
"apa maksud kakek?"
Leo menjadi penasaran dengan apa yang terjadi. Namun tampaknya Diego tidak ingin memberitahu Leo langsung. Melainkan membiarkan Leo mengetahuinya sendiri.
"Sudah! Lupakan saja.
Kamu berapa lama disini?"
"sampai besok!"
Menurut Diego waktu yang akan dihabiskan oleh Leo terlalu singkat. Ia masih ingin bersama dengannya.
"kenapa cepat sekali? Kenapa tidak sampai minggu depan?"
"karena aku harus melakukan perjalanan menuju Ibukota kerajaan."
Diego mengingat tujuan Leo menuju ibukota.
"kau akan melakukan peresmian?"
"iya!"
"baguslah! Lebih cepat lebih baik!"
Beberapa pembicaraan mereka lakukan. Hingga Leo mengingat salah satu tujuan ia melakukan perjalanan.
"oh iya! Apa kakek tahu kelompok yang bisa membantu menjadi pemasok makanan?"
"pemasok?"
Diego berpikir tentang kelompok yang bisa memasok makanan untuk kota Kenji.
"hemm... Aha! Ada satu kelompok yang cocok untuk menjadi pemasok."
Leo menjadi bersemangat setelah Diego menemukan pemasok untuk kotanya.
"siapa mereka?"
"keluarga Artim!"
Leo terkejut saat nama keluarga bangsawan yang ia kenal disebutkan.
"apa? Keluarga Artim? Kakek tidak bercanda?"
"apa kau pikir aku ini tipe orang yang suka bercanda?"
Leo menggelengkan kepalanya.
'keluarga Artim ya! Ini akan lebih merepotkan.'
"Tapi kenapa mereka bisa menjadi pemasok makanan?"
Leo ingin tahu alasan Diego merekomendasikan keluarga Artim. Mengingat mereka berpusat di Ibukota kerajaan. Wilayah yang bukan zona pertanian atau peternakan.
"itu karena mereka memiliki wilayah khusus di luar Ibukota. Dan di wilayah itulah mereka melakukan pertanian dan peternakan. Bahkan beberapa minuman keras juga berasal dari mereka."
"oooo.. Jadi begitu!"
Leo sudah mengerti.
Karena sudah malam, Leo memutuskan untuk pergi tidur.
"kalau begitu aku tidur dulu kek! Selamat malam!"
__ADS_1
Leo meninggalkan ruangan kerja Diego. Namun sebelum keluar, Diego memberitahukan sesuatu.
"oh iya! Kamu dicari sama ketua cabang asosiasi penyihir. Katanya kalau kamu ada disini, kamu harus datang ke asosiasi."
"memang ada apa?"
"mana aku tahu!"
"iya!"
Leo pergi dan menutup pintu.
"huh.. Akhirnya dia pergi. Sungguh merepotkan jika berurusan dengannya."
Diego lantas menatap salah satu lacinya.
"hehehehe..."
Senyum aneh muncul diwajahnya.
Ia membuka laci dan mengeluarkan puluhan surat.
"memang merepotkan punya cucu yang sangat hebat. Bahkan pelamarnya pun sangat banyak! Waktunya melihat-lihat calon istri untuk Leo! Hehehe..."
Diego membuka beberapa amplop yang isinya ada surat dan foto dari gadis yang di lamarkan kepada Leo.
"hehehe... Mereka sangat cantik, imut, dan lucu. Ini masih di foto saja. Bagaimana jika melihat secara langsung?"
Diego menatap foto para gadis kecil yang seumuran Leo. Tanpa Diego sadari, Leo masih berada di balik pintu dan tentu mendengar apa yang diucapkannya.
" Tok tok tok. FBI "
*
Besok paginya Leo berangkat menuju ke tempat yang telah ia rencanakan.
Leo berjalan dengan santai agar bisa menikmati suasana kota. Namun beberapa warga yang melihatnya membuat Leo merasa agak tidak nyaman.
'ini nih! Yang bikin aku tidak nyaman. Memang ada apa dengan wajahku? Apa aku terlalu tampan? Kenapa ekspresi mereka semua sama saat melihatku?'
Leo mempercepat jalannya karena sudah terlalu aneh baginya mendapat tatapan dari para warga.
