
Jack mendekat lalu memberikan cincin spasialnya kepada Leo.
"ini tuan! Didalamnya terdapat material monster yang cukup berharga."
Leo menerima cincin tersebut lalu memeriksa isinya.
Setelah melihat isi dari cincin tersebut, Leo menjadi sangat terkejut. Karena bukan hanya material untuk senjata saja. Melainkan ada beberapa material tanaman untuk obat dalam jumlah besar.
"ini terlalu banyak! Kenapa malah kau berikan padaku? Jika kau menjualnya, bahkan hasilnya bisa untuk bertahan hidup selama beberapa tahun tanpa bekerja."
Jack sedikit tertawa dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"saya hanya berfikir jika anda lebih membutuhkan itu untuk modal kota ini. Jadi saya berikan itu untuk anda. Lagi pula, selama saya masih bekerja untuk anda, saya juga akan mendapatkan gaji bukan?"
Leo sedikit terharu dengan perbuatan Jack.
"terima kasih! Tapi untuk gaji kalian, aku hutang dulu ya! Nanti akan aku bayar penuh saat sudah selesai membangun kota!"
"hahahahhah... Tentu tuan!"
Leo merasa sangat senang memiliki Jack sebagai bawahannya. Sangat langka ada seorang yang sangat perhatian terhadap tuannya seperti Jack dan yang lain.
"kalau begitu, bagaimana pembangunan temboknya?"
Jack mengajak Leo untuk melihat perencanaan pembangunan tembok.
Terlihat jika para pekerja sudah memulai pembangunan. Semua bahan sudah siap dan mereka mulai dengan membangun gerbang kota.
"dalam pembangunan pertama, kami langsung membuat gerbang terlebih dahulu. Ukurannya cukup besar untuk mencegah beberapa monster besar. Namun tentu tidak akan sanggup jika menahan serangan dari monster berdaya tahan tinggi."
Jack lalu mengajak Leo untuk melihat arah dari pembangunan tembok yang ia rencanakan.
Hingga mereka sampai di jalur perairan.
"sungai ini cukup besar dan juga deras. Jadi saya berencana untuk membangun parit di sekitar tembok. Dan juga pastinya jembatan yang bisa di gunakan oleh para petualang."
Leo berfikir mengenai pengaruh kotanya untuk para petualang. Hingga ia mempunyai beberapa ide untuk mendapatkan beberapa keuntungan.
" bagaimana jika kita menggunakan jembatan yang bisa diangkat. Jadi keamanan kota dari serangan monster akan snaagt terjamin. Dan untuk mengakses jembatan tersebut, para petualang harus membayar biaya penggunaan."
Leo menjelaskan idenya kepada Jack dan Brock. Sejenak mereka mempertimbangkan ide tersebut. Hingga Jack menoleh kearah Brock yang mengangguk setuju.
" baiklah! Saya setuju dengan usulan anda. Berarti, kita harus membangun parit terlebih dahulu untuk menjaga keamanan para pekerja!"
Mereka setuju dengan rencana Jack. Membangun parit bisa mencegah serangan monster secara langsung. Bahkan tanpa perlu melakukan penjagaan.
Namun karena para pekerja sudah mulai membangun gerbang, Leo memutuskan untuk mengatasi masalah parit sendirian.
__ADS_1
"untuk masalah parit, biar aku sjaa yang mengurusnya. Berikan saja jalurnya kepada ku! Akan aku buat sekarang."
Leo meminta jalur dari pembangunan tembok kota dan jalur dari sungai.
"kalau begitu, saya akan mengambilkan salinan dari peta tersebut."
Jack pergi menuju tempat ia melakukan perencanaan pembangunan kota.
Sementara itu, Leo berpikir tentang ide yang ia pikirkan sebelumnya.
'sebuah kota tidak akan bisa berkembang jika tidak memiliki penghasilan yang cukup. Jadi aku akan segera membuat sebuah bisnis! Hehe...'
Jack kembali lalu melihat Leo yang menyeringai sendirian.
"Brock! Tuan kenapa?"
Brock mengangkat bahunya untuk memberi tahu jika ia juga tidak tahu.
Jack mendekat berniat menyadarkan Leo. Namun sebelum ia bertindak, Leo segera berbalik badan dan mengulurkan tangannya.
"mana?"
