Cheater: Petualangan Langit Kedua

Cheater: Petualangan Langit Kedua
34. Duel Sparing.


__ADS_3

Arena duel sudah siap. Kini Leo berhadapan dengan seorang prajurit yang menggunakan pedang kayu. Prajurit tersebut tampaknya meremehkan Leo.


"bocah sepertimu ingin berduel dengan kami? Sepertinya orang tamu tidak mengajarkan tentang perbedaan kekuatan."


Leo hanya diam tanpa menanggapi ucapan lawannya. Ia menunggu wasit untuk memulai duel.


"kita lihat kemampuan dari anak buah Leonardo." Duke Gustaf sudah penasaran.


Seorang anak laki-laki di samping nona Rosa bertanya kepadanya. "kakak. Menurut kakak apakah anak itu bisa mengalahkan prajurit ayah?" anak tersebut adalah Fajar Gustaf. Anak termuda dari putra Duke Gustaf.


"tentu saja. Aku sudah melihat kemampuan darinya lebih hebat dari pengawalku." nona Rosa mendukung Leo dalam duel ini.


Mendengar jawaban nona Rosa, duke Gustaf semakin bersemangat untuk menyaksikan duel ini.


Pemimpin prajurit yang akan menjadi wasit kali ini maju ke arena. "bersiap! Mulai!"


Wasit memulai duel lalu menjauh dari arena. "mari kita lihat kemampuan anak kecil ini."


"kau yakin tidak mau menggunakan senjata?" lawan Leo mencoba menawarkan untuk Leo mengambil senjata. Agar duel menjadi agak seimbang pikirnya.


"tanpa senjata pun aku masih bisa bertarung melawanmu!"


Prajurit yang menjadi lawan Leo kesal dengan sikap Leo yang ia anggap sombong. "Kalau begitu, jangan salahkan aku jika tidak memberimu kesempatan."


Prajurit tersebut berlari menuju Leo dan bersiap menyerangnya.


Leo menilai serangan prajurit yang menjadi lawannya. 'langsung menyerang tanpa pertahanan. Banyak celah untuk bisa menyerangnya. Apakah hanya segini kemampuan prajurit Duke?'


Jarak Leo dan lawan hanya tinggal satu meter. Lawan menyerang dengan gerakan vertikal. Namun sebelum mengenai kepala Leo, Leo menghilang dari pandangan prajurit.


Serangan prajurit hanya mengenai angin. Prajurit terkejut saat Leo ternyata sudah tidak berada pada tempatnya.


Bukan hanya prajurit yang menjadi lawan Leo. Namun semua orang kecuali nona Rosa sangat terkejut dengan kemampuan Leo.


Leo lalu muncul dibelakang lawannya lalu memukul tengkuk belakang hingga membuat prajurit tersebut tidak sadarkan diri. "pertahannmu terbuka lebar."


Semua orang terdiam menyaksikan kemenangan Leo yang sangat mudah.


"bagaimana bisa itu terjadi?"


"gerakanya sangat cepat untuk anak kecil."

__ADS_1


Bahkan seorang tentara terlatih tidak mungkin memiliki kecepatan seperti itu. "


Para prajurit berkomentar dan terkejut dengan kemenangan Leo.


" ini mulai menjadi menarik!" Duke Gustaf sekarang kagum dengan kemampuan Leo. Ia tidak menyangka jika seorang anak mampu mengalahkan salah satu prajuritnya dengan sangat mudah.


Pemimpin prajurit yang memilih lawan untuk Leo merasa tertipu dengan umur Leo. Kemampuannya memang tidak bisa dianggap mereh. Sekarang ia menyuruh prajurit terbaiknya untuk menjadi lawan Leo.


Seorang prajurit dengan badan berotot maju. "aku adalah prajurit terbaik di pasukan ini. Sebaiknya kau ambil sejatamu karena aku tidak akan main-main dalam duel ini."


Leo masih menolak untuk menggunakan senjata karena ia yakin dengan kemampuannya.


Duel kembali dimulai. Berbeda dengan yang tadi, prajurit yang menjadi lawan Leo kali ini cukup waspada.


Ia tidak memulai serangan terlebih dahulu. Melainkan mendekat untuk memperpendek jarak dengan Leo.


Leo masih diam tak bergerak dari tempatnya. Ia menunggu jarak yang tepat untuk mulai menyerang.


Jaraknya dengan lawan semakin dekat. Hingga sekarang tinggal dua meter.


Tanpa menunggu serangan dari lawan, Leo kembali menghilang dari pandangan.


