
Ibu dan Leo sampai di kamar.
Ibu lantas melepaskan sepatu dan jubah milik Leo. Lalu membaringkan Leo yang masih setengah sadar ke tempat tidur.
Ibu juga ikut berbaring di samping Leo.
Leo tidak merasa canggung saat menyadari jika dirinya akan tidur bersama ibunya. Namun ia merasa seperti melupakan sesuatu.
"apa ibu merasa ada yang kita lupakan?"
Ibu mencoba berpikir apa yang ia lupakan. Namun tidak mengingat apa pun.
"tidak! Sudah. Jangan terlalu banyak berpikir. Kamu tidur saja dulu."
Mendengar jawaban ibu, Leo menurut dan memeluk ibu lalu tertidur.
Ibu melihat wajah Leo yang masih imut. Ia tersenyum dan membelai punggung Leo untuk membuat Leo menjadi nyaman.
Ibu menutup mata dan tak lama ia juga tertidur.
*
Keesokan paginya, Leo terbangun dalam pelukan ibu.
Ia menoleh kearah wajah ibu dan mendapati jika ibu sudah bangun.
"putra ibu sudah bangun? Bagaimana tidurnya? Apakah nyenyak?" Suara ibu menyambut bangunnya Leo.
Leo yang masih memeluk ibunya mengangguk. "iya. Leo sudah tidur nyenyak!"
Ibu senang mendengar jawaban anaknya.
"ya sudah. Cepat bangun dan sarapan. Kamu belum makan sejak acara kemarin. Jadi kamu pasti lapar."
Leo menyangkal jika dirinya sudah lapar. "tidak! Leo belum lapar."
Namun perutnya tidak bisa berbohong. Suara perut Leo yang keroncongan terdengar jelas.
"kruyuk.. Kruyuk.."
Leo menjadi malu setelah berkata tidak lapar namun perutnya malah berbunyi. "mungkin!"
Ibu tertawa melihat tingkah anaknya.
"sepertinya kamu memang tidak punya bakat dalam berbohong."
Ibu bangun dari tempat tidur dan pergi keluar agar tidak mengganggu aktivitas Leo setelah bangun tidur.
"ibu tunggu di ruang makan ya!"
Leo terduduk dengan mata yang berat sambil mengumpulkan nyawa yang entah hilang kemana saat ia tidur. Ia lantas mengucek matanya untuk menghilangkan kotoran mata setelah bangun.
Leo beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Setelah mandi, badan Leo terasa lebih segar. Ia memakai jubahnya dan pergi ke ruang makan.
Sampai di ruang makan, ia sudah di tunggu oleh semua orang.
"selamat pagi!" Leo memberikan salam kepada semua orang.
__ADS_1
"pagi Leo!"
"sini!" ibu menyuruh Leo untuk segera duduk di tempatnya.
Sarapan akan segera dimulai namun Diego melihat satu kursi kosong.
Ia berpikir siapa yang belum hadir di sini hingga ia mengingat menantu laki-lakinya.
"Dimana Donovan?"
"bukankah Liana tidur dengan Donovan semalam?" Ucap nenek Leo.
"tidak! Ibu tidur denganku di kamar!" Leo membantah jika ibunya tidur dengan ayah.
Ibu langsung teringat jika ayah juga tertidur di dalam kereta. Namun karena ia mengantar Leo ke kamar, ia sampai lupa dengan suaminya itu.
"ara.." ibu merasa kasihan dengan ayah yang tidur di kereta.
Hingga terdengar suara keributan dari luar.
"Aaaaaaaaaaaaa........."
Mendengar suara ayah berteriak, ibu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
Pintu terbuka dengan cukup keras. Menampilkan ayah dengan rambut kacau.
"hah..hah.. kenapa aku tidak dibangunkan?" ayah terengah-engah karena berlari dari tempat penyimpanan kereta sampai ke ruang makan dengan sangat cepat.
Ibu yang sudah melupakan ayah langsung meminta maaf. "maaf sayang! Aku lupa jika kamu juga tertidur."
"memang kamu tidur dimana?" kakek penasaran dengan tempat ayah tertidur.
"jadi kamu semalaman tidur disana?"
"iya!"
"ha hahahaha...." semua orang yang berada di ruang makan menertawakan apa yang telah menimpa ayah.
