Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
40. Awal Melawan sang Phoenix.


__ADS_3

Keesokan paginya, Leo dan guild master bersiap untuk berangkat. Guild master mempersiapkan kuda sementara Leo bertemu dengan keluarga Duke Gustaf.


Leo berpamitan dengan Duke Gustaf dan yang lain. Lalu datang pewaris Duke yaitu Erfan Gustaf. "aku menantikan pertandingan ulang kita tuan Sasuke!"


Lalu kejadian mengejutkan terjadi. Nona Rosa secara tiba-tiba menyatakan perasaannya. "tuan! Saya sebenarnya suka dengan anda. Apa kita masih bisa bertemu lagi?"


Setelah menyatakan hal tersebut, wajah nona Rosa memerah. Ia merasa sangat malu sekarang. Dihadapan keluarga kakeknya, menyatakan cinta dengan terang-terangan membuat semua orang termasuk Leo terkejut.


Namun dengan berani nona Rosa tetap berada di tempat untuk menunjukkan ketulusannya.


Sementara anggota keluarga yang lain merasa bangga dengan keberanian nona Rosa.


Leo yang mendapat pernyataan tersebut tersenyum. "sekarang saya masih belum memikirkan kearah itu. Namun saya bisa memastikan jika kita akan bertemu lagi dimasa depan. Sampai saat itu, anda bisa belajar menjadi istri yang baik."


Jawaban Leo tentu membuat nona Rosa menjadi sangat senang. Meski masih belum kesetujuan yang jelas, namun itu merupakan sebuah kesempatan untuk nona Rosa. Dalam hati ia berjanji untuk belajar dengan giat agar mendapat perhatian dari Leo.


Setelah itu Leo dan guild master pergi meninggalkan kediaman kota Argus.


Dalam perjalanan, Leo memikirkan tentang pernyataan nona Rosa. 'istri kah?'


Leo tidak pernah mengalami jatuh cinta. Mengingat jika dirinya mati sebelum dalam keadaan lajang.


"ada apa?" guild master menyadarkan Leo dari lamunannya.


"tidak ada apa-apa!" Leo menghentikan pemikiran tentang wanita dan mulai fokus dengan tujuannya.


Menurut perkiraan guild master, perjalanan menuju ke lokasi sarang Phoenix membutuhkan waktu 3 hari dengan kuda.


Beberapa kali mereka melewati hutan dengan monster tingkat menengah. Namun tidak membuat perjalanan menjadi terhambat karena Leo memiliki pedang baru yang sangat kuat.


Malamnya seperti biasa mereka melakukan kemah di alam liar.


Di sela istirahat, Leo menyempatkan diri untuk berlatih menggunakan pedangnya. Untuk membiasakan diri setalh memiliki pedang ganda. Berbagai elemen sihir ia kombinasikan dengan gerakan cepat dan efektif.


Dalam latihan Leo menggunakan para hewan buas yang mendekat ke arah tenda. Dengan guild master yang menjaga tenda.


Hingga tiga hari telah terlewati.

__ADS_1


Mereka akhirnya sampai di kaki gunung berapi. Dengan nama gunung Phoenix, tempat yang terkenal dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi.


Mereka melakukan kemah untuk bersiap bertarung melawan sang Phoenix yang legendaris. Dengan keberadaan Phoenix di gunung ini, tidak ada monster yang berani mendekat selama berada di kawasan Gunung.


Karena itu mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan.


Dalam tenda Leo, ia membuka kertas yang merupakan peta harta Karun pemberian Dewa Gatotkaca. Ia baru menyadari jika lokasi harta tersebut cukup dekat dengan gunung Phoenix.


Dengan teliti ia memeriksa peta. Hingga ia mengetahui posisi dari harta tersebut. Lokasinya berada di puncak gunung. Dengan kata lain harta tersebut dijaga oleh sang Phoenix.


Namun Leo merasa ragu dengan lokasi sebenarnya. Ia bahkan memikirkan jika lokasi dari harta tersebut berada di dalam inti gunung. Jika demikian, mustahil bagi Leo untuk bisa mengambilnya.


Leo menghilangkan pemikiran tersebut dan mulai tidur. Ia bisa memeriksa saat ia berada di puncak gunung.


.


Besok pagi tiba dan Leo sudah bangun dengan semua perlengkapan bertempurnya.


