Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
45. Keindahan Alam!


__ADS_3

Leo dan Phinix dengan cepat melesat melewati pepohonan rindang. Leo ingin sampai di kota Mainter secepatnya. Karena situasi yang ia bayangkan sangat kacau.


Namun ia masih menyempatkan untuk beristirahat saat malam tiba. Sekarang ia berada di sebuah tanah lapang yang cukup jarang terjadi memunculkan beast. Leo mendirikan tenda namun hanya satu tenda. Sementara Phinix pergi mencari kayu bakar.


"tuan! Saya sudah membawa kayu kering cukup banyak!" Phinix kembali setelah mendapatkan kayu kering. Namun bukannya cukup banyak. Melainkan sangat banyak. Bahkan dengan semua kayu tersebut, bisa digunakan untuk membuat sebuah pondok kecil.


Leo melihat itu terkejut dengan jumlah yang Phinix bawa. "aaaa.... Itu terlalu banyak. Tapi tidak apa-apa. Kau taruh saja disana."


"baiklah tuan." Phinix menaruh semua kayu kering tersebut sekitar 7 meter dari tenda.


Leo selesai memasang tenda. Lalu menyusun beberapa kayu untuk api unggun. Leo menyalakan api dengan menggunakan sihir api.


Dengan daging beast yang entah enak atau tidak, Leo mencoba untuk membuat daging bakar. Dan akhirnya matang lalu ia merasakan rasa dari daging beast yang bagi Leo terasa biasa saja.


Phinix mencoba merasakan makanan yang Leo masak namun berbeda dengan Leo, Phinix malah sangat menyukai daging bakar tanpa bumbu tersebut.


Selesai makan, Leo mengeluarkan semua jubah yang ia pesan untuk menerapkan rune sihir. Rune sihir yang ia terapkan ada dua. Satu rune kebersihan, dan yang kedua adalah rune ukuran.


Dengan Magic Dust yang ia bawa dari kota Argus, ia menerapkan kedua rune tersebut terhadap semua jubah.


Jenis rune yang Leo terapkan adalah jenis yang pasif. Jadi tidak perlu menggunakan mana dalam mengaktifkan.


Setelah selesai semua rune sihir di terapkan, Leo memberikan satu jubah kepada Phinix.


"pakailah ini!"


Phinix memeriksa jubah yang diberikan Leo. Dari wajahnya, Phinix seperti penasaran dengan lambang yang terdapat di punggung.


"itu adalah jubah untuk ksatriaku. Jadi pakailah. Agar semua orang tahu identitasmu adalah milik Leonardo."


"ksatria? Maaf tuan! Tapi saya adalah budak anda. Saya tidak pantas jika harus menerima pemberian seperti ini yang di khususkan untuk para ksatria." Phinix merasa tidak pantas dengan identitas ksatria. Karena sekarang dirinya adalah seorang budak, maka derajatnya akan lebih rendah dari para pelayan.


" karena kau adalah budakku maka kau akan menjadi ksatria paling aku percayai. Jadi aku akan memberimu tugas sebagai asisten pribadi."


Phinix mendengar pernyataan Leo menjadi sangat senang. Ia tidak menyangka jika status dirinya bisa dengan mudah berubah menjadi seorang asisten. Namun sejatinya ia akan tetap menjadi budak Leo.


" terima kasih tuan! Saya merasa terberkati dengan pilihan anda!" Phinix memberikan hormat kepada Leo.


"kalau begitu cepat ganti jubahmu!"

__ADS_1


"baik tuan!" Phinix langsung melaksanakan perintah dari tuannya.


Namun tidak seperti harapan Leo yang mengira jika Phinix akan ganti jubah ya di tenda. Phinix malah langsung membuka jubah yang ia kenakan di tempat dirinya berdiri.


Sontak Leo terkejut dan kembali melihat tubuh tanpa busana Phinix untuk kedua kalinya.


Darah segar keluar dari lubang hidung Leo. 'aku tidak mengharapkan jika ia akan telanjang disini. Namun, yah... Hitung-hitung untuk cuci mata!'


Sebenarnya setelah berubah menjadi manusia, Phinix mendapat beberapa ingatan umum selain kesetiaan kepada Leo. Termasuk ingatan tentang rasa malu seorang wanita.


Phinix juga merasa malu saat ini. Namun, ia juga hal ini akan membuat tuannya menjadi bahagia.


