersebut.
Kedua orang itu tersenyum melihat Diego memperlakukan cucunya seperti itu.
Setelah duduk, Diego mulai memperkenalkan Leo kepada dua orang tamu." ah.. Perkenalkan! Ini adalah cucu saya. Namanya Leonardo Donovan. Dia adalah orang yang anda cari."
Lalu remaja laki-laki asing itu balik memperkenalkan dirinya. "perkenalkan! Saya adalah putra mahkota dari kerajaan Nusantara. Tony Diningrat."
Leo terkejut mengetahui jika yang menemuinya adalah seorang pangeran. Ia bahkan tidak habis pikir mereka menunggunya sampai malam untuk menemuinya.
Pangeran Tony lanjut memperkenalkan pria yang ada di sampingnya." dan ini adalah kakek saya. Beliau adalah raja sebelumnya yang sudah pensiun. Warjo Diningrat."
Leo tambah terkejut lagi mengetahui fakta kalau yang ada di depannya adalah elit kerajaan. Bahkan raja terdahulu juga datang.
Leo lalu menoleh ke arah Diego seakan tidak percaya jika dirinya sampai membuat kedua orang ini menunggunya hingga malam.
Lalu lalu meminta maaf kepada pangeran dan mantan raja di depannya. "suatu kehormatan bisa mendapat kunjungan dari pangeran dan raja terdahulu. Maaf sebelumnya jika anda sekalian sampai menunggu saya hingga malam tiba."
"hahahah... Tidak apa-apa! Kami memang akan menginap di sini selama semalam. Jadi tidak perlu terlalu khawatir. Juga tidak perlu terlalu formal." raja terdahulu angkat bicara menanggapi permintaan maaf Leo.
__ADS_1
"baiklah. Jadi, ada keperluan apa sampai kalian menemui saya?" Leo langsung menuju ke pokok permasalahan.
Pangeran tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Leo. "tidak ada! Kami hanya penasaran dengan penyihir muda yang telah menggemparkan kerajaan."
"Pangeran benar. Lagi pula kami juga sudah lama tidak menginap di kediaman temanku ini." tuan Warjo berbicara dengan cukup santai karena ia adalah teman dari Diego saat mereka masih muda. Bahkan sebelum menjadi raja, tuan Warjo sering menginap di sini untuk berlatih pedang bersama Diego.
" ooooo... Saya kira ada masalah apa sampai menunggu saya hingga malam seperti ini." Leo merasa lega karena bukan sebuah masalah.
"ahahahah... Oh iya! Kamu mendapat salam dari kakakmu yang ada di akademi. Katanya, dia ingin segera bertemu denganmu untuk mengalahkan ayah kalian." pangeran Tony tertawa mengingat kakaknya Leo.
"terima kasih atas salamnya. Jadi anda juga satu akademi dengan Alex. Bagaimana kabarnya?" Leo kembali bertanya karena penasaran dengan keadaan kakaknya.
"yah.. Kurasa dia baik. Atau malah terlalu baik. Dia mendapat peringkat satu sebagai pendekar pedang terkuat. Bahkan menurutmu, dia terlalu kuat untuk usia seumuran. Aku bahkan sempat berfikir jika keluarga kalian berisi para monster. Kakakmu kuat dalam pedang. Sementara kamu kuat dalam sihir. "
" jadi begitu. Aku jadi rindu ingin memukul kepalanya lagi. " Leo mengingat masa lalu saat ia sering berlatih bersama dan Alex selalu kalah karena mengalah terhadap Leo.
Semua orang tertawa mendengar perkataan Leo. Ini pertama kalinya ada yang berani bercanda di depan mereka.
Lalu Diego ingat jika ia ingin bertanya tentang kepergian Leo hari ini. "tadi kamu pergi kemana? Kenapa kamu tidak kembali bersama Jack?"
"Kau mendaftar disana?" pangeran kembali bertanya.
