
Suhu udara semakin tinggi. Serangan burung Phoenix mengeluarkan efek membakar.
Dengan mendaratnya burung Phoenix, Leo memanfaatkan kesempatan untuk menyerang.
Leo melompat untuk menggapai kepala burung Phoenix. Lalu menyerang dengan kedua pedangnya.
Dengan serangan tersebut, tidak terjadi apapun dengan kepala sang Phoenix. Serangan Leo tidak mempan untuk bisa melukai Phoenix.
"sial!" Leo langsung menjauh setelah gagal melukai burung Phoenix.
Phoenix kembali terbang untuk menjaga jarak dengan Leo. Itu termasuk memanfaatkan keunggulan.
Saat terbang, Phoenix melihat kearah Leo dengan tatapan merendahkan. Ia menganggap jika Leo hanyalah makanan ternak yang tidak akan bisa melawan dengan keunggulan tersebut.
Namun pandangan tersebut tak berlangsung lama. Leo menggunakan sihir angin untuk mengangkat dirinya ke udara.
Perlahan Leo naik dan terbang tanpa sayap. Dengan kemampuan tersebut, Leo bisa memperpendek perbedaan kemampuan di antara mereka.
Merasa tidak terima, Phoenix menyerang Leo dengan kecepatan penuh.
Leo yang masih pertama kalinya menggunakan sihir ini dalam pertarungan, merasa kesulitan untuk bisa menghindar.
Pada akhirnya Leo terkena serangan Phoenix dan menghantam tanah.
"ugh.." setengguk darah mengalir keluar dari mulut Leo.
Belum berdiri, Leo sudah akan menerima serangan kedua. Namun ia masih bisa menghindar.
Leo mengusap bibirnya untuk menghilangkan sisa darah. "baiklah. Aku akan serius kali ini!"
Leo berkonsentrasi mengalirkan mana ke seluruh tubuh. Lalu tubuhnya bercahaya dengan sangat terang.
Bahkan Phoenix sekalipun harus menutup mata karena silau dari cahaya Leo.
Setelah cahaya tersebut hilang, Leo berubah menjadi wujud dewasa dan muncul sayap di belakang punggungnya.
Leo merenggangkan tubuhnya. Sudah lama ia tidak menggunakan tubuh dewasa. Itu adalah wujud Leo semasa berada di bumi. Dengan tambahan sayap dari kemampuan yang Dewa Gatotkaca berikan.
"mari kita mulai ronde ke dua." Leo dengan sangat cepat menuju ke burung Phoenix yang masih berada di tanah.
Menyadari serangan Leo, burung tersebut langsung kembali terbang ke atas. Namun Leo sekarang memiliki sayap untuk mempermudah akselerasi.
Leo menukik ke atas mengejar burung Phoenix dengan terbang.
Di langit Leo dan burung Phoenix saling mengejar untuk mendapatkan kesempatan melakukan serangan.
Kecepatan terbang masing-masing hampir sama. Namun Leo sekarang masih membiasakan diri dengan sayap barunya.
Hingga Leo sudah cukup terbiasa, ia meningkatkan kecepatannya. Leo berhasil mengejar kecepatan burung Phoenix.
*
__ADS_1
Ditempat guild master, ia merasa khawatir dengan keselamatan Leo. Apa lagi setelah beberapa kali ia mendengar suara pertarungan.
Hingga sekarang ia dikejutkan dengan kilatan api yang mengitari gunung Phoenix.
Kecepatan api tersebut membuat guild master penasaran dengan identitas dari kilatan tersebut. Namun karena kecepatannya sangat tinggi, ia hanya melihat bentuk sayap burung Phoenix saja.
"semoga kamu baik-baik saja tuan Leo!"
*
Kembali ke pertempuran antara Leo dan Phoenix.
Menyadari kecepatan terbangnya telah dilampaui, burung Phoenix melihat ke belakang dan menemukan posisi Leo yang semakin lama semakin dekat.
Phoenix langsung berbalik dan menggunakan kemampuan napas api. Semburan api merah keluar dari paruh burung Phoenix.
"swursssss..."
Melihat semburan api, Leo langsung berbelok ke kiri untuk menghindarimya. Namun karena kecepatan tersebut, Leo masih terkena efek dari semburan api.
Baju lengan bagian kanan terkena api dan meleleh. Dan tangan kanannya hanya mendapat luka bakar ringan karena efek dari sihir pertahanan api.
Disaat Phoenix masih menyemburkan api, Leo melihat kesempatan untuk menyerang. Tak melepaskan kesempatan, ia terbang dengan kecepatan penuh menuju ke kepala Phoenix.
Sempat ia ketahuan oleh mata Phoenix. Namun dengan kecepatan Leo, sang Phoenix tidak akan mampu untuk menghindar.