Leo kembali memeriksa keadaan pedang kembar miliknya untuk memastikan jika tidak terjadi kerusakan pada rune sihir.


"jadi, kau beli potion ini untukku? Hahha.. Sebenarnya elemen sihirku adalah api. Jadi aku sudah biasa dengan suhu tinggi. Tapi terima kasih!" guild master menerima potion pemberian Leo.


"tidak masalah!"


Leo dan guild master sarapan dan setelah itu lanjut pergi ke puncak gunung Phoenix dengan jalan kaki.


Dalam perjalanan, Leo merasakan suhu mulai naik. Meski seharusnya lokasi gunung memiliki suhu rendah atau dingin. Namun dengan adanya sang Phoenix, suhu dari tempat itu menjadi sangat tinggi. Hingga membuat pohon tidak tumbuh sama sekali.


"kackkkk....."


Lengkingan suara terdengar keras. Mereka menduga jika itu adalah suara dari burung Phoenix. Karena mustahil ada burung lain yang berani mendekat di sarang satu ini.


Leo mempercepat langkahnya. Namun guild master berhenti untuk menjaga jarak agar aman.


"aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Terlalu berbahaya jika aku sampai di puncak. Karena burung Phoenix sangat agresif dengan pengunjung."


"baiklah. Anda tunggu disini." Leo melanjutkan perjalanan hingga ia sampai di puncak gunung.

__ADS_1


Suara teriakan Phoenix semakin keras. Suhu udara juga semakin tinggi. Hingga Leo melihat kawah dengan diameter 200 meter membentang.


Asap vulkanik terus membumbung tinggi. Dan terlihat jika ada pergerakan di dalam asap tersebut.


Leo memperhatikan dengan teliti pergerakan tersebut. Hingga samar-samar terlihat nyala api semakin jelas.


Leo menjadi sangat terkejut setelah api yang berada di dalam asap semakin jelas dan keluar sosok burung Phoenix.


Phoenix tersebut langsung terbang mengarah ke Leo dengan sangat cepat.


Beruntung Leo mampu menghindar tepat waktu. "oi! Sudah mulai serang saja!"


Dengan ukuran rentang sayap 20 meter, memang layak jika burung Phoenix mendapat predikat sebagai makhluk legenda. Bahkan sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkannya.


Leo mengeluarkan kedua pedang barunya bersiap untuk bertarung. "majulah!"


Burung Phoenix kembali menyerang Leo dengan kecepatan tinggi. Saat sudah semakin dekat dengan Leo, Phoenix tersebut langsung melipat sayapnya untuk menerkam Leo.


Namun karena Leo sudah bersiap, serangan tersebut sangat mudah untuk Leo hindari.


Serangan Phoenix mengenai tanah kosong hingga menyebabkan retakan. Ia kembali terbang meninggalkan bekas dari kuku tajam.


Leo masih belum melakukan serangan. Karena memang tujuan awalnya adalah untuk menjinakkan burung Phoenix tersebut. Akan sayang jika Leo berhasil menjinakkan namun dengan keadaan cacat.


Rencana Leo adalah untuk membuat burung tersebut. Kelelahan. Namun tampaknya itu bukanlah hal yang mudah.


Leo memprovokasi burung Phoenix. "oi burung dara! Apa hanya itu kemampuanmu? Kau tidak cocok jika mendapat julukan burung legendaris dengan kemampuan tersebut. Lebih baik kau menjadi burung kicau saja!"


Meski tidak mengerti arti dari ucapan Leo, burung tersebut dapat merasakan jika Leo meremehkan dirinya.


Alhasil burung tersebut mulai marah. Nyala api pada tubuhnya semakin besar dan panas.


Menyadari provokasinya berhasil, Leo merasa bangga. Namun disaat yang bersamaan, Leo merasa menyesal karena membuat burung legendaris tersebut menjadi murka. "heheh... Aku bercanda tadi!"


Tanpa peduli dengan apa yang diucapkan Leo, burung Phoenix langsung kembali menyerang dengan kecepatan penuh hingga menghantam puncak gunung dan menyebabkan longsor.


Beruntung Leo masih sempat untuk menghindar dan menggunakan sihir perlindungan api! Karena dari serangan Phoenix, juga terdapat efek panas hingga membakar tanah di sekitar serangan.

__ADS_1


__ADS_2