
"Lain kali, tidak usah menyiapkan makanan untukku. Nanti aku akan mengambilnya sendiri. Apalagi, jumlah makanan yang kamu siapkan terlalu banyak untuk di muat oleh perutku."
Mendengar ucapan Leo, ia menjadi merasa sedih. Ia merasa jika dirinya melakukan kesalahan yang tidak disukai oleh tuannya.
" baik tuan."
Phinix menunduk dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Leo yang melihat Phinix menunduk, merasa penasaran alasan dari Phinix. Ia tidak mengerti kenapa dirinya menjadi terlihat cukup sedih.
Leo tersenyum dan berkata. "tapi karena kau sudah niat menyiapkan semua ini, maka aku akan memakan semuanya. Namun kau harus membantuku untuk menghabiskan makanan ini. Aku tidak ingin ada yang terbuang."
Phinix masih menunduk mendengar ucapan Leo.
Melihat tidak terjadi perubahan pada sikap Phinix, Leo mendekat lalu memeluk Phinix. Meski yang ia peluk adalah bagian perut.
"tidak apa! Aku hanya tidak suka jika diatur soal makan. Jadi aku hanya akan makan sesuai dengan apa yang aku inginkan."
Phinix masih dengan sikap yang sama. Namun dengan pandangan mengarah ke Leo yang berada di bawah dadanya.
Leo menoleh keatas untuk memastikan keadaan Phinix. Namun pandangannya terlahang oleh dua gunung raksasa.
' besar!'
Leo sedikit mundur agar dirinya bisa melihat wajah Phinix dengan jelas.
"kamu kenapa? Tidak perlu sedih hanya karena tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Setidaknya kau sudah memiliki niat baik. Meski caranya salah."
Mendengar ucapan Leo sekaligus menatap wajahnya, Phinix akhirnya membuka suara.
"saya tidak bersedih karena tuan kecewa dengan inisiatif saya. Karena saya tahu jika tuan tidak akan mempermasalahkan hal ini terlalu dalam."
"lalu kenapa kau bersedih?"
Leo menanyakan alasan Phinix miring selain karena dirinya.
"itu karena saya merasakan sesuatu di bagian bawah perut! Rasanya cukup sakit meski tidak terlihat terluka. Namun itu membuat saya kurang nyaman."
Leo terkejut karena menyadari jika Phinix murung karena sedang menstruasi.
"ooo... Jadi kamu sedang menstruasi? Aku lupa jika ini pertama kalimu mengalaminya."
Leo segera mengubah ukuran tubuhnya menjadi lima tahun lebih tua. Wujud yang pernah ia gunakan saat melawan Phinix di gunung Phoenix.
Leo menarik Phinix ke dalam dekapannya.
" tidak apa! Itu sudah biasa terjadi diantara para wanita. Namun jika rasa sakitnya semakin terasa, sebaiknya kamu konsultasi dengan Elena dan Sylf. Mereka tentu sudah sering mengalami hal yang sama."
Sambil mengelus kepala Phinix, Leo juga sekalian menikmati tekanan tinggi dari kedua gunung agung.
Phinix balik memeluk Leo dengan cukup erat. Menambah tekanan di bagian dada.
" terima kasih tuan! "
Kemudian Phinix segera melepaskan pelukannya bersama Leo.
"jadi sekarang kita segera makan. Karena aku ingin bersantai nanti malam."
Leo berjalan lalu duduk di kursi yang telah Phinix siapkan.
"apa tidak masalah jika saya makan bersama anda?"
__ADS_1
"tentu saja tidak masalah. Lagi pula hanya kamu yang berada di sini."
Phinix tersenyum lalu duduk di kursi yang bersebrangan dengan Leo.
Akhirnya mereka makan dengan sangat senang.
*
Jack, Sylf, Elena, dan Brock berada di salah satu bangunan dekat dengan dapur darurat. Mereka makan bersama setelah memberikan makanan untuk para pekerja.
Sementara para pekerja sedang bersiap untuk menyambut malam.
Beberapa ada yang mandi di salah satu sumur. Sementara ada yang sedang melakukan bersih-bersih alat dapur yang sudah kotor.
"Dimana Phinix dan tuan Leo?"
Jack penasaran dengan keberadaan kedua orang itu.
"sepertinya mereka sedang makan bersama. Soalnya tadi aku melihat jika Phinix membawa makanan dalam jumlah besar."
Elena menjawab pertanyaan Jack sebagai yang terakhir melihat Phinix.
