
Phanter yang sebelumnya merasa panik, hanya bisa menenangkan diri.
Ia kembali fokus kepada lawan yang berada di depannya. "kau ingin berduel denganku?"
"ya! Aku menang, Kau mati! Kau menang, kau bebas!" Leo ingin merasakan pertarungan dengan seorang manusia. Apa lagi ini menjadi duel hidup dan mati pertama Leo.
Phanter tersenyum sinis mendapat tantangan dari seorang bocah. "hihi.. Kau seharusnya sadar diri dengan umurmu! Kau hanya bocah kemarin sore. Sementara aku adalah seorang petualang rank S. Jelas aku lebih berpengalaman darimu."
Phanter memperlihatkan kartu guildnya. Meski Black Guild adalah guild ilegal, namun mereka tetap menggunakan system penilaian yang sama dengan guild resmi.
"aku tidak peduli dengan peringkat di guildmu. Karena sekarang, itu semua tidak penting."
"hahaha... Kau benar! Sekarang status ini sudah tidak penting lagi saat berada di jalan kematian." Phanter setuju dengan pendapat Leo. Ia lantas membuang kartu guildnya dan mulai bersiap dengan pedang besarnya.
"sebelum kita mulai, aku ingin tahu siapa namamu nak!" tentu Phanter ingin mengetahui identitas dari orang yang menjadi lawannya ini.
Leo yang sebelumnya menggunakan topeng, sekarang ia melepasnya agar Phanter tahu siapa orang yang akan membunuhnya. Ia lantas melempar topengnya diantara dirinya dan juga Phanter.
"jangan panggil aku nak paman!"
Phanter terkejut jika orang yang ada didepannya memang benar seorang bocah.
"clak!" Suara topeng Leo terjatuh menandakan jika duel antara Phanter dan Leo dimulai.
"Panggil aku Leonardo Donovan." Leo berlari dengan pedang ganda miliknya.
Sementara Phanter terkejut mendengar nama yang sudah tidak asing baginya. Namun ia segera mengabaikan itu dan kembali fokus dengan Leo yang dengan cepat berlari ke arahnya.
Leo berlari hingga jaraknya sudah cukup dekat, ia melompat dan melakukan serangan vertikal dengan kedua pedangnya.
Namun Phanter yang seorang petualang rank S, tentu dapat dengan mudah mengatasi serangan Leo.
Ia mengangkat pedangnya dalam posisi horizontal untuk menahan serang Leo.
"tring..." benturan pednag Leo dan Phanter terjadi. Percikan api terlihat dari gesekan pedang mereka.
Namun Leo tidak menahan serangannya. Ia melemahkan pergelangan tangannya agar bisa lepas dari pertahanan pedang Phanter.
Ia menarik pedangnya ke bawah lalu melakukan gerakan menusuk langsung ke dada Phanter yang tanpa pelindung tersebut.
Phanter terkejut dengan gerakan Leo yang sangat cepat dalam mengatasi situasi.
__ADS_1
Ditambah kecepatan serangan Leo sekarang lebih cepat dari pada gerakan tangannya yang memegang pedang berat miliknya.
"Blade Armor!" seketika Phanter mengaktifkan skill pertahanannya.
Tubuhnya secara tiba-tiba diselimuti oleh aura berwarna putih dengan beberapa kilatan petir.
Leo berhasil menyerang Phanter di titik vitalnya. Namun tak dalam hingga membahayakan nyawa Phanter.
Disaat yang sama dngan serangan Leo, ia merasakan jika tubuhnya seperti terkena sambaran petir. Namun tak lebih dari 20 volt.
Leo segera mundur untuk menghindari serangan balik dari efek skill Blade Armor terlalu lama.
Sementara Phanter yang sudah menggunakan skill pertahanan masih merasakan sakit di kedua dadanya. Ia secara spontan juga ikut mundur untuk mengantisipasi jika serangan Leo menjadi semakin dalam dan mengenai jantungnya.
"argh..." Phanter memeriksa dadanya yang tampak terluka namun tidak dalam. Hanya sampai mengenai tulang rusuknya saja.
Ia lalu melihat ke arah pedang Leo dan menyadari jika pedang Leo terbuat dari adamantium.