"iya. Aku juga bertemu dengan ketua cabang. Bahkan beliau yang telah menemaniku melakukan tes masuknya. Sekarang hanya menunggu panggilan pelantikan." Ucap Leo.
"ooo... Tuan Andrew? Beliau memang orang yang baik."
Mereka lanjut berbincang-bincang hingga larut malam. Lalu memutuskan untuk pergi tidur.
Pangeran Tony dan tuan Warjo sudah tidur. Sementara Leo dan Diego bertemu di ruang kerja. Lengkap bersama Twin Tea Party.
" jadi, bagaimana hasilnya? " Diego menanyakan hasil dari pertemuan Leo dan kelompok Catatan Armor.
Mendengar pertanyaan kakeknya, Leo mengerti jika Jack masih belum melaporkan hal tersebut kepada Diego.
__ADS_1
Leo berjalan mendekati jendela dan menatap langit malam." meski ada sedikit konflik, setidaknya sekarang Catatan Armor menjadi milikku. Aku hanya harus meningkatkan kemampuan mereka untuk dapat memanfaatkan mereka lebih maksimal."
"lalu persiapan untuk menguasai kota kenji?"
"aku sudah memerintahkan mereka untuk mendapatkan informasi lebih detail dari kota tersebut. Sekarang hanya perlu menunggu laporan mereka. Lalu mempersiapkan waktu yang tepat untuk melakukan serangan."
Rencana Leo memerlukan informasi yang sangat detail dari kelompok Catatan Armor. Dengan informasi tersebut, Leo bisa menyusun rencana untuk merebut kota tersebut.
Namun untuk sekarang, Leo hanya perlu meningkatkan kekuatan dari pasukannya meskipun sekarang hanya ada 5 orang saja.
Leo lalu duduk berhadapan dengan Jack, Sylf, Elena, dan Brock. Leo hendak berbicara kepada mereka namun ia tiba-tiba merasakan sesuatu.
Leo tiba-tiba menoleh keluar jendela dan menatap jauh di kegelapan. Hal tersebut membuat yang lain menjadi waspada.
Bahkan Jack dan yang lain sudah siap dengan perlengkapan mereka. Tidak ketinggalan, Diego juga menyiapkan pedang miliknya.
"ada apa Leo?" Diego bertanya dengan panik mengingat ia belum pernah melihat Leo sewaspada ini.
Anggota Twin Tea Party juga tidak pernah melihat Leo waspada bahkan saat ia bertemu dengan komandan Elvis sekalipun. Hal tersebut membuat mereka semakin waspada.
Leo yang menatap keluar jendela, tubuhnya gemetar. Dingin yang ia rasakan membuatnya mengerahkan kepalan tangan. Bahkan bibirnya juga ikut gemetaran
Melihat hal tersebut, yang lain malah semakin tambah waspada. Dalam benak mereka muncul pertanyaan yang sama. Siapa yang bisa membuat Leo sampai gemetaran? Apakah orang tersebut lebih kuat dari Leo?
Leo masih menatap tajam keluar jendela dan menahan rasa dingin di tubuhnya. Hingga ia sampai pada ambang batas dan membuatnya menyerah menahan.
Tubuhnya menjadi lemas dan gemetar semakin cepat.
"berrrrrr... Dingin..." dan ternyata Leo hanya mencoba menahan suhu dingin dengan tubuhnya yang masih berusia 10 tahun tanpa sihir sama sekali.
Leo lalu menutup jendela karena sudah tidak kuat lagi menahan suhu dingin malam. Ia duduk dan meminum teh panas untuk menghangatkan badannya.
Ia lalu melihat ke arah Diego dan anggota Twin Tea Party yang sudah dalam mode siap tempur. "apa yang kalian lakukan?" Dengan wajah polos dan tanpa dosa.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan bodoh Leo, mereka seketika langsung kesal dan pergi meninggalkan Leo sendirian di ruang kerja.
"apa salahku?"