"lalu kamu kemana sampai lupa jika aku juga tertidur?"
Ibu menjawab pertanyaan ayah. "aku mengantar Leo untuk tidur di kamarnya."
Ayah melirik kearah Leo. Leo yang di lihat oleh ayah hanya mengacungkan dua jarinya.
"lalu siapa yang terakhir menutup pintu kereta?"
"Jack!" sekarang giliran kakek yang menjawab.
Mengetahui jika Jack pelakunya, ayah menjadi kesal setelah menjadi korban kejahilan Jack.
"jaaaaaaaccccckkkkkk......."
Ayah berteriak sekencang-kencangnya. Bahkan Jack dan yang lain sedang berada di lapangan untuk latihan pagi dapat mendengar teriakan ayah.
Mereka lantas menatap Jack ingin tahu apa yang terjadi.
Jack yang merasa jika kejahilannya berhasil, ia menceritakan semua itu kepada yang lain.
Setelah bercerita tentang ayah yang sedang tertidur dan Jack tidak membangunkan hingga ayah harus tidur di dalam kereta membuat mereka semua tertawa dengan puas.
__ADS_1
*
Setelah sarapan, ayah dan ibu kembali ke wilayah mereka. Sementara Leo, dan pasukannya sedang melakukan rapat di ruangan kerja kakek.
Kakek Diego merasa sangat pusing dengan mereka yang selalu melakukan pertemuan di ruang kerjanya.
"kenapa kalian selalu melakukan pertemuan di sini?"
Leo yang mendengar nada kesal kake hanya menjawab. "karena disini sangat nyaman!"
Kakek semakin pusing dengan perilaku cucunya.
Diego Meiter menghela napas untuk menenangkan diri. "huh... Lalu bagaimana dengan pertemuanmu bersama Yang Mulia?"
Kakek penasaran dengan apa yang Leo bicarakan dengan raja. Bahkan Jack dan yang lain juga ikut penasaran.
Leo menjadi serius dengan apa yang akan ia bicarakan.
"kami berbicara sedikit tentang situasi para bangsawan. Dan setelah menilai semua informasi, Yang Mulia Raja memutuskan untuk mempercepat penaklukan kota Kenji."
Semua orang menjadi serius dengan apa yang Leo katakan.
"seburuk itukah situasinya?"
"iya."
Jack yang dari tadi ingin bertanya segera membuka suara. "Kalau begitu, kapan kita akan melakukan penyerangan?"
Leo tersenyum mendengar pertanyaan Jack.
"kita akan melakukan penyerangan pada..."
Semua orang menunggu Leo untuk memberitahu mereka waktunya.
"besok pagi!"
"apa?" semua orang langsung terkejut dengan pernyataan Leo.
"kau yakin jika akan melakukan penyerangan besok pagi?" kakek memastikan bahwa Leo serius dengan ucapannya.
"tentu saja."
"jadi, kita berangkat sekarang?" Elena memastikan jika mereka akan pergi pagi ini. Mengingat perjalanan menuju ke kota Kenji membutuhkan waktu satu hari.
"iya! Karena itu persiapkan senjata dan Armor kalian. Kita berangkat setelah kalian siap."
"baik!" anggota Korps Leonardo bersiap menuju ke tempat penyimpanan senjata lalu mempersiapkan kuda.
Kecuali Phinix yang masih berada di samping Leo karena memang dia tidak memerlukan persiapan sama sekali.
"huh.. Aku tidak menyangka jika kamu akan melakukan pertempuran pertamamu sekarang." kakek merasa tidak percaya dengan apa yang Leo lakukan sekarang.
Untuk pertama kalinya Leo benar-benar akan memasuki medan perang. Meski masih berada di wilayah kerajaan sendiri.
" aku juga tidak menyangka jika aku akan melakukan pembunuhan besok."
Leo yang sebelumnya tidak pernah mengalami konflik bersenjata di kehidupan sebelumnya, merasa jika ia akan menjadi sosok yang berbeda. Bahkan sekarang ia tidak merasa ragu sama sekali untuk membunuh manusia.
Semua persiapan selesai. Dan mereka berkumpul dihalaman. Lengkap dengan senjata dan jubah kebesaran Korps Leonardo.
__ADS_1
Dengan menggunakan kuda mereka berangkat dengan sangat cepat untuk mencapai tujuan mereka yaitu kota Kenji.