Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
84. Penyiksaan.


__ADS_3

Leo akhirnya menepuk wajah mereka.


"ergh.."


Mereka bangun dengan mata yang sayup dan lemas.


Dengan membuka mata mereka melihat ruangan yang sangat gelap dengan Leo yang berada di hadapan mereka.


"apa yang akan kau lakukan dengan kami?"


"tidak ada! Hanya mengajukan beberapa pertanyaan saja!"


Jawaban Leo membuat pemimpin dari assasin tersebut tertawa. Karena apa yang dilakukan oleh Leo adalah hal yang sia-sia. Ia sangat yakin dengan kesetiannya terhadap organisasi.


"hahahaha.. Percuma kamu melakukan ini. Kami tidak akan pernah menjawab pertanyaanmu. Lebih baik bunuh saja kami."


Leo tersenyum mendengar ucapan pemimpin assasin.


"haha.. Terlalu mudah jika membiarkan kalian mati begitu saja. Aku bukan orang yang mau repot-repot membiarkan kalian hidup jika hanya akan membunuh kalian. Setidaknya kita akan memainkan sebuah permainan."


"permainan?"


Kedua assasin tersebut penasaran dengan permainan yang Leo maksud.


"apa maksudmu?"


Senyum sinis menghiasi wajah Leo.


"hihi.. Permainan ini sangat sederhana. Aku akan. Mengajukan pertanyaan. Siapa yang lebih cepat menjawab, maka dia yang akan bebas. Dan yang telat menjawab, maka akan ada hukuman. Jika tidak ada yang menjawab, maka semua akan dihukum."


"gulp.."


Pemimpin assasin dan anggotanya menjadi merinding mendengar ucapan Leo. Seakan mereka tahu apa yang Leo maksud.


Dengan posisi bersandar pada penghalang, kedua assasin tersebut bersiap dengan permainan Leo.


"kalau begitu, kita mulai ronde pertama. Dari organisasi mana kalian berasal?"


Mendengar pertanyaan pertama Leo, mereka tak peduli sama sekali.


"aku tidak akan menjawab!" ucap anggota assasin.


"apa lagi aku! Sampai kapanpun aku tidak akan menjawab."


Mendengar jawaban mereka yang tidak memuaskan, Leo memutuskan jika ronde pertama gagal.


"huh.. Baiklah! Kalian gagal menjawab pertanyaan ini. Jadi kalian berdua yang akan aku beri hukuman."


Kedua assasin tersebut penasaran dengan hukuman yang Leo maksud. Hingga secara spontan mereka berteriak sangat keras.


"argh...."


"argh...."


Mereka sangat kesakitan pada bagian kaki mereka. Lebih tepatnya pada ujung jari yang kukunya Leo cabut.


Darah mengalir dengan deras setelah kuku mereka lepas dari jarinya.


"huh.. Ternyata kuku kalian cukup panjang!"


Mereka melihat Leo sedang memegang kuku mereka lalu membuangnya ke belakang.


Dengan menahan sakit pada jari, mereka mencoba mengatur napas untuk menenangkan diri setelah terkejut atas hukuman yang Leo berikan.

__ADS_1


"ronde kedua! Siapa yang mengirim kalian untuk membunuhku?"


Rende kedua sudah dimulai dan pertanyaan Leo sudah dilontarkan. Namun mereka masih tidak mau buka mulut setelah merasakan hukuman yang Leo berikan.


"aku hitung sampai 5. Jika tidak ada yang menjawab, maka aku akan menganggap kalian gagal pada ronde ini."


"1!


2!


3!


4!


5!"


Setelah Leo menghitung sampai lima, mereka masih tidak memberikan jawaban.


"huh.. Karena kalian gagal, maka aku akan mengganti hukumannya."


Mereka menjadi khawatir setelah mengetahui hukuman dari Leo diganti. Apa lagi siksaan yang akan Leo berikan.


Leo mendekat ke pemimpin assasin. Lalu tanpa aba-aba, Leo mencabut semua kuku yang ada di kaki pemimpin assasin.


" arghh...... "


Suara teriakan terdengar sangat keras.


Pemimpin assasin tidak tahan dengan rasa sakit yang Leo berikan. Membuatnya berteriak sekeras-kerasnya.


Tak sampai disitu, Leo mengeluarkan palu kecil dan memukul kaki yang sudah penuh dengan darah tersebut dengan pelan. Tepat pada bagian yang sebelumnya terdapat kuku.