"aku tidak menyangka jika senjatamu terbuat dari bahan yang sangat berharga. Terbukti jika pedangmu bisa melukaiku setelah aku menggunakan skill pertahanan."
Di sisi Leo, tubuh Leo merasa sedikit lemas karena terkejut menerima sengatan listrik.
"aku juga tidak menyangka jika skill pertahananmu memiliki efek yang cukup merepotkan."
Setelah beberapa saat, efek dari keterkejutannya menghilang. Leo kembali malancarkan serangan.
Namun bukannya bersiap untuk bertahan menerima serangan Leo, Phanter malah melakukan serangan balik.
Serangan pedang besar Phanter mengarah tepat di atas kepala Leo.
Leo dengan sigap menahan serangan Phanter dengan kedua pedangnya.
"tring.."
Leo yang tidak memiliki kekuatan fisik sebesar orang dewasa, tidak bisa menahan serang tersebut. Melainkan membelokkan serangan dengan cara kemiringan pedangnya ke arah luar.
"teng..."
Pedang Phanter mengenai tanah dan Leo mendapat kesempatan untuk menyerang kepala Phanter yang sudah tidak ada pertahanan pedang.
Namun bukannya panik, Phanter malah tersenyum. "aku menang! Kill Sword!"
__ADS_1
Pedang Phanter yang berada di tanah langsung bergerak menuju ke tubuh Leo. Bahkan lebih cepat dari gerakan Leo.
Seketika otak Leo berpikir lebih cepat dan keras. Leo memikirkan solusi dari situasi yang menimpa dirinya. Dimana nyawanya sudah berada di samping bilah pedang.
Jika ia tidak menemukan solusi, makan pedang Phanter akan menebas tubuhnya hingga terpotong menjadi dua bagian.
Namun beruntung Leo mendapat sebuah pemikiran. Mengingat sebelumnya Phanter menggunakan skill pertahanan Blade Armor.
Jika di kehidupan sebelumnya, skill Blade Armor ada di sebuah game MMORPG. Dan tentu ada satu skill di game tersebut yang sesuai untuk situasinya.
"Twilight Armor!" Leo membayangkan efek dari skill tersebut dan berharap jika skill ini bisa menyelamatkan nyawanya.
Sebelum pedang Phanter menyentuh tubuh Leo, sebuah pelindung aktif dan menyelimuti tubuh Leo.
"tinggg......."
"tasss...."
Benturan pedang Phanter berhasil di tahan dan menyebabkan pelindung Leo hancur. Namun itu sudah cukup untuk Leo yang pedangnya sudah sangat dekat dengan leher Phanter.
Phanter tidak menyangka jika bocah di depannya ini bisa menggunakan skill pertahanan Twilight Armor. Yang memiliki efek pertahanan mutlak untuk satu serangan fisik berdamage tinggi.
Dan karena itu keadaan berbanding terbalik. Sekarang ia yang berada di ujung pedang Leo.
Menyadari jika ia sudah tidak bisa selamat, Phanter hanya tersenyum karena telah puas dapat melihat skill pertahanan yang sangat legendaris tersebut.
"cratt...."
Leo berhasil menusuk leher Phanter sangat dalam hingga menyebabkan darah bercucuran membasahi wajah Leo.
Leo yang tidak ingin mengambil resiko, segera menggerakkan pedangnya dan memenggal kepala Phanter secara sempurna.
Satu kepala kembali terjatuh ke tanah. Lalu di ikuti oleh tubuh Phanter yang juga ikut ambruk.
"huhh... Akhirnya selesai!" Leo merasa lega karena ia berhasil mengalahkan manusia dalam duel hidup dan mati. Meski sebelumnya ia juga merasakan rasanya nyawa sudah di ujung tanduk.
Ia juga bersyukur karena ingatan tentang game di bumi bisa menyelamatkan nyawanya.
Ia duduk sejenak di samping tubuh Phanter untuk melihat tugas Phinix.
Dari penglihatan Phinix, ia sedang menyerang para anggota Black Guild dengan sihir burung api. Puluhan burung api terbang dan menargetkan para anggota Black Guild. Namun dengan banyaknya jumlah anggota, tentu masih ada yang berhasil kabur dengan selamat.
__ADS_1
"sekarang sisanya tinggal bagian dari Jack dan yang lain."