Leo terus memperhatikan lekukan tubuh Phinix. Dengan pegunungan yang besar dan jalur pendakian yang lekung membuat segalanya indah.


Bahkan bemper belakang yang cukup menarik perhatian dengan ukurannya yang lumayan besar dan mulut goa yang terlihat tanpa adanya rambut sama sekali.


Jika diperhatikan dengan seksama, Phinix hanya memiliki rambut di kepala, alis, dan bulu mata saja.


Rambut kepala Phinix berwarna merah gelap dan panjang sepinggul. Alisnya yang rapi dan bulu mata yang lentik menambah kecantikan Phinix.


Fakta tersebut membuat maha karya alam yang sangat indah. Memang pantas jika Phoenix juga memiliki julukan lain yaitu burung surga.


Lalu muncul iblis yang tampak marah karena tugas untuk menyuruh hal buruk diambil oleh malaikat. "woi! Ini tugas gue! Ngapain loe ikut komporin perbuatan yang jelek?"


Namun jawaban malaikat membuat iblis setuju dengan keputusan malaikat. "yaelah! Kalau udah kayak gini, siapa yang bakal nolak bro.."


"bener juga ya!"


Akhirnya malaikat dan iblis bekerja sama untuk membuat Leo semakin mendekati nafsu.


Namun melihat pemandangan di depannya, Leo masih bisa melawan karena memang dirinya sekarang masih berusia 11 tahun. Jadi itunya masih belum terlalu berguna dalam pertarungan.


'untung aku masih 11 tahun. Jika kejadian ini terulang saat 7 tahun mendatang, sudah jelas aku tidak akan menahan diri sama sekali.'


Phinix selesai berganti jubah dan secara otomatis ukuran jubah berubah menyesuaikan ukuran tubuh Phinix. Dan tentu lekukan tubuh Phinix cukup terlihat dan hal yang paling Leo sesalkan adalah, 'aku lupa dengan pakaian dalam Phinix.'


Leo memutuskan untuk mampir dialah satu kota dengan toko pakaian yang menjual pakaian dalam wanita.


Setelah selesai berganti, Phinix melihat kearah Leo yang sedang memperhatikan dirinya namun darah mengalir dari hidung tuannya. Melihat itu, Phinix segera mendekat untuk memeriksa keadaan Leo.

__ADS_1


"tuan! Tuan tidak apa-apa?"


Leo tersadar dari lamunan. "aku tidak apa-apa! Kau tenang saja."


Leo membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya.


Mendengar ucapan Leo, Phinix menjadi lega. "syukurlah!"


Hari semakin malam. Leo memutuskan untuk beristirahat. "ini sudah larut. Sebaiknya kau cepat tidur!"


"baiklah tuan!" Phinix menurut dan langsung berbaring di depan tenda untuk tidur.


"hei! Apa yang kau lakukan disitu?"


Mendengar pertanyaan Leo, Phinix kembali bangkit dan menjawab. "bukankah tuan menyuruh saya untuk tidur?"


Leo memepuk jidat mendengar ucapan Phinix. "Kalau tidur jangan disana. Tapi didalam tenda."


"Tapi, bagaimana dengan tuan Leo? Saya tidak mungkin untuk tidur didalam sementara tuan malah tidur diluar!" Phinix memperhatikan kenyamanan Leo. Karena dirinya juga tidak mungkin membiarkan tuannya untuk tidur diluar yang jelas tidak akn nyaman dan dingin.


"aku tidak masalah dengan tidur dimanapun! Jadi kau tidur saja!"


"maaf tuan! Saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri jika saya membiarkan tuan tidur dalam keadaan kedinginan. Jadi saya akan tetap berada di luar." Phinix memutuskan untuk tetap berada di luar sambil berjaga.


Lalu sebuah pemikiran terbesit di kepala Phinix." atau, bagaimana jika kita tidur bersama di dalam. "


Leo terkejut dengan ide dari Phinix. Ia tidak memikirkan kearah situ untuk tidur bersama.


"baiklah! Jika kau tidak keberatan!"


Mendengar persetujuan Leo, Phinix menjadi sangat bahagia. Dengan ini ia akan menjadi lebih dekat dengan tuannya.


Akhirnya mereka tidur bersama dalam satu tenda.


_________________________________________________


Maaf ya! Kemarin bilangnya mau update 3 chapter. Namun masih ada urusan mendadak. Jadi hanya bisa UP malam.


Jangan lupa untuk like, komen, dan fav!

__ADS_1


See you next chap!


__ADS_2