
"huh.. Bukan aku yang meremehkan ayah. Hanya saja aku sudah lama tidak berlatih dengan ayah. Karena itu aku ingin menguji jarak kemampuan berpedang kita."
Sebuah alasan keluar dari mulut Leo. Sebenarnya Leo sendiri yang kesulitan untuk bisa mengalahkan ayah. Karena memang dari segi skill berpedang, ayah jauh lebih unggul. Ditambah lagi dengan kekuatan fisik mereka. Membuat jarak kemampuan ayah dan Leo menjadi semakin jauh.
"hoo.. Jadi kamu sedang menguji ayah? Kalau begitu ayah tidak akan main-main lagi!"
Ayah yang sudah sangat serius mengeluarkan kekuatan aslinya. Aura berwarna merah melapisi tubuhnya.
"bersiaplah!"
Ayah dengan cepat mendekat pada Leo. Dengan pedang di tangan kanannya, ayah lesatkan dengan secepat kilat menargetkan tubuh Leo.
"swush.."
Secara spontan Leo mundur dengan cepat untuk menghindari serangan ayah.
"bug..."
Namun sayang kecepatan Leo masih kurang. Serangan pedang ayah mengenai tubuh Leo.
Membuatnya terpental beberapa meter.
"uhuk.."
Sedikit darah keluar dari mulut Leo. Meski tidak banyak, namun membuktikan jika serangan ayah sangat efektif.
'sialan! Serangan ya terlalu cepat untuk seorang swordman. Aku bahkan tidak sempat menggunakan skill perlindungan.'
Senyuman tampak di wajah ayah. Menandakan jika ayah meremehkan kemampuan Leo.
"bagaimana? Masih mau menguji jarak kemampuan kita?"
Mendengar itu membuat Leo menjadi sangat kesal.
Ia kembali berdiri lalu mengusap darah yang ada di bibirnya.
"ugh.."
Pedang kayu ia pegang dengan kedua tangan. Ia arahkan kepada ayah dengan posisi kaki kuda-kuda.
Di wajah Leo terlukis senyuman jika ia menjadi semakin bersemangat.
"aku belum pernah melihatmu mengeluarkan kemampuan aslimu. Namun jika hanya dengan kemampuan itu, aku masih memiliki kesempatan untuk menang."
Ayah masih dengan ekspresi sama meremehkan. "kalau begitu buktikan sekarang!"
Leo segera bersiap melancarkan serangan.
"swush.."
Leo melesat kembali ke arah belakang punggung ayah.
Namun tentu dapat dengan mudah di ketahui oleh ayah.
"menggunakan serangan yang sama tidak akan efektif! Kau seharusnya belajar tentang itu."
Ayah berputar dan hendak menahan serangan Leo. Namun apa yang ia lihat membuatnya terkejut.
Ia tidak mendapati Leo berada di sana.
"ayah benar! Serangan yang sama memang tidak efektif."
Leo ternyata masih berada di belakangnya. Dan melakukan serangan disaat ayah lengah.
"bug.."
Serangan Leo berhasil mengenai punggung ayah. Namun tidak memberikan efek yang besar.
Ayah tidak terlihat terluka atau bahkan merasakan sakit.
__ADS_1
"seranganmu mampu mengecoh lawan. Namun kekuatanmu masih kurang besar jika ingin membuatku terluka."
Ayah kembali berbalik. Namun bukan Leo yang ia lihat. Melainkan sebuah bola api seukuran kepala berada tepat di depan wajahnya.
"eh.."
"boom...."
Bola api milik Leo berhasil mengenai tepat di wajah ayah.
Inilah tujuan utama Leo untuk mengalahkan ayah. Dimana ia hanya bisa unggul dalam sihir saja. Karena itu ia memanfaatkannya.
"hahahah... Kena kau! Mana mungkin aku akan menang jika hanya mengandalkan kekuatan fisik!"
Leo tertawa sambil mundur dan melihat hasil dari perbuatannya.
Asap dari efek bola api yang gunakan menutupi wajah ayah. Perlahan mulai menghilang dan menampilkan wajah hitam konyol ayah.
Apa yang Leo lakukan membuat ayah kembali mengingat kejadian yang sama disaat dulu dirinya berlatih bersama Leo dan alex.
Hal sama juga Leo lakukan dimana ia menggunakan skill bola api untuk membuat wajah ayah menjadi hitam legam.
Itu adalah masa pertama kalinya ayah mengetahui kemampuan sihir Leo.
Karena mengingat itu, ayah khawatir jika wajahnya sekarang juga menjadi hitam. Ia lantas menyentuh pipinya untuk mengecek.