Menyadari Leo hilang, prajurit tersebut tersenyum karena menganggap Leo menggunakan cara yang sama. 'cara yang sama tidak akan berhasil untuk kedua kalinya.


Dengan sekuat tenaga Leo menyerang kaki lawannya hingga membuatnya terjatuh. Lalu ia menendang tangan yang sedang memegang pedang. Hingga pedangnya terlempar jauh keluar arena.


Kemenangan kembali di raih oleh Leo.


"jangan terlalu memikirkan kemampuan lawan."


Semua orang tertegun dengan kemenangan kedua Leo. Mereka tidak menyangka jika kemampuan Leo jauh dari perkiraan mereka.


Merasa jika prajuritnya tidak mampu melawan, pemimpin prajurit mengambil alih duel. Sekarang ia yang akan menjadi lawan duel Leo.


"aku tidak menyangka kalau kemampuanmu jauh dari perkiraanku. Sebagai pewaris keluarga Gustaf, aku merasa tertantang untuk bisa mengalahkanmu dalam duel kali ini." pemimpin prajurit ternyata adalah putra pewaris dari Duke Gustaf.


Leo terkejut dengan pernyataan tersebut. Ia tidak menyangka jika orang yang menjadi lawannya kali ini adalah pewaris langsung.


Leo menoleh ke arah Duke Gustaf untuk bertanya mengenai kebenarannya. Namun wajah Duke terlihat bersemangat dengan duel kali ini yang menandakan jika orang yang didepannya memang benar seorang pewaris.


Duke Gustaf maju ke arena untuk menggantikan putranya sebagai wasit.

__ADS_1


"kemampuanmu membuatku tertarik. Apalagi kau mengalahkan prajurit terbaik tanpa menggunakan senjata. Sekarang kau akan melawan putraku Erfan Gustaf. Apa kau tidak berniat menggunakan senjata?"


"tidak perlu!" Leo optimis untuk tidak menggunakan senjata. Ia juga penasaran dengan kualitas bertarung dari seorang pewaris.


"hehe.. Kalau begitu, pertandingan saya mulai."


Duel kembali dimulai. Leo tampak waspada dengan kemampuan dari Erfan. Mengingat jika ia adalah seorang pewaris. Tentu kemampuan bertarungnya tidak biasa.


Erfan menggunakan sihir untuk memperkuat tubuhnya. "Rock Body."


Tubuhnya mulai diselimuti oleh mana. Mana bergerak berpusat menuju ke badan. Lalu membentuk sebuah armor tipis transparan.


Erfan mengambil kuda-kuda lalu mulai mendekat ke arah Leo.


Leo masih diam untuk memperhatikan serangan Erfan. Namun tampaknya Erfan cukup belajar dari pertandingan sebelumnya. Sekarang Leo hampir tidak menemukan celah untuk menyerang.


Namun bukan Leo jika ia tidak mampu menemukan cara untuk bisa mengalahkan lawan didepannya.


Leo mulai bergerak mendekat. Hal tersebut menyebabkan Erfan semakin waspada. Erfan menghentikan langkahnya dan masuk mode bertahan terhadap serangan yang akan Leo lancarkan.


Leo berjalan semakin dekat hingga jarak dimana ia bisa melakukan serangan. Satu pukulan menggunakan tangan kiri menargetkan wajah Erfan dengan cepat.


Dengan reflek yang baik, Erfan berniat menangkis serangan Leo menggunakan pedangnya. Namun gerakan selanjutnya membuat Erfan sangat terkejut.


Sebelum serangan tangan kiri Leo menyentuh pedang Erfan, Leo menarik kembali tangannya dan mengangkat kaki kanan.


Karena pedang yang Erfan pegang digunakan untuk mencoba menahan pukulan Leo, sekarang ia tidak memiliki pertahanan lain selain skill Rock Body.


Hingga tendangan Leo dengan cepat mengenai kepala Erfan dengan sangat keras. Serangan tersebut membuat Erfan kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.


Semua orang tertegun dengan gaya bertarung Leo. Apalagi lawannya menggunakan pedang dan memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dan besar.


Duke Gustaf bahkan tidak menyangka anaknya yang merupakan seorang ksatria pedang yang cukup ahli berhasil Leo kalahkan hanya dengan tangan kosong. Atau lebih tepatnya kaki kosong.


_____________________________________________


Pleasee....


Butuh semangat buat bikin chapter.


Yang baca tolonglah untuk like dan komen apapun.

__ADS_1


See you next chap.. 😁


__ADS_2