Jack terkejut Leo sudah menyadari kehadirannya.
"ajahhahhh silahkan!" Jack memberikan selembaran peta. Salinan dari proyek tembok kota.
"baiklah, kalian urus saja para pekerja itu! Aku akan segera mengurus ini!"
Leo pergi dari hadapan Jack dan Brock. Lalu Jack dan Brock kembali untuk melalukan tugas mereka.
Di sisi Leo, ia pergi dengan melompat dari pohon ke pohon dengan cepat. Jika orang melihatnya mungkin mereka akan menganggapnya seekor monyet dan membiarkannya.
Dengan memegang kertas denah untuk pembangunan tembok, ia menelusuri setiap lokasi seperti yang ditunjukkan di peta.
Hingga ia sampai di letak terjatuh dari rencana pembangunan.
Leo mendarat dengan sangat mulus. Ia lalu mengecek sekitar dan memeriksa apakah ada monster atau tidak.
"sepertinya ini adalah daerah aman. Sebaiknya aku mulai dari sini."
Leo segera menyimpan kembali peta kedalam cincin spasial. Lalu ia mulai menggunakan sihir tanahnya.
Ia berkonsentrasi dalam pengendalian mana. Aliran mana mengalir hingga mencapai bagian luar dari tubuh Leo.
Tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya dan perlahan tanah di sekitar Leo mulai bergetar.
Getaran tanah semakin kuat hingga tampak pergerakan dari tanah.
__ADS_1
Sihir yang digunakan Leo untuk menggerakkan tanah menyebabkan tanah bergerak hingga terbentuk cekungan di permukaannya.
Leo bergerak perlahan menyusui lokasi untuk pembangunan tembok.
Semua berjalan lancar tanpa ada gangguan. Hingga ia terhadang oleh sebuah pohon yang sangat besar.
"hemm?"
Leo menoleh keatas untuk memeriksa tinggi dari pohon.
"besar sekali?"
Leo tidak menyangka jika pohon yang tidak terlalu tinggi tersebut memiliki lebar hampir tiga meter.
Ia mendekat dan memeriksa jenis dari pohon tersebut.
"bukankah ini pohon beringin? Tapi kenapa di cabangnya tidak ada akar yang tumbuh?"
Leo penasaran jenis pohon yang berada di depannya.
Sekilas memang mirip dengan pohon beringin. Dengan batang pohon yang sangat besar terdiri dari puluhan atau bahkan ratusan batang yang saling menempel.
Namun sangat berbeda dari segi ukuran daun dan bagian rantingnya.
"hemm.. Sudahlah! Tidak peduli ini pohon beringin atau bukan. Aku tebang saja. Lagi pula ini memang dunia lain. Akan sangat banyak hal baru yang ada di dunia ini."
Leo sudah tidak peduli lagi lalu ia segera menggali pohon tersebut dengan sihir tanah agar tidak membuatnya berantakan.
Ia menggali untuk menemukan ujung akar namun tak lama. Ia sudah bisa menggalinya hingga membuat pohon tersebut ambruk.
" aku tidak menyangka jika pohon ini punya akar yang pendek!"
Ia pantas memindahkan pohon tersebut dengan menggerakkan permukaan tanah hingga sampai dimana parit tidak akan dibangun di tempat itu.
Setelah itu ia lanjut membuat parit hingga hari menjelang sore.
Melihat jika matahari sudah cukup rendah, ia lantas memeriksa kembali peta untuk melihat hasil dari pekerjaannya.
"hemm...masih setengah jalan. Tapi sebentar lagi akan gelap. Sebaiknya aku selesaikan lagi besok."
Ia memutuskan untuk kembali menuju kota.
Sampai kota, ia disambut oleh Phinix yang sudah dari siang menunggu kedatangan Leo.
"selamat datang kembali tuan. Makanan anda sudah saya siapkan."
Phinix memperlihatkan meja yang penuh dengan makanan.
__ADS_1
Leo cukup bahagia mendapat sambutan dan sudah di siapkan untuk dirinya makan. Meski jumlah makanan untuknya terlalu banyak.
"Lain kali, tidak usah menyiapkan makanan untukku. Nanti aku akan mengambilnya sendiri. Apalagi, jumlah makanan yang kamu siapkan terlalu banyak untuk di muat oleh perutku."