"hemm... Sepertinya ada hubungan khusus di antara mereka! Apakah akan ada skandal?"
Jack semakin penasaran dengan hubungan diantara Leo dan Phinix.
"skandal apaan? Mereka kan memang dari awal sangat dekat! Bahkan beberapa kali tuan Leo tidur dalam satu kamar dengan Phinix.
Namun jika memang ada hubungan khusus seperti cinta, itu memang wajar. Mengingat jika tuan Leo sangat hebat dari segala aspek. Meski ia masih sangat muda." Sylf merasa tidak terlalu antusias dengan kisah asmara tuannya.
Mendengar jawab dari Elena dan Sylf, Jack merasa tidak bersemangat dengan pembicaraan mereka.
"tak..
"buk..
" jangan sebut kami tua! "
Dua suara tinju terdengar sangat keras karena kesalahan Jack sendiri. Apa lagi mengatakan kalimat yang menjadi pantangan saat berbicara dengan wanita.
Elena dan Sylf kembali melanjutkan makan mereka. Sementara Jack masih merasakan sakit dibagian kepalanya.
Brock yang melihat perilaku mereka bertiga merasa sangat bahagia. Sudah lama mereka tidak merasakan kebahagiaan seperti ini.
*
Kembali ke Leo.
Setelah Leo dan Phinix selesai makan, Phinix langsung membereskan peralatan makan. Sementara Leo menuju ke tempat bar.
Tentunya dengan wujud aslinya.
Tanpa sadar ia sudah memegang segelas wine yang ia racik sendiri. Meski racikan yang ia gunakan hanya asal campur.
"tunggu! Sejak kapan aku mulai kecanduan alkohol?"
Meski mengatakan itu, ia masih meminum wine tersebut.
Lalu datang Jack, Brock, Elena, dan Sylf. Dan tentu saja Phinix yang menjadi lebih dekat dengan Elena dan Sylf.
"bagaimana dengan para pekerja?" Leo ingin tahu keadaan di tempat para pekerja.
__ADS_1
"kebanyakan sudah istirahat. Sementara beberapa saya suruh untuk berjaga. Tentunya dengan senjata serta panci jika terjadi serangan."
Leo mengangguk mengerti. Lalu pandangannya beralih ke tiga wanita yang sudah sangat dekat. Bajakan sepertinya mereka sedang bergosip.
"ada apa dengan kalian bertiga?"
Mereka bertiga menoleh ke arah Leo. Namun ekspresi mereka membuat Leo terheran-heran.
Dimana Elena dan Sylf menunjukkan ekspresi aneh. Campuran dari terkejut, bangga, curiga, dan senang.
Sementara Phinix melihat ke arah Leo Dengan ekspresi wajah malu. Serta pipinya berubah warna menjadi merah.
Saat tatapan Phinix bertemu dengan Leo, ia segera menunduk karena merasa sangat malu.
Leo yang penasaran ingin sekali menggunakan kemampuan dari sihir budaknya untuk mengetahui pikiran Phinix.
Namun ia urungkan agar tidak terlalu mencampuri privasi Phinix.
Leo hanya menghela napas lalu menggelngkan kepalanya. 'ada-ada saja'
Ia lantas kembali berhadapan dengan Jack dan Brock.
"kalian ingin minum apa?" Leo menawarkan minuman untuk Jack dan Brock.
Mendapat tawaran dari Leo, Jack tidak sungkan.
"kalau begitu, saya ingin minuman spesial. Dengan kadar alkohol rendah."
Leo cukup heran Jack memesan minuman dengan alkohol kadar rendah.
"tumben kau minuman yang lembut. Biasanya minum yang paling keras."
"ahahah... Itu karena saya hanya ingin menjaga performa saja."
Leo lalu menoleh ke Brock.
"kalau Brock minum apa?"
"Ho..!" Brock menepuk bahu Jack dan menunjuknya.
"kalau begitu minuman yang sama!"
Brock mengangguk.
"kalau begitu, tunggu sebentar!"
Leo segera membuat minuman wine yang dicampur dengan setengah gelas perasan lemon.
Lalu ia sajikan di dalam gelas ber ukuran sedang.
"silahkan!"
"terima kasih!"
"ho..!"
Jack dan Brock mencicipi minuman buatan Leo. Dan tak menyangka jika rasanya lumayan enak.
Lalu Leo kembali duduk dan seperti mengingat sesuatu.
"tunggu! Sejak kapan aku jadi bartender?"
__ADS_1