Dengan kaki lebih dulu, tendangan keras menggunakan kedua kaki berhasil mendarat di kepala Phoenix.
Semburan api seketika berhenti dan burung Phoenix terlihat seperti kehilangan keseimbangan namun masih bisa terbang.
Lanjut ke serangan kedua, Leo naik lebih tinggi di atas sang Phoenix.
Dirasa cukup tinggi, ia memanfaatkan gaya gravitasi dan kecepatan sayap untuk meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke arah burung Phoenix.
Karena masih merasa pusing, burung Phoenix tidak bisa fokus dalam pertarungan. Hingga dirinya tidak dapat menghindar dari serangan Leo.
Leo terjun dengan kecepatan tinggi dan menyerang dengan kaki seperti sebelumnya. Namun sekarang ia menggunakan pengeras di kaki dan kecepatan tinggi.
Satu tendangan berhasil mendarat di punggung Phoenix.
"bugg... Krack...."
Mereka terjatuh dari ketinggian hingga membentuk tanah.
"bruckk....."
Tendangan yang sangat keras berhasil membuat tulang punggung sang Phoenix patah. Menyebabkan dirinya tidak mampu bergerak.
Api pada tubuhnya juga semakin meredup.
Leo turun dari punggung Phoenix lalu menghadap duduk di depan wajah Phoenix.
__ADS_1
"baiklah! Aku menang Phoenix!" Leo menghela napas lega karena berhasil mengalahkan Phoenix.
Sang Phoenix merasa pasrah dengan keadaannya. Ia tidak pernah kalah dalam pertarungan sampai sekarang.
Hingga sekarang dirinya berhasil dikalahkan oleh seorang manusia yang memiliki kekuatan sangat besar.
Sang Phoenix bisa melihat aliran mana yang tak ada habisnya di tubuh Leo.
Leo menarik pedangnya dihadapan Phoenix.
Melihat Leo mengeluarkan pedang, sang Phoenix sudah pasrah untuk di sembelih. Ia tidak meronta karena memang sudah tidak mampu bergerak. Ia hanya bisa menggerakkan kepala namun dengan rasa sakit yang amat besar.
Air mata mulai menetes dari matanya menyadari akhir dari hidup panjangnya.
Leo mendekat dengan pedang berada di tangannya. Namun bukan untuk membunuh sang Phoenix. Melainkan untuk menyayat telapak tangan sendiri. Lalu kembali menyarungkan pedangnya.
Melihat itu, sang Phoenix merasa terkejut. 'apa ia tidak jadi membunuh ku?'
Dengan tangan yang penuh dengan darah, Leo meletakkan tangannya di kepala sang Phoenix. Ia mempraktekkan sihir budak seperti pengetahuan yang diberikan oleh Dewa Semar.
Aliran mana terus mengalir mengikuti tetesan darah di kepala Phoenix. Hingga darah tersebut menetes ke tanah dan terbentuk sebuah lingkaran sihir besar di bawah mereka.
Sang Phoenix tidak tahu sihir apa yang Leo gunakan. Ia tidak peduli jika dirinya akan mati atau masih hidup.
Lingkaran sihir semakin lama semakin jelas. Lalu tak lama memancarkan cahaya dengan warna merah.
Cahaya tersebut sangat terang hingga Leo tidak bisa melihat apapun karena silau.
Dari pandangan sang Phoenix, ia merasa seperti kemasukan ingatan seorang budak. Dengan kesetiaan mutlak yang tertuju kepada Leo. Perasaan dan pemikirannya terhubung dengan Leo.
Cahaya semakin terang dan mana Leo terkuras sangat banyak meski ia tidak memiliki batasan mana.
Mana tersebut mengalir kepada sang Phoenix hingga tubuh Phoenix ikut bercahaya dan wujudnya perlahan berubah.
Leo merasa aneh dengan tangannya. Sebelumnya ia menyentuh kepala Phoenix yang ukurannya besar dan di tumbuh bulu.
Namun sekarang ia merasa seperti menyentuh kepala manusia biasa.
Cahaya dari lingkaran sihir meredup dan mulai menghilang.
Leo membuka matanya dan melihat ke arah Phoenix.
Alangkah terkejutnya ia mendapati seorang wanita dengan kepala yang sedang Leo pegang.
Leo seketika terdiam melihat pemandangan aneh didepannya.
"tuan!" wanita tersebut memanggil Leo dengan sebutan tuan yang membuat Leo semakin tertegun.
Leo tidak bisa berkata-kata. Bukan karena ia menyadari perubahan pada tubuh Phoenix. Namun karena ia mendapati seorang wanita sedang terduduk dalam keadaan tanpa busana.
"keren!" Leo langsung mengacungkan jempol dan darah segar keluar dari hidungnya.
__ADS_1