Satu usapan ayah lakukan dan di jarinya tampak berwarna hitam sesuai dengan apa yang ia khawatirkan.
Menyadari itu, ayah menjadi kesal karena akan kesulitan menghilangkan noda hitam di wajahnya.
Ia melihat ke arah Leo yang tertawa lepas melihat ayah sekarang.
"leoooooooo...."
Mendengar teriakan kesal ayah, Leo segera menghentikan tawanya dan mulai berlari.
Leo berlari pergi menuju kediaman.
"sialan kau! Setelah membuat wajah tampan ayahmu menjadi seperti ini kau malah langsung kabur! Awas saja jika kau tertangkap!"
Ayah dengan perasaan kesal mengejar Leo yang sudah cukup jauh.
"tangkap saja jika kau bisa!"
Leo meningkatkan kecepatan larinya karena melihat ayah semakin dekat.
"berhenti kau Leo!"
"hahahah.."
Leo semakin senang karena melihat ayah yang semakin kesal.
Akhirnya mereka berlari melewati lorong.
Sambil melihat ke belakang Leo melaju dengan cepat. Namun ia tidak menggunakan skill miliknya.
Melihat wajah ayah yang sudah hitam dan ekspresi kesal membuat Leo tidak tahan dan terus tertawa.
"hahahaha.."
"brukkk.."
Tiba-tiba Leo menabrak pintu salah satu ruangan yang terbuka oleh seorang pelayan.
Melihat Leo yang menabrak pintu cukup keras bahkan suaranya juga lebih keras, Donovan tentu menjadi khawatir dengan keadaan Leo.
"astaga! Leo!"
Ayah segera mendekat dan memeriksa keadaan Leo yang sudah pusing akibat benturan.
__ADS_1
Pelayang yang membuka pintu itu mendengar teriakan ayah dan segera memeriksanya. Ia terkejut disaat melihat Leo yang terbaring dengan kepala memerah.
"Tuan! Mohon maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja."
Pelayan tersebut menjadi takut karena membuat seorang tuan muda menjadi seperti ini. Ia khawatir jika ia akan dihukum oleh pemilik kediaman.
Ayah yang mendengar ucapan maaf pelayan tersebut, tidak mempermasalahkannya.
" tidak apa-apa! Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu! Tidak usah pedulikan keadaan Leo."
Pelayan tersebut hanya bisa menurut dan berharap jika masalah ini tidak menjadi besar.
Ayah kembali fokus pada Leo yang masih menenangkan otaknya.
"kau tidak apa-apa?"
Ayah menjadi khawatir hingga dirinya melupakan apa yang telah Leo perbuat.
"ugh..."
Leo masih merasa pusing setelah benturan yang sangat keras tadi.
Namun tak lama ia kembali pulih. Lalu berusaha berdiri dengan dibantu oleh ayah.
"aku tidak apa-apa!"
Meski dengan kepala pusing, Leo berusaha berjalan menuju kamar untuk beristirahat setelah merasakan pusing yang sangat sakit.
Dengan dibantu oleh ayah, Leo berjalan menuju kamar.
Hingga sampai di depan pintu kamar, mereka di hampir oleh ibu.
Ia yang mendengar jika suami dan anaknya akan berlatih pedang, segera menghampiri mereka. Namun dalam perjalanan ia melihat Leo yang berjalan agak sempoyongan bersama ayah.
"sayang! Kamu kenapa?"
"ia baru saja menabrak pintu dengan sangat keras. Beruntung pintunya tidak apa-apa!"
Mendengar jika ayah khawatir dengan kerusakan pintu ketimbang dirinya, membuat Leo menjadi kesal.
"ugh.. Kenapa kau memukul perut ayah?"
Leo tidak menjawab dan melepaskan bantuan ayah lalu masuk ke kamarnya.
Ia langsung berbaring di ranjang.
"kamu istirahat saja. Nanti ibu membawakan makanan kemari."
Leo menganguk lalu menutup matanya untuk tidur.
Melihat Leo menutup mata, ayah dan ibu tidak ingin mengganggu lagi dan memutuskan untuk pergi.
Mereka menuju ke ruangan keluarga. Namun ayah melupakan jika wajahnya masih hitam.
" eee... Liana! Siapa dia?"
Diego yang kebetulan berada di sana merasa asing dengan pria disamping putrinya.
"ayah mertua tega sekali! Sampai tidak mengenaliku!"
"hemm..? Donovan?"
Ayah menganguk.
"hahahaha... Apa-apaan wajahmu itu!"
Ayah kembali ingat jika wajahnya masih hitam.
"Leoooooo....."
__ADS_1