
Sosok wanita didepannya sangat cantik. Bagi manusia, umurnya terlihat seperti berumur 20 tahun.
Dengan bentuk tubuh yang aduhai. Kulitnya putih halus membuat Leo merasa ingin memakannya.
"sikat bro.. Mumpung aman! Gak ada orang!" setan di bahu kiri memengaruhi Leo untuk berbuat dosa.
"jangan bro.. Dosa!" malaikat di sebelah kanan memperingatkan Leo akan dosa. "entar aja di rumah!" 😑
Namun tidak terpengaruh godaan, Leo langsung sadar dan mengeluarkan jubah panjang miliknya.
Leo memakaikan jubah tersebut kepada wanita itu, namun masih dengan keadaan hidung yang mengeluarkan darah.
"Kau siapa?" Leo penasaran dengan sosok wanita tersebut.
"saya adalah Phinix. Keturunan terakhir ras Phoenix." jawaban Phinix membuat Leo terkejut.
'jadi beneran kalau wanita cantik ini adalah perubahan dari sang Phoenix?' sebelumnya Leo sudah menduga hal ini. Namun ia masih ragu.
Leo menatap Phinix yang sedang terduduk hingga ia menyadari ada yang aneh dengan penglihatannya.
Ia seperti melihat dirinya sendiri. Hingga ia tahu jika penglihatan dari Phinix terhubung dengannya.
Lebih tepatnya jika semua indra Phinix telah terhubung.
Leo ikut duduk dengan Phinix. "jadi, jelaskan apa yang terjadi dengan wujud Phoenixmu!"
Phinix mulai menjelaskan tanpa ada yang ia tutupi.
"sebelumnya saya minta maaf karena telah berani melakukan serangan kepada tuan." Phinix meminta maaf untuk serangan sebelumnya. Karena sekarang ia menjadi budak Leo, ia tidak ingin di benci oleh Leo.
"tidak masalah!" Leo tidak memperdulikan masalah serangan.
Mendengar pernyataan tersebut, Phinix sudah tenang dan melanjutkan Penjelasannya.
"setiap monster di dunia ini mampu mengubah wujudnya setelah melampaui tingkat tertinggi. Namun itu sangat langka. Bahkan untuk para makhluk legenda."
Oleh manusia kejadian ini disebut evolusi. Namun evolusi para beast hanya mengubah ukuran dan kekuatan saja.
" dan dalam kasus saya, saya mampu mengubah wujud saya karena menerima sejumlah besar mana dari tuan! Karena itu saya sekarang menjadi budak tuan!" Phinix tidak menyesal karena menjadi budak orang yang sangat kuat.
"jadi kau bisa kembali berubah menjadi bentuk burung Phoenix?" Leo memastikan jawaban yang ia inginkan.
"tentu tuan! Jika anda memerintahkan saya melakukan itu, maka saya akan mewujudkannya."
__ADS_1
Leo merasa senang dengan apa yang terjadi pada Phinix.
Lalu Leo mengingat tentang harta karun yang berada di puncak gunung Phoenix.
"apa kau tahu harta karun di puncak ini?" Leo bertanya kepada Phinix mengenai harta yang mungkin juga diketahui oleh Phinix.
"harta karun?" Phinix mengingat kembali tentang benda tersebut. Hingga ia ingat satu tempat yang belum ia telusuri hingga sekarang di puncak gunung ini.
"saya tidak tahu dengan harta yang tuan maksud. Namun ada satu tempat yang belum saya telusuri hingga sekarang."
Leo penasaran dengan tempat yang Phinix maksud. "tempat apa itu? Dimana lokasinya."
"kalau begitu silahkan ikuti saya tuan!"
Leo berjalan mengikuti Phinix. Mereka menuju ke gua kecil yang berada di pinggir kawah.
"ini tuan!" Phinix memperlihatkan lubang gua berukuran 1,5 meter.
'pantas saja ia tidak menyelidiki tentang gua ini. Ukuran tubuhnya tidak akan muat jika masuk dengan bentuk Phoenixnya.'
Leo mencoba untuk menyebarkan mananya guna memeriksa aliran mana dari dalam gua. Namun ia tidak bisa merasakan sama sekali aliran mana. Bahkan struktur dari gua sendiri tidak terdeteksi.
"sepertinya ada sebuah penghalang yang memblokir skill deteksi dari luar."
"ayo kita masuk untuk memeriksanya." Leo masuk di ikuti Phinix yang merunduk.
