Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
79. Keanehan Para Penjaga.


__ADS_3

Dengan naik kereta kuda, mereka akan berangkat ke kota Mainter. Sementara Leo akan menggunakan kuda sendiri untuk menuju ke ibukota.


Semua persiapan sudah selesai dan mereka bersiap untuk berangkat.


"kami berangkat sekarang. Jangan lupa dengan apa yang kita bicarakan kemarin. Aku harap kalian bisa mengurus semua itu dengan baik." Leo kembali mengingatkan mereka untuk melakukan rencana yang sudah di susun.


"tuan tidak perlu khawatir. Anda fokus saja dengan perjalanan anda. Semua yang ada di kota ini akan kami urus dengan serius."


"baiklah! Kami berangkat!"


Leo dan rombongan berangkat menuju kota Mainter. Namun sebelum berangkat, Leo sempat melirik ke arah Phinix yang tampak murung.


Dengan mata yang saling menatap, Leo tersenyum dan itu membuat Phinix juga ikut tersenyum.


Laju kecepatan kuda semakin cepat. Dan jarak dari Phinix membuatnya hanya bisa melihat kepergian Leo dengan perasaan kecewa.


'semoga anda baik-baik saja tuan!'


*


Leo yang mengendarai kuda sendirian bergerak dengan kecepatan sedang. Itu agar kereta kuda yang membawa ibu yang sedang hamil tidak terlalu banyak terguncang.


Namun itu yang membuat perjalanan mereka menjadi lebih lama.


Karena biasanya, perjalanan dari kota Kenji menuju kota Mainter hanya membutuhkan waktu satu hari satu malam.


Membuat mereka harus bermalam di jalan. Meski beberapa kali mereka harus menghadapi serangan monster, namun dengan sangat mudah Leo mengatasi mereka.


"aku tidak menyangka jika kamu sudah sangat ahli menggunakan pedang. Meski aku tidak tahu aliran pedang mana yang kamu gunakan."


Ayah merasa kagum dengan gerakan Leo dalam menggunakan pedang. Dengan gerakan yang sangat sederhana, Leo mampu mengalahkan para monster dengan cepat dan tepat.


"benar! Gerakan pedangmu sangat berbeda dari milik ayahmu. Apa kamu punya seorang guru?"


Ibu juga merasa bangga dengan kemampuan Leo yang ia lihat.


"ahahah... Aku tidak punya guru sama sekali. Aku hanya mengingat gerakan dari seseorang yang pernah aku lihat. Jadi aku menciptakan gerakan yang hampir sama dengan orang tersebut."


Leo tertawa canggung saat menjawab pertanyaan mereka. pembicaraan mereka berlanjut. Sampai mereka memutuskan untuk beristirahat.


Esok harinya mereka segera pergi untuk melanjutkan perjalanan. Hingga saat sore mereka tiba di gerbang masuk kota.


Seorang penjaga memeriksa tanda pengenal dari semua orang yang akan memasuki kota. Hingga ia tidak fokus dan memeriksa Leo yang masih berada di atas kuda.


"tanda pengenal?" penjaga tersebut mengulurkan tangan.


Leo segera mengeluarkan kartu petualangnya dan memberikannya kepada penjaga.


Penjaga tersebut langsung menerima kartu pengenal Leo dan melihat kartu tersebut.


Setelah ia memeriksa kartu Leo, penjaga tersebut langsung terkejut. Ia menjadi gemetaran saat memegang kartu itu.

__ADS_1


Lalu penjaga lain yang merupakan pemimpin di regu gerbang tersebut. Melihat jika arus jalur masuk terhenti, ia segera datang untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.


Ia datang dan melihat asal masalahnya. Ia menghampiri penjaga yang sedang dengan gemetaran memeriksa katu guild Leo.


"hei! Kenapa antriannya terhenti?"


Penjaga yang memeriksa kartu Leo segera merespon teriakan kapten penjaga.


"ah... Kapten! I..ini!" tanpa banyak bicara, penjaga tersebut langsung memberikan kartu guild Leo kepada kapten penjaga.


Kapten mengambil kartu tersebut dan memeriksanya.


Dan sama seperti reaksi penjaga awal, kapten penjaga juga snaagt terkejut dengan apa yang sedang ia pegang.


Kapten penjaga menelan saliva. Dengan perlahan dan tangan gemetaran, kapten penjaga mengangkat kepalanya untuk bisa melihat dengan jelas pemilik dari kartu tersebut.


Hingga kedua matanya bertatapan dengan mata Leo.


"ada apa?" Leo penasaran dengan mereka yang masih lama memeriksa kartu miliknya.


Kedua penjaga tersebut tertawa canggung.


"ahahah... Tidak ada apa-apa. Silahkan."


Kapten penjaga langsung mengembalikan kartu milik Leo. Dan mempersilahkan Leo untuk memasuki kota.


Ayah yang merasa jika pemeriksaan terlalu lama, ia membuka jendela dan bertanya kepada Leo.


Mendengar suara ayah, Leo segera menoleh dan menjawab pertanyaan ayah.


"Sudah selesai!"


Para penjaga tahu jika orang yang berada di dalam kereta kuda adalah Donovan. Menantu dari keluarga Meiter.


Leo segera masuk diikuti oleh ayah dan ibu.


Namun ayah berhenti sebentar untuk memperlihatkan kartu pengenalnya.


"ah.. Tidak perlu tuan. Anda bisa langsung masuk ke kota!"


"ooo... Ya sudah!"


Mereka melanjutkan perjalanan dengan Leo yang penasaran dengan sikap dari para penjaga.


"kapten yakin, jika dia adalah Leonardo Donovan yang asli?"


"awalnya aku juga ragu. Namun saat aku memeriksa kartunya, kartu tersebut tidak berwarna hitam. Melainkan berwarna merah. Lalu ditambah lagi tuan Donovan juga memanggilnya dengan panggilan Leo. Itu menjadi penjelasan kalau dia memang Leonardo Donovan yang asli."


Pembicaraan penjaga segera dihentikan dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka.


Leo, ayah, dan ibu sampai di kediaman keluarga Meiter.

__ADS_1


Seorang penjaga langsung pergi untuk memberitahu kedatangan Leo kepada kepala keluarga.


Diego Meiter yang sedang melakukan pekerjaannya segera meninggalkan semua itu dan pergi untuk menemui cucunya.


"Leo! Akhirnya kamu berkunjung lagi. Aku kira kamu sudah lupa dengan kakemu ini."


Leo turun dari kuda dan berjalan mendekat kepada kakek.


"kakek berpikir terlalu aneh! tidak mungkin aku bisa lupa dengan kakek! Aku lama tidak datang karena memang sangat sibuk!" jawab Leo.


Ibu dan ayah turun dari kereta. Dengan bantuan ayah yang menjaga keseimbangan ibu, ibu berjalan dengan perlahan.


"huh... Sudah aku bilang untuk jangan pergi keluar bukan? Kalau terjadi apa-apa dengan cucuku bagaimana?" kakek menghela napas menanggapi perilaku anak dan menantunya ini.


Mendengar ucapan kakek, ibu tidak terima. "jadi ayah tidak peduli denganku?"


"eh.. Bukan begitu maksudku. Aku juga pasti khawatir denganmu." kakek membela diri.


"bagaimana dengan aku?" ayah ikut membuka suara.


Dengan tatapan mata tak peduli, kakek menjawab. "kau mati pun aku tidak peduli!"


"haah.. Kejam seperti biasa."


"Sudah! ayo masuk. Sebentar lagi gelap. Jangan sampai Liana dan calon bayinya kedinginan!"


Mereka masuk kedalam.


Lalu Leo seperti biasa berada di ruang kerja Diego.


"kau ini selalu kemari. Kakek jadi tidak bisa fokus untuk mengerjakan pekerjaan kakek."


Kakek merasa terganggu dengan kehadiran Leo yang selalu membawa berita, masalah, dan ide yang bermasalah.


"hahah... Aku hanya ingin membicarakan sesuatu dengan kakek."


Perasaan Diego sudah tidak enak saat Leo ingin membicarakan sesuatu dengannya.


"huh.. Apa itu?"


"ada kejadian apa di kota ini?"


Leo penasaran dengan sikap para penjaga yang tampak ketakutan setelah melihat kartu guildnya.


"memang ada apa?"


"tadi saat para penjaga gerbang melihat kartu guild ku, mereka tampak ketakutan. Itu aneh mengingat dulu mereka tidak sampai seperti itu."


Diego mencoba mengingat-ingat tentang hal yang berhubungan dengan Leo.


Hingga ia mengingat sesuatu yang terjadi di guild.

__ADS_1


"ahahah... Kamu nanti juga akan tahu sendiri."


__ADS_2