Bahkan ia bisa merasakan ada beberapa gadis yang mengikutinya dari belakang.
Hingga akhirnya Leo memutuskan untuk berhenti di sebuah bar.
Leo masuk dan ekspresi orang yang ada di dalam juga hampir sama.
Meski sebelumnya mereka merasa aneh ada anak kecil yang masuk ke tempat para orang dewasa. Namun setelah fokus dan melihat wajah serta pakaiannya, mereka langsung merasa merinding dengan reputasi Leo.
Leo berjalan lalu duduk di depan bartender.
"Wine! Satu gelas!"
Bartender yang masih terkejut dengan kedatangan Leo, segera mengambil gelas dan wine.
"si.. Silahkan!"
Leo menerima segelas wine dan hendak meminumnya. namun berhenti karena ia merasakan jika dirinya sedang diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya.
Mereka menatap Leo dengan cukup intens.
Dengan cepat Leo menatap mereka balik dan membuat mereka langsung mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Leo kembali fokus pada minumannya.
"apa yang terjadi di kota ini? Kenapa tatapan mereka menjadi sangat aneh?"
Leo bertanya kepada bartender yang cukup kesulitan berdiri dengan Leo berada di depannya.
"ji.. Jika anda ingin tahu, anda bisa langsung pergi ke gedung guild untuk mengetahuinya."
Mendengar itu, Leo langsung menatap mata bartender yang langsung membuatnya gemetaran.
"huh.. Ambil saja kembaliannya!"
Leo menghabiskan minumannya dan langsung pergi.
"ada apa dengan kota ini? Huh.. Sebaiknya aku langsung ke guild saja!"
Leo menggunakan skill Full Assasin lalu menghilang. Membuat beberapa gadis yang mengikutinya menjadi bingung.
"huh? Kemana tuan Leonardo pergi?"
Sementara itu, Leo yang hampir sampai di gedung guild merasa ada yang aneh.
Leo berhenti tepat di atas gedung yang bersebrangan dengan guild.
Leo membuka mulut dan melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Gedung guild tampak seperti telah di renovasi besar-besaran. Halaman depan telah menjadi lebih luas. Bangunan utama guild menjadi lebih besar dan tinggi. Dengan warna putih dan beberapa lambang guild terpampang.
Jika orang asing melihat ini, maka mereka pasti akan mengira jika bangunan ini bukan guild. Melainkan penginapan mewah.
Namun bukan itu yang membuat Leo terkejut. Melainkan adanya dua patung setinggi tujuh meter berdiri tegak saling berhadapan. Dan salah satu dari kedua patung tersebut, adalah patung Leo lengkap dengan jubah dan senjatanya.
"apa-apaan ini?"
Leo kembali menghilang dan langsung menuju ruangan guild master.
Terlihat guild master yang sedang duduk dengan banyaknya dokumen berserakan di ruang kerjanya.
"arghhh... Kenapa pekerjaan banyak sekali?"
Guild master menggaruk kepalanya karena terlalu tertekan dengan jumlah pekerjaannya.
Namun suara seseorang membuat guild master menghentikan aksinya.
"ehem..."
Guild master segera menoleh ke arah suara dan melihat Leo sedang berdiri bersandar tembok.
"tu.. Tuan Leonardo!"
Guild master menjadi terkejut dengan kedatangan Leo yang tidak ia sadari. Bahkan pintu ruangannya pun tidak terbuka.
"bagaimana anda masuk?"
"itu tidak penting! Karena ada hal yang jauh lebih penting untuk kita bicarakan."
Leo berjalan untuk duduk di kursi dengan ekspresi poker face. Leo menatap mata guild master dengan sangat intens yang membuat guild master menjadi canggung.
'huh.. Ini lebih merepotkan dari pada mengerjakan pekerjaanku!' gumam guild master.
Guild master meninggalkan pekerjaan dan berjalan untuk duduk berhadapan dengan Leo.
Ia menghela napas sejenak lalu mulai berbicara. "jadi, pembicaraan ini di mulai dari mana?"
__ADS_1
"dari awal! Hingga akhir! Tanpa ada yang terlupakan dan disembunyikan. Aku ingin semua ini jelas hari ini juga!"
Leo tampak kesal dari wajahnya.