Dalam perjalanan, mereka menemukan tangga menuju bawah. Tangganya berbentuk spiral dengan jauh yang tidak diketahui oleh Leo.
Mereka menurun tangga cukup lama. Namun masih belum sampai di ujung tangga. Mereka terus berjalan tanpa tahu berapa lama mereka akan sampai.
"seberapa jauh panjang tangga ini?" Leo bergumam meratapi jarak dari tangga yang ia turuni.
Phinix merasa khawatir dengan kondisi tuannya yang tampak mulai emosi mendapatkan jalan tangga yang sangat jauh.
"tuan tidak apa-apa? Apa sebaiknya kita beristirahat dulu?" suara indah Phinix menyadarkan Leo dari masalah di depannya.
Namun karena tidak ingin menunda perjalanan, ia berniat untuk terus berjalan menuruni tangga. "aku tidak apa-apa! Kita akan terus berjalan."
Mereka melanjutkan perjalanan tanpa istirahat sama sekali. Berjam - jam masih belum menjumpai ujung dari tangga.
Leo semakin kesal hingga akhirnya mereka berhasil sampai di dasar. 'akhirnya sampai juga!'
Terdapat ruangan kubus dengan panjang kurang lebih 10 meter. Leo memperhatikan sekitar lalu mulai berjalan menuju tengah ruangan.
__ADS_1
Perasaan aneh bisa Leo rasakan. Namun ia tidak tahu asal dari perasaan aneh tersebut.
Leo mencoba menyebarkan mana namun semua mana Leo malah terpantul oleh dinding batu.
"ada apa tuan?" Phinix semakin khawatir dengan sikap Leo yang seperti tidak merasa nyaman.
"ada yang aneh disini!" Leo berkeliling ruangan sambil memeriksa setiap sisi tembok.
Ia penasaran dengan bahan dari tembok ruangan tersebut. Leo tidak mengetahui jenis material yang digunakan pada tembok. Apa lagi jenis yang mampu memantulkan mana.
Leo mencoba menyerang salah satu sisi tembok namun serangannya malah memantul menuju ke bagian tengah ruangan lalu menghilang.
Seakan mendapat petunjuk, Leo mencoba menyerang setiap sisi tembok. Dan pada akhirnya serangannya memantul menuju ke tengah ruangan. Bahkan dengan memprediksi arah pantulannya ke arah lain, namun masih tetap menuju ke arah tengah ruangan.
Leo mengeluarkan pedangnya dan menebas bagian tengah ruangan. Berharap tebakannya benar kalau bagian tengah merupakan sebuah rune sihir.
Serangan pedang ditambah dengan sihir api ia gunakan. Namun Leo tidak menebas apapun. Sebaliknya sihir apinya terlihat terserap menuju ke sisi atas.
"semoga tebakanku benar." Leo menancapkan pedangnya kearah tengah atas.
Sebuah ledakan kecil terjadi dan perasaan Leo kembali normal. Beberapa goresan rune sihir terlihat di setiap sisi dinding lalu menghilang.
Beranggapan jika sihir sudah mampu menyerang tembok, Leo menggunakan sihir elemen angin untuk mencobanya.
Usahanya berhasil dan tembok sudah terlihat terdapat kerusakan.
Phinix yang melihat Leo berhasil, merasa bangga dan senang. Ia terus memperhatikan Leo menyerang setiap tembok hingga di tembok terakhir, mereka menemukan sesuatu yang membuat Leo kembali kesal.
Terdapat tangga lain yang menuju ke bawah.
"sialan! Tangga lagi. Lama-lama aku bisa alergi dengan tangga." Leo sangat kesal dengan munculnya tangga.
"hah... Baiklah ayo kita turun." Leo menghilangkan rasa kesalnya dan berharap jika tangga yang ini tidak sepanjang tangga pertama.
Phinix merasa mulai diperhatikan oleh Leo menjadi senang. "baiklah! Tuan!"
Mereka turun menuju bawah. Namun tidak disangka, tangga kedua ini tidak sepanjang tangga pertama.
Mungkin menurun sekitar 100 anak tangga hingga mereka berhasil berada di ujungnya.
Leo tersenyum dengan apa yang ia dapatkan. Di depannya, terdapat sebuah ruangan dengan altar di tengahnya.
Lalu tepat di dalam ruangan tersebut Leo dan Phinix merasakan kekuatan mana yang sangat tinggi. Setelah menelisik sejumlah asalh dari kekuatan tersebut dan berakhir di sebuah benda yang terdapat di atas altar.
__ADS_1
"Keris Pasopati!" teriak Leo.