"argh..."


"ergh..."


"ini lebih baik!"


Leo kembali fokus pada kaki yang ia siksa.


Leo mengeluarkan pisau kecil lalu mengarahkan pada lutut pemimpin assasin.


Sayatan tak dalam melukai kulit kaki. dan Leo lakukan sampai melingkar di antara lutut.


Pemimpin assasin tersebut menahan rasa sakit yang amat besar. Namun tak bisa berbuat apa-apa.


Setelah itu, Leo memisahkan kulit dari daging kaki ke bawah. Hingga kulitnya dapat Leo pegang dengan cukup kuat.


"jrek..."


Leo menarik kulit kaki tersebut hingga mengelupas dan menampakkan daging serta tulang yang berlumuran darah.


"ergh...."


Air mata mengalir dari mata pemimpin assasin.


Sementara anggotanya yang berada di sampingnya melihat pemimpinnya sedang di siksa oleh Leo hanya bisa gemetaran menunggu giliran dari dirinya.


Leo kembali melakukan hal yang sama pada kaki satunya.


" ergh..."


Rasa sakit kembali menyerang pemimpin assasin. Bahkan sampai membuatnya hampir tidak bisa menggerakkan kakinya.

__ADS_1


"hem... Jadi seperti ini kulit kaki manusia."


Leo mengangkat kedua kulit yang ia pisahkan seakan itu adalah kaos kaki.


Merasa sudah tidak tertarik lagi dengan kedua kulit tersebut, Leo melemparnya ke belakang.


"apa kau mau buka mulut atau tidak! Karena setelah ini aku ada urusan."


Dengan ekspresi kesakitan, marah, dan sedih ia menggelengkan kepala.


Namun bukannya kasihan. Leo malah semakin bersemangat untuk menyiksanya.


Akhirnya Leo mengeluarkan palu lebih besar dan menghantamnya pada setiap tulang mulai dari jari kaki.


" jleg.. Jleg.. Jleg.. Jleg.."


Satu persatu tulang yang diselimuti daging dibuat hancur. Darah mengalir kemana-mana. Bahkan wajah pemimpin assasin tersebut sudah mulai pucat.


"heal.."


Leo menggunakan sihir pemulihan untuk tetap membiarkan pria tersebut dalam keadaan sehat. Namun lukanya masih sama.


"permainan masih lama. Jadi jangan pikir kau bisa mati begitu saja!"


Kaki sudah hancur mengisahkan tulang kering, betis, dan paha. Lalu Leo mengeluarkan palu besar dan langsung menghantamkan pada tulang kering yang secara bersamaan membuat daging kaki tersebut berserakan.


"jleg.."


"ergh.."


Cipratan darah membawahi wajah Leo. Membuatnya terlihat lebih seperti anak iblis ketimbang anak manusia. Ditambah senyum lebarnya yang menyerahkan seperti Leo sudah gila.


Tak sampai disitu, Leo menggunakan pisaunya dan membuat sayatan di perut. Membuat organ pencernaan terlihat. Bahkan Leo memasukkan tangannya dan mengeluarkan organ-organ tersebut.


"ergh.."


Tak terbayang rasa sakit yang pemimpin assasin rasakan. Dirinya yang masih hidup harus merasakan bagaimana rasanya organ dalam keluar.


Leo yang tersenyum menikmati perbuatannya ini. Ia tidak menyangka jika menyiksa manusia akan sangat menyenangkan.


Dengan wajah penuh darah dan senyuman mengerikan Leo menoleh ke arah assasin satunya.


"tenang saja! Setelah ini adalah giliranmu."


"gulp.."


Mata assasin tersebut melebar tak percaya. Apa yang ia buru adalah predator yang sebenarnya. Bahkan predatir lebih baik ketimbang perbuatan Leo.


Badannya bergidik ngeri dan gemetar tidak menentu. Jantungnya berdecak kencang seakan mau meledak. Melihat ekspresi yang Leo tunjukkan.


Leo menoleh kembali ke arah pemimpin assasin yang sudah sekarang akibat kesulitan bernapas.


"huh.."


"jleb.."


Pisau Leo tancapkan pada jantung dan membuat pemimpin assasin tewas.


Melihat jika pemimpinnya tewas, assasin yang tersisa semakin panik saat akan menjalani siksaan yang sama.


"pemimpinmu sudah mati. Sekarang giliran kamu."


________________________________________________

__ADS